Kekeringan hingga Oktober, DPRD Gunungkidul Siapkan Rp400 Juta
DPRD Gunungkidul mendorong tambahan Rp400 juta untuk dropping air karena alokasi 3.000 tangki diperkirakan habis sebelum kekeringan berakhir.
Sebuah unggahan video yang viral di sosial media soal dugaan kemunculan buaya di Sungai Progo, Padukuhan Juwono, Kalurahan Triharjo, Pandak, menuai polemik. Video soal penampakan buaya itu diunggah ulang oleh akun resmi Instagram @pemkabbantul, Lurah Triharjo menyatakan tak ada warga yang mengetahui keberadaan buaya tersebut. /Instagram.
Harianjogja.com, BANTUL—Sebuah unggahan video yang viral di sosial media soal dugaan kemunculan buaya di Sungai Progo, Padukuhan Juwono, Kalurahan Triharjo, Pandak, menuai polemik. Video soal penampakan buaya itu diunggah ulang oleh akun resmi Instagram @pemkabbantul, Lurah Triharjo menyatakan tak ada warga yang mengetahui keberadaan buaya tersebut.
Kepala Bidang Pengelolaan Informasi dan Komunikasi Publik Diskominfo Bantul, Arif Darmawan mengatakan, unggahan itu hanya repost dari akun media sosial lain. “Kemarin repost dari Facebook saja,” ujarnya Kamis (15/5/2025).
BACA JUGA:Mafia Tanah Kas Desa di Gunungkidul, Lurah Sampang Gedangsari Dituntut 2 Tahun Penjara
Arif menepis anggapan unggahan itu menyebarkan hoaks. Menurutnya, tujuan utama adalah memperingatkan masyarakat agar lebih waspada. “Kami fokus memberikan peringatan bagi warga yang beraktivitas di Sungai Progo untuk lebih berhati-hati,” katanya.
Soal permintaan agar unggahan tersebut dihapus, Arif menyebut tidak perlu dilakukan. Pasalnya, keterangan dalam unggahan itu sudah memberi penegasan bahwa keberadaan buaya masih sebatas dugaan. “Tidak (dihapus), karena dalam keterangan kami tulis 'diperkirakan',” jelasnya.
Sebelumnya, video berdurasi sekitar 20 detik yang menunjukkan seekor buaya diduga tengah berenang di Sungai Progo sempat menghebohkan warga. Video itu pertama kali diunggah oleh akun Facebook bernama Antok Tejo pada Selasa (13/5/2025).
Namun Lurah Triharjo, Suwardi, meragukan keaslian kemunculan buaya tersebut. Ia menyatakan, tidak ada satu pun warga atau tokoh masyarakat yang mengetahui atau menyaksikan langsung peristiwa itu. “Saya bingung, apakah ada motif lain menyebar informasi ini. Apalagi aktivitas penambangan pasir di lokasi itu sedang disorot,” ujarnya.
BACA JUGA: 3 Tersangka Perundungan PPDS Undip Dilimpahkan ke Kejaksaan
Meski demikian, Suwardi tetap meminta warga yang beraktivitas di bantaran Sungai Progo – baik petani maupun penambang pasir untuk meningkatkan kewaspadaan. Ia juga berharap pihak terkait segera turun tangan untuk memastikan kebenaran informasi ini. “Kalau benar, tentu ini membahayakan,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
DPRD Gunungkidul mendorong tambahan Rp400 juta untuk dropping air karena alokasi 3.000 tangki diperkirakan habis sebelum kekeringan berakhir.
Empat anak Michael Bambang Hartono menerima warisan saham senilai sedikitnya US$2,93 miliar dari perusahaan induk keluarga Hartono.
Perizinan training ground PSS Sleman disebut sudah lengkap. Pemkab Sleman kini tinggal menunggu persetujuan Kementerian ATR.
Meutya Hafid menyebut data pemerintah yang terhubung penting untuk memastikan perlindungan sosial tepat sasaran dan tidak ada warga yang terlewat.
Lamborghini Temerario hadir di Indonesia dengan mesin V8 twin-turbo dan teknologi elektrifikasi yang menghasilkan tenaga hingga 920 PS.
KAI Daop 6 Jogja menegaskan pelaku pelecehan seksual dapat masuk blacklist dan dilarang menggunakan kereta api hingga 20 tahun.