Penanganan 11 Bayi di Pakem Disorot, Polisi Bentuk Tim Khusus
Polresta Sleman bentuk tim khusus untuk selidiki kasus 11 bayi di Pakem, termasuk dugaan adopsi ilegal dan TPPO.
Kapolri, Jenderal Listyo Sigit Prabowo (kiri) ditemui usai menghadiri Srawung Agung Kelompok Jaga Warga di Halaman Mapolda DIY pada Jumat (21/11/2025)./Harian Jogja -- Catur Dwi Janati
Harianjogja.com, SLEMAN—Kapolri, Jenderal Listyo Sigit Prabowo, mengungkap fenomena baru terkait keterpaparan paham terorisme pada anak lewat gim daring. Temuan tersebut muncul setelah kepolisian melakukan pendalaman terhadap sejumlah komunitas hobi yang ternyata menjadi pintu masuk penyebaran paham radikal.
“Beberapa waktu ini kami menemukan fenomena baru, tren baru yang harus menjadi perhatian bersama. Dari hasil pendalaman terhadap kelompok-kelompok komunitas yang memiliki hobi awalnya, ternyata di dalamnya ada potensi terpapar oleh jenis-jenis permainan di gim online,” kata Listyo di Mapolda DIY, Jumat (21/11/2025).
Menurutnya, tren ini dapat membahayakan bila dibiarkan tanpa pengawasan. Pemahaman yang keliru tersebut dikhawatirkan dapat mengancam keselamatan masyarakat.
“Kami terus dalami. Jangan sampai ini menjadi satu pemahaman yang diikuti karena kalau dibiarkan tentu akan berdampak pada terganggunya keselamatan masyarakat dan jiwa orang lain,” ujarnya.
Listyo menekankan pentingnya peran masyarakat dalam pencegahan, mulai dari lingkungan keluarga hingga pendidikan. Pelibatan berbagai pihak dianggap penting untuk mengawal perkembangan anak di tengah derasnya arus teknologi informasi.
“Pelibatan masyarakat dari awal, baik dari lingkungan keluarga, pendidikan, maupun seluruh stakeholder menjadi sangat penting untuk pencegahan,” jelasnya.
Ia berharap edukasi sejak dini dapat menjaga anak-anak dari paparan paham berbahaya. Anak juga perlu didampingi agar pemanfaatan teknologi benar-benar memberi manfaat, bukan sebaliknya.
“Perhatian kita kepada anak-anak jangan dilepas. Bagaimana kita mengontrol dan memberikan edukasi, sehingga perkembangan teknologi bisa membantu, bukan menjadikan generasi kita menjadi korban,” tegasnya.
Sebelumnya, Densus 88 Antiteror Polri mencatat ada 110 anak berusia 10–18 tahun yang direkrut jaringan teroris sepanjang 2025. Karopenmas Divisi Humas Polri, Brigjen Trunoyudo Wisnu Andiko, menyebut anak-anak itu tersebar di 23 provinsi dan direkrut melalui media sosial hingga gim daring yang digunakan sebagai sarana propaganda bertahap.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Polresta Sleman bentuk tim khusus untuk selidiki kasus 11 bayi di Pakem, termasuk dugaan adopsi ilegal dan TPPO.
Kemenag Sleman memetakan 1.039 lokasi Salat Iduladha 2026. Ngemplak terbanyak, Moyudan jadi wilayah dengan jemaah terpadat.
Bank Jateng dukung Rakernas ADPLK 2026 untuk memperkuat industri DPLK yang modern, inovatif, dan berintegritas.
Sapi kurban Presiden Prabowo dikirim ke Pulau Laut Natuna lewat perjalanan laut penuh tantangan demi warga perbatasan Indonesia.
Kasus Little Aresha memasuki babak baru setelah Polresta Jogja menambah pasal UU Sisdiknas dan memeriksa 152 saksi.
Sekolah Rakyat Prabowo resmi beroperasi di 166 lokasi. Sebanyak 15.945 siswa menikmati pendidikan gratis berbasis asrama.