Cabai Rawit di Sleman Rp70.000 per Kg, Disperindag Sebut Belum Ada Kelangkaan
Harga cabai rawit di Sleman mencapai Rp70.000 per kilogram. Disperindag memastikan stok di pasar masih aman meski pasokan berkurang.
Gunung Merapi Jogja meluncurkan lava pijar. - Ilustrasi/Antara
Harianjogja.com, SLEMAN—Dua gempa tektonik yang mengguncang wilayah sekitar Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam satu hari pada Selasa (27/1/2026) dipastikan tidak memicu perubahan aktivitas vulkanik Gunung Merapi. Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) menyatakan kondisi Merapi tetap stabil usai peristiwa tersebut.
Guncangan pertama dilaporkan terjadi di wilayah Kabupaten Pacitan pada pagi hari, disusul gempa tektonik kedua yang tercatat di Kabupaten Bantul pada siang hari. Meski berbeda lokasi dan waktu kejadian, kedua gempa itu dirasakan hingga pos pengamatan Gunung Merapi.
Kepala BPPTKG, Agus Budi Santoso, menjelaskan getaran akibat dua gempa tersebut turut dirasakan petugas di Pos Pengamatan Gunung Merapi Babadan-Magelang.
“Hari ini Selasa, 27 Januari 2026 di wilayah sekitar DIY masyarakat merasakan 2 kali gempa tektonik, bahkan dilaporkan dari Pos Pengamatan Gunung Merapi Babadan-Magelang juga merasakan gempa tektonik tersebut,” ungkap Agus.
Menurut Agus, aktivitas kegempaan itu terekam oleh stasiun pemantauan yang terpasang di kawasan Gunung Merapi. Namun hingga saat ini tidak ditemukan indikasi peningkatan aktivitas vulkanik pascagempa.
“Stasiun pemantauan kegempaan di Gunung Merapi juga merekam gempa tersebut. Sampai dengan saat ini tidak tampak adanya tanda-tanda peningkatan aktivitas Gunung Merapi,” tandasnya.
Ia menambahkan, hasil pemantauan lanjutan menunjukkan tidak ada perubahan mencolok pada sejumlah parameter kebencanaan, baik dari sisi kegempaan maupun deformasi permukaan.
“Baik dari parameter pemantauan kegempaan maupun deformasi Ground-Based Interferometric Synthetic Aperture Radar (GB-InSAR) Stasiun Turgo dan Babadan tidak menunjukkan anomali data setelah kejadian tersebut,” tegas Agus.
Sementara itu, Kepala Stasiun Geofisika Sleman, Ardhianto Septiadhi, mengonfirmasi terjadinya gempa bumi di wilayah Bantul pada Selasa (27/1/2026) sekitar pukul 13.15 WIB.
Ia menjelaskan pusat gempa berada sekitar 16 kilometer arah timur Bantul dengan kedalaman 11 kilometer. Gempa tersebut bermagnitudo 4,4 yang kemudian diperbarui menjadi 4,5.
“Jadi memang betul sumbernya adalah di Sesar Opak dan dirasakan di hampir seluruh wilayah kabupaten/kota di DIY dengan intensitas maksimal adalah 4 MMI (Modified Mercalli Intensity (MMI),” jelas Ardhianto.
Ardhianto juga menerangkan bahwa gempa di Bantul dan Pacitan memiliki karakteristik berbeda berdasarkan sumbernya. Gempa Bantul berasal dari aktivitas Sesar Opak, sedangkan gempa Pacitan dipicu pergerakan lempeng subduksi.
“Sumber-sumber gempa di Indonesia itu dimonitor 24 jam oleh BMKG dan setiap hari itu sebenarnya ada gempa, namun tidak semua dirasakan masyarakat,” ungkapnya.
Ia menegaskan kedua gempa tersebut tidak saling berhubungan karena berasal dari sistem tektonik yang berbeda. “Nggih, gempa dengan sumber yang berbeda. Jadi tidak berkaitan,” tukas Ardhianto.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Harga cabai rawit di Sleman mencapai Rp70.000 per kilogram. Disperindag memastikan stok di pasar masih aman meski pasokan berkurang.
Joan Mir meninggalkan Honda untuk bergabung dengan Gresini pada MotoGP 2027. Ia mengaku sempat berharap Honda kembali kompetitif.
Jadwal final bulu tangkis Asian Games 2026 menampilkan Amri/Nita dan Leo/Daniel. Simak jam, lawan, venue, dan siaran langsung.
Manchester City dinyatakan bersalah atas 114 dari 115 dakwaan. Ferran Soriano menegaskan proses hukum masih panjang dan klub akan melawan.
Discord mulai menerapkan verifikasi usia global. Lebih dari 90% pengguna tak perlu unggah ID, tetapi sejumlah fitur akan dibatasi.
Italia menang 4-1 atas Turki di UEFA Nations League. Pio Esposito mencetak gol sekaligus mengukir catatan sejarah bersama Azzurri.