Advertisement

Dokter RSA UGM Ungkap Ciri Leptospirosis di Musim Hujan

Catur Dwi Janati
Rabu, 11 Februari 2026 - 22:37 WIB
Jumali
Dokter RSA UGM Ungkap Ciri Leptospirosis di Musim Hujan Ilustrasi leptospirosis, - JIBI

Advertisement

Harianjogja.com, SLEMAN—Kasus leptospirosis saat musim hujan perlu diwaspadai warga Sleman. Dokter RSA UGM, Noviantoro Sunarko Putro, memaparkan gejala khas hingga risiko berat penyakit yang dipicu bakteri Leptospira interrogans.

Ia menerangkan bahwa leptospirosis merupakan penyakit zoonosis yang paling sering ditularkan dari hewan ke manusia. Penyakit yang disebabkan oleh bakteri Leptospira interrogans ini tidak hanya menginfeksi tikus, tetapi juga pada mamalia lain seperti kucing, anjing, sapi, babi, kambing hingga domba.

Advertisement

"Bakteri Leptospira interrogans dapat bertahan di kandung kemih tikus selama berbulan-bulan dan dikeluarkan melalui urin sehingga berpotensi menularkan infeksi ke lingkungan dalam waktu lama," terang pria yang akrab disapa Koko pada Rabu (11/2/2026).

Gejala leptospirosis pada tahap awal umumnya ringan, seperti demam, sakit kepala, menggigil, dan nyeri otot. Namun, terdapat ciri khas berupa nyeri pada otot betis, punggung, dan perut yang perlu diwaspadai.

Pada kondisi berat, leptospirosis dapat memicu perdarahan, tubuh menguning akibat gangguan fungsi hati, serta gagal ginjal akut yang ditandai berkurangnya produksi urin.

"Akibatnya, racun yang seharusnya dibuang lewat kencing jadi menumpuk di dalam dan meracuni tubuh," tuturnya.

Dari sisi penularan, bakteri Leptospira interrogans dapat masuk melalui kulit yang terluka maupun mukosa seperti kelopak mata dan rongga mulut. Bakteri ini mampu bertahan lama di lingkungan lembap dan air tergenang, seperti got, kolam, sungai berarus lambat, hingga genangan air lainnya selama berbulan-bulan.

Karakteristik bakteri inilah yang kata Koko membuat musim hujan menjadi faktor risiko utama penularan penyakit leptospirosis. Karenanya, dia menyarankan agar masyarakat untuk menghindari kontak dengan air tergenang dan menggunakan alat pelindung diri. Alat pelindung diri yang dimaksud Koko merujuk pada sarung tangan dan sepatu bot.

Selain pencegahan, Koko menekankan pentingnya pemeriksaan medis apabila muncul gejala berat. Informasi riwayat paparan lingkungan sangat membantu dokter dalam menegakkan diagnosis.

Kondisi itu dinilai Koko sangat krusial karena secara klinis maupun pemeriksaan laboratorium, leptospirosis kerap sulit dibedakan dari penyakit lain seperti demam berdarah dengue (DBD) dan tifus.

"Hal tersebut tidak sepenuhnya keliru selama pasien tetap berada dalam pengawasan ketat. DBD itu risiko kematiannya bisa terjadi di minggu-minggu pertama, sedangkan Leptospirosis bisa minggu kedua atau setelahnya," ujarnya.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak panik apabila mengalami gejala leptospirosis. Segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan dan patuhi seluruh anjuran medis untuk mencegah komplikasi lebih lanjut.

"Dengan penanganan yang tepat, termasuk perawatan intensif bila diperlukan, peluang pemulihan tetap tinggi selama fase kritis dapat dilalui," tukasnya.

Dengan meningkatnya risiko leptospirosis saat musim hujan, menjaga kebersihan lingkungan dan meminimalkan paparan air tergenang menjadi langkah penting, mengingat manusia tidak dapat mengontrol keberadaan tikus sebagai sumber penularan penyakit ini di sekitar permukiman.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Berita Pilihan

Advertisement

Viral Korban Penganiayaan Kapuk Dilaporkan, Ini Respons Kuasa Hukum

Viral Korban Penganiayaan Kapuk Dilaporkan, Ini Respons Kuasa Hukum

News
| Rabu, 11 Februari 2026, 19:47 WIB

Advertisement

Festival Sakura 2026 di Arakurayama Batal, Turis Jadi Sorotan

Festival Sakura 2026 di Arakurayama Batal, Turis Jadi Sorotan

Wisata
| Rabu, 11 Februari 2026, 21:17 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement