Advertisement
Ribuan Penderita Hipertensi Gunungkidul Belum Rutin Berobat
Ilustrasi. - Freepik
Advertisement
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Sebanyak 16.989 warga Gunungkidul tercatat menderita hipertensi pada 2025. Namun, ribuan di antaranya belum tertib menjalani kontrol rutin di fasilitas kesehatan.
Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Dinkes Gunungkidul, Musiyanto, mengatakan kesadaran masyarakat terhadap bahaya hipertensi masih rendah. Padahal, pasien yang telah didiagnosis diminta menjalani kontrol minimal sebulan sekali di puskesmas atau fasilitas kesehatan lainnya.
Advertisement
“Memang masih banyak penderita yang belum rutin berobat. Padahal, untuk pasien yang sudah tegak diagnosanya diminta kontrol setiap bulan sekali ke puskesmas atau fasilitas kesehatan lainnya,” kata Musiyanto, Senin (23/2/2026).
Ia menjelaskan, edukasi tidak hanya berkaitan dengan dampak tekanan darah tinggi, tetapi juga disertai pemberian buku kontrol untuk mendorong kepatuhan berobat.
BACA JUGA
“Tren dari hipertensi terus meningkat di tiap tahunnya. Penyakit ini tidak bisa disembuhkan, tapi bisa dikendalikan sehingga tidak terjadi fatalitas,” katanya.
Menurutnya, pola hidup menjadi salah satu faktor dominan pemicu hipertensi. Konsumsi makanan cepat saji (junk food) serta kebiasaan tidak sehat lainnya berkontribusi terhadap peningkatan kasus. Selain itu, faktor genetik juga berpengaruh karena riwayat hipertensi dalam keluarga dapat meningkatkan risiko pada anak.
“Memang ada faktor genetik karena hipertensi bisa diturunkan dari orang tua ke anak,” katanya.
Berdasarkan data Dinkes, pada 2025 terdapat 16.969 warga yang mengidap hipertensi. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Pada 2021 tercatat 6.074 kasus, kemudian meningkat menjadi 10.155 kasus pada 2022.
Jumlah penderita sempat turun pada 2023 menjadi 9.752 kasus, tetapi kembali naik pada 2024 dengan 11.456 penderita, sebelum melonjak di 2025.
Ketua Komisi D DPRD Gunungkidul, Heri Purwanto, mengatakan dari total 16.969 penderita, sebanyak 8.444 orang belum tertib menjalani kontrol rutin.
“Tapi belum semuanya rutin berobat karena ada sebanyak 8.444 penderita yang belum tertib kontrol terhadap penyakit yang diderita,” katanya.
Ia meminta Dinas Kesehatan terus menggencarkan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat. Menurutnya, hipertensi berisiko memicu penyakit serius seperti stroke hingga kematian apabila tidak dikendalikan dengan baik.
“Pemkab harus fokus untuk penanganan. Kampanye pola hidup sehat di masyarakat harus terus digalakkan. Bagi penderita juga wajib diedukasi untuk berobat secara rutin,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Advertisement
Bioskop Nyaman Rp5 Ribu di Museum Sonobudoyo Masih Sepi Peminat
Advertisement
Berita Populer
- Duel Remaja di Pakualaman Jogja Terbongkar, Dua Pelajar Luka Parah
- Puluhan Telur Piton Ditemukan di Selokan Permukiman Warga Gunungkidul
- Libur Lebaran Ramai, Kamar Hotel DIY Justru Banyak Kosong
- Catat, Ini Lokasi dan Tarif Parkir Resmi Kota Jogja Tahun 2026
- Pengolahan Mandiri Efektif, Sampah Residu di Demangan Jogja Berkurang
Advertisement
Advertisement








