UGR JJLS Kulonprogo Rp320 Miliar Belum Cair, Warga Menunggu 6 Tahun
UGR pembebasan lahan JJLS Kulonprogo senilai lebih dari Rp320 miliar belum cair. Warga terdampak menunggu kepastian setelah enam tahun tertunda.
Nelayan sedang bekerja sama mendorong kapal ke pantai, di Pantai Bugel, Panjatan, Kulonprogo. - dok/Harian Jogja
Harianjogja.com, KULONPROGO—Nelayan di pesisir selatan Kabupaten Kulonprogo sudah beberapa pekan terakhir tidak melaut. Memasuki Ramadan, mereka bahkan belum sekali pun pergi ke lepas pantai untuk menangkap ikan karena cuaca tidak bersahabat dan hasil tangkapan yang minim.
Ketua DPC Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia Kulonprogo, Suratiman, mengatakan angin kencang dan hujan yang terus turun menyebabkan arus laut bergerak deras ke arah timur. Kondisi itu membuat ikan sulit ditangkap.
“Ketika arusnya tidak kencang atau cenderung ke arah barat, ikan mulai banyak,” katanya saat dikonfirmasi, Kamis (26/2/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut merata dirasakan nelayan di sepanjang pesisir Kulonprogo. Pada Kamis pagi, hujan dan angin kencang kembali terjadi sehingga tidak memungkinkan untuk melaut. Nelayan Pantai Trisik, Galur itu mengaku terakhir melaut pada awal Februari.
Saat itu, hasil tangkapan masih mencapai sekitar tiga kuintal dalam satu tempat pelelangan ikan (TPI). Namun seusai arus kembali deras, tangkapan merosot tajam. Bahkan, nelayan hanya memperoleh sekitar 10 kilogram ikan per kapal.
Suratiman belum bisa memastikan sampai kapan kondisi ini berlangsung. Ia berharap cuaca membaik pada Maret sehingga nelayan bisa kembali melaut dengan hasil tangkapan lebih baik.
Dalam situasi seperti ini, sebagian nelayan beralih profesi sementara menjadi petani. Suratiman sendiri mengaku fokus bertani hortikultura selama tidak melaut.
Sementara itu, Koordinator Satlinmas Rescue Istimewa Wilayah V Glagah, Aris Widihatmoko, membenarkan adanya peningkatan angin, hujan, dan gelombang tinggi di pesisir selatan Kulonprogo dalam beberapa hari terakhir.
Ia mengingatkan kondisi tersebut berbahaya jika nelayan memaksakan diri melaut. Berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), hujan disertai angin kencang masih berpotensi terjadi dalam beberapa hari ke depan.
“Pantauan kami memang ada peningkatan angin dan hujan ditambah gelombang tinggi sehingga perairan cukup berbahaya karena ombaknya tinggi,” ujarnya.
Menurut Aris, ombak besar dapat membuat kapal nelayan rentan terbalik atau tenggelam. Selain mengancam keselamatan jiwa, kerusakan kapal juga menimbulkan kerugian besar.
Ia menyebut risiko seperti mesin mati saat diterjang ombak, jaring terlempar, hingga badan perahu patah atau pecah kerap terjadi apabila nelayan memaksakan melaut saat cuaca ekstrem.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
UGR pembebasan lahan JJLS Kulonprogo senilai lebih dari Rp320 miliar belum cair. Warga terdampak menunggu kepastian setelah enam tahun tertunda.
DLH Kulonprogo bergerak cepat membersihkan 3 ton sampah pasca event di Alun-alun Wates. Retribusi sampah diperkirakan hampir Rp2,3 juta.
Sebanyak 104 warga Distrik Manggelum mengungsi ke Tanah Merah setelah gangguan keamanan dan dugaan aksi KKB di Boven Digoel.
Jadwal KRL Jogja–Solo Senin 8 Juni 2026 lengkap dari Stasiun Yogyakarta hingga Palur. Tersedia 14 perjalanan dengan tarif Rp8.000.
Kebocoran pipa gas Pertamina EP di Babelan, Bekasi, berhasil ditangani kurang dari 90 menit. Aliran gas dihentikan untuk cegah risiko lanjutan.
Jadwal KRL Solo–Jogja Senin 8 Juni 2026 tersedia 12 perjalanan dari Palur ke Yogyakarta. Cek jam keberangkatan dan tarif terbaru Rp8.000.