Advertisement

Ramadan, Nelayan Kulonprogo Tak Melaut akibat Cuaca

Khairul Ma'arif
Kamis, 26 Februari 2026 - 18:57 WIB
Jumali
Ramadan, Nelayan Kulonprogo Tak Melaut akibat Cuaca Nelayan sedang bekerja sama mendorong kapal ke pantai, di Pantai Bugel, Panjatan, Kulonprogo. - dok - Harian Jogja

Advertisement

Harianjogja.com, KULONPROGO—Nelayan di pesisir selatan Kabupaten Kulonprogo sudah beberapa pekan terakhir tidak melaut. Memasuki Ramadan, mereka bahkan belum sekali pun pergi ke lepas pantai untuk menangkap ikan karena cuaca tidak bersahabat dan hasil tangkapan yang minim.

Ketua DPC Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia Kulonprogo, Suratiman, mengatakan angin kencang dan hujan yang terus turun menyebabkan arus laut bergerak deras ke arah timur. Kondisi itu membuat ikan sulit ditangkap.

Advertisement

“Ketika arusnya tidak kencang atau cenderung ke arah barat, ikan mulai banyak,” katanya saat dikonfirmasi, Kamis (26/2/2026).

Menurutnya, kondisi tersebut merata dirasakan nelayan di sepanjang pesisir Kulonprogo. Pada Kamis pagi, hujan dan angin kencang kembali terjadi sehingga tidak memungkinkan untuk melaut. Nelayan Pantai Trisik, Galur itu mengaku terakhir melaut pada awal Februari.

Saat itu, hasil tangkapan masih mencapai sekitar tiga kuintal dalam satu tempat pelelangan ikan (TPI). Namun seusai arus kembali deras, tangkapan merosot tajam. Bahkan, nelayan hanya memperoleh sekitar 10 kilogram ikan per kapal.

Suratiman belum bisa memastikan sampai kapan kondisi ini berlangsung. Ia berharap cuaca membaik pada Maret sehingga nelayan bisa kembali melaut dengan hasil tangkapan lebih baik.

Dalam situasi seperti ini, sebagian nelayan beralih profesi sementara menjadi petani. Suratiman sendiri mengaku fokus bertani hortikultura selama tidak melaut.

Sementara itu, Koordinator Satlinmas Rescue Istimewa Wilayah V Glagah, Aris Widihatmoko, membenarkan adanya peningkatan angin, hujan, dan gelombang tinggi di pesisir selatan Kulonprogo dalam beberapa hari terakhir.

Ia mengingatkan kondisi tersebut berbahaya jika nelayan memaksakan diri melaut. Berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), hujan disertai angin kencang masih berpotensi terjadi dalam beberapa hari ke depan.

“Pantauan kami memang ada peningkatan angin dan hujan ditambah gelombang tinggi sehingga perairan cukup berbahaya karena ombaknya tinggi,” ujarnya.

Menurut Aris, ombak besar dapat membuat kapal nelayan rentan terbalik atau tenggelam. Selain mengancam keselamatan jiwa, kerusakan kapal juga menimbulkan kerugian besar.

Ia menyebut risiko seperti mesin mati saat diterjang ombak, jaring terlempar, hingga badan perahu patah atau pecah kerap terjadi apabila nelayan memaksakan melaut saat cuaca ekstrem.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Berita Pilihan

Advertisement

YouTuber Korea Klaim Dirinya Yesus, Raup Donasi Rp587 Miliar

YouTuber Korea Klaim Dirinya Yesus, Raup Donasi Rp587 Miliar

News
| Kamis, 26 Februari 2026, 19:47 WIB

Advertisement

Nawang Senja Jadi Spot Ngabuburit Favorit di Pantai Glagah

Nawang Senja Jadi Spot Ngabuburit Favorit di Pantai Glagah

Wisata
| Selasa, 24 Februari 2026, 13:47 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement