Gunungkidul Siaga Kekeringan hingga Agustus, BPBD Siapkan 1.500 Tangki
BPBD Gunungkidul menetapkan siaga darurat kekeringan hingga 31 Agustus 2026. Sebanyak 1.500 tangki air disiapkan untuk mengantisipasi krisis air bersih.
Sejumlah petugas sedang mengecek kondisi Rrumah Mbah Paimin yang ambruk, Sabtu (28/2/2025). - Foto istimewa BPBD Gunungkidul
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Rumah milik warga lansia bernama Paimin, 60, di Padukuhan Grogol 1, Kalurahan Grogol, Kapanewon Paliyan, Gunungkidul ambruk rata dengan tanah pada Sabtu, (28/2/2026) akibat angin kencang. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul memastikan tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut, meski kerugian ditaksir mencapai Rp10 juta.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Gunungkidul Edy Winarta menjelaskan peristiwa terjadi sekitar pukul 08.00 WIB. Rumah berbentuk limasan tersebut roboh diduga karena terpaan angin kencang, ditambah kondisi bangunan yang sudah lapuk serta struktur rumah yang sebelumnya dalam keadaan miring.
“Pemilik dapat menyelamatkan diri sehingga tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini,” kata Edy, Sabtu sore, (28/2/2026).
Seusai menerima laporan, petugas BPBD langsung menuju lokasi untuk melakukan pendataan kerusakan sekaligus berkoordinasi dengan pemerintah setempat terkait upaya penanganan. Perbaikan rumah rencananya dilakukan secara gotong royong oleh warga sekitar dengan dukungan bantuan logistik dari BPBD Gunungkidul.
“Kerugian akibat peristiwa ini ditaksir mencapai Rp10 juta. Kami juga akan memberikan bantuan logistik saat kerja bakti berlangsung,” katanya.
Salah seorang warga Padukuhan Grogol, Suro, mengatakan korban tinggal seorang diri di rumah tersebut setelah anak dan istrinya meninggal dunia beberapa tahun lalu. Saat kejadian korban berada di dalam rumah, namun hanya mengalami luka ringan karena berhasil menyelamatkan diri.
“Saat kejadian Mbah Paimin ada di rumah, tapi hanya mengalami luka ringan karena bisa menyelamatkan diri,” kata Suro.
Saat ini korban telah dibawa ke rumah saudaranya untuk mendapatkan perawatan sekaligus tempat tinggal sementara, mengingat kondisi rumah yang dimiliki sudah tidak dapat ditempati lagi seusai ambruk.
Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul Purwono mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem yang masih terjadi. Sebagai langkah kesiapsiagaan, status siaga darurat bencana hidrometeorologi di wilayah Gunungkidul telah diperpanjang hingga 31 Maret 2026.
Perpanjangan status tersebut sebelumnya dijadwalkan berakhir pada 31 Januari 2026, namun diperpanjang mengikuti kebijakan Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) serta prakiraan musim hujan yang diprediksi berlangsung hingga pertengahan April.
“Penetapan status ini juga sebagai bentuk kesiapsiagaan untuk menghadapi adanya potensi bencana di musim hujan,” katanya.
Kondisi cuaca ekstrem di Gunungkidul yang masih berpotensi terjadi dalam beberapa pekan ke depan membuat masyarakat diminta lebih waspada terhadap risiko kerusakan bangunan, terutama rumah dengan struktur lama atau lapuk, guna mengurangi dampak bencana serupa.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
BPBD Gunungkidul menetapkan siaga darurat kekeringan hingga 31 Agustus 2026. Sebanyak 1.500 tangki air disiapkan untuk mengantisipasi krisis air bersih.
Bangkok United resmi melepas Pratama Arhan usai kontrak berakhir. Bek Timnas Indonesia itu catat 15 laga di musim terakhirnya.
Cek jadwal KRL Jogja-Solo Selasa 23 Juni 2026 dari Stasiun Yogyakarta hingga Palur. Tarif tetap Rp8.000 per perjalanan.
Mas Marrel serap aspirasi warga Purwosari soal air dan wisata kopi di Menoreh. Infrastruktur dan irigasi jadi perhatian utama.
Pemerintah luncurkan SPHP kedelai subsidi Rp2.000/kg untuk perajin tahu tempe. Kuota awal 250.000 ton dengan anggaran Rp500 miliar.
Revisi UU Hak Cipta diingatkan tak membatasi kreativitas digital. Regulasi harus lindungi kreator tanpa mengancam kebebasan berekspresi.