Advertisement
Tebing 25 Meter Masih Labil, Warga Sriharjo Bantul Diminta Mengungsi
BPBD Bantul meninjau lokasi tanah longsor yang menimpa rumah di wilayah Dusun Wunut Desa Sriharjo, Kabupaten Bantul, DIY. Antara - ist/BPBD Bantul
Advertisement
Harianjogja.com, BANTUL–Ancaman bencana hidrometeorologi di wilayah perbukitan Imogiri kian nyata setelah hujan lebat memicu runtuhnya tebing setinggi 25 meter.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bantul memberikan rekomendasi tegas kepada penghuni rumah yang terdampak tanah longsor di Dusun Wunut, Kalurahan Sriharjo, agar segera mengosongkan hunian mereka sementara waktu demi menghindari risiko korban jiwa.
Advertisement
Terdapat sedikitnya lima jiwa yang kini diminta untuk menyingkir ke lokasi yang lebih aman sebagai langkah preventif terhadap potensi pergerakan tanah susulan.
Kepala Bidang Kedaruratan, Logistik, dan Peralatan BPBD Bantul, Antoni Hutagaol, menjelaskan bahwa kondisi tebing di belakang rumah warga bernama Juradi tersebut masih sangat labil, terutama dengan adanya bongkahan batu besar yang menggantung.
BACA JUGA
“Yang menjadi catatan adalah penghuni rumah sejumlah lima jiwa disarankan untuk sementara mengungsi ke tempat yang lebih aman,” ujar Antoni saat dikonfirmasi, Rabu (4/3/2026).
Bencana ini bermula dari hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur sejak Senin hingga Selasa pagi, menyebabkan struktur tanah yang gembur di tebing curam tersebut kehilangan kestabilannya hingga meluncur menghantam bangunan.
Material tanah beserta batu berdiameter empat meter merobohkan tembok bagian belakang rumah sepanjang enam meter serta merusak area kamar mandi secara total.
Kerusakan fisik yang terdata meliputi tembok dengan tinggi dan lebar tiga meter, atap asbes, genting, hingga instalasi pipa air yang terputus akibat hantaman material longsoran seberat puluhan ton tersebut.
Pihak BPBD menilai situasi di Dusun Wunut masih dalam kategori membahayakan karena material longsor belum sepenuhnya terevakuasi dan penanganan teknis pada tebing belum dilakukan.
“Situasi dinilai masih membahayakan karena terdapat risiko terjadinya tanah longsor susulan yang dapat membahayakan keselamatan penghuni, jika material tidak segera dievakuasi dan dilakukan penanganan lebih lanjut,” katanya.
Guna membantu proses pemulihan, personel BPBD Bantul bersama Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Sriharjo telah diterjunkan ke lokasi untuk melakukan kerja bakti massal serta pendataan bantuan yang diperlukan.
Adapun kebutuhan mendesak yang tengah disiapkan meliputi bahan bangunan untuk perbaikan permanen, logistik bahan pangan bagi pengungsi, serta terpal sebagai penutup rekahan tanah agar air hujan tidak meresap kembali ke dalam struktur tebing yang rawan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Iran Izinkan Kapal Negara Sahabat Lewati Selat Hormuz di Tengah Blokad
Advertisement
Sukolilo Pati Sempat Viral, Ternyata Simpan Banyak Tempat Wisata
Advertisement
Berita Populer
- UMKM Jadi Mesin Perputaran Uang Saat Libur Lebaran di Sleman
- Mobil Dinas Baru di Pemkab Gunungkidul Batal, Jalan Rusak Jadi Fokus
- Arus Balik Mulai Padat di Bantul, Akses Parangtritis Diatur Satu Arah
- Duel Remaja di Pakualaman Jogja Terbongkar, Dua Pelajar Luka Parah
- Puluhan Telur Piton Ditemukan di Selokan Permukiman Warga Gunungkidul
Advertisement
Advertisement






