Advertisement
Ketua DPRD Sleman Kenang Koeswanto Sebagai Politikus Tradisional
Sejumlah pelayat sedang mengikuti proses pemakaman jenazah Sekretaris Komisi C DPRD DIY Koeswanto di Sasonoloyo Bantulan, Sidoarum, Godean, Sleman, Kamis (19/3/2026).-Harian Jogja - Andreas Yuda Pramono
Advertisement
Harianjogja.com, SLEMAN—Sekretaris Komisi C DPRD DIY, Koeswanto, meninggal dunia pada Kamis (19/3/2026) pukul 10.00 WIB di RSA UGM. Jenazah dimakamkan di Sasonoloyo Bantulan pada hari yang sama pukul 16.00 WIB. Ketua DPRD Kabupaten Sleman, Gustan Ganda, mengenang almarhum sebagai politikus tradisional.
Ditemui di Sasonoloyo Bantulan, Ganda menyampaikan politikus tradisional yang ia maksud adalah politikus yang jauh dari pencitraan di media sosial. Sebaliknya, Koeswanto mengandalkan kedekatan dan kehidupan yang berdampingan dengan masyarakat. “Hal ini bisa jadi pelajaran untuk kita semua. Sebagai contoh beliau banyak menyapa masyarakat. Ketika di rumah saja sering menerima tamu hingga pagi hari. Itu energi yang banyak dikeluarkan Pak Koes,” kata Ganda, Kamis (19/3/2026).
Advertisement
Ia menceritakan bahwa Koeswanto merintis karier dari tingkat kapanewon hingga DPC Kabupaten Sleman. Puncaknya adalah jabatan yang diemban mulai dari Sekretaris, Bendahara, dan Ketua DPC sebanyak dua kali. Pada 2009 hingga 2014, politikus yang meninggal di usia 71 tahun ini menjabat Ketua DPRD Sleman. Sebagai ketua legislatif tingkat kabupaten, ia tidak meninggalkan kebiasaannya sebagai politikus yang suka gotong royong.
Menurut pengakuan Ganda, Koeswanto ketika itu aktif terlibat dalam program gerakan pengendalian hama tikus di sawah. Ia turun bersama masyarakat untuk membasmi hewan pengerat tersebut. “Ketika ada gotong royong, beliau juga dari rumah sudah bawa pikap, semen, dan ikut gotong royong. Ini ciri khas beliau,” katanya.
Mantan Ketua Tim Pemenangan Kustini Sri Purnomo – Danang Maharsa ini juga dikenal militan. Koeswanto berhasil menjaga elektoral dengan baik, tanpa politik uang. Sebagaimana telah Ganda sampaikan, almarhum mengandalkan kedekatannya dengan masyarakat. “Ketika Pemilihan Bupati 2024 kemarin andil beliau cukup besar. Operasional untuk pemenangan Pilbup kemarin tentu tidak cukup kuat. Siapa yang memenangkan, ya tokoh-tokoh. Tanpa uang, mengandalkan kepercayaan masyarakat. Calon yang ditawarkan Pak Koeswanto pasti baik,” ucapnya.
BACA JUGA
Lebih jauh, Ganda menjelaskan bahwa Koeswanto memang pernah dirawat di JIH Jogja pada 2014 lantaran memiliki penyakit jantung. Merasa baik-baik saja, Koeswanto terus menjalankan tugasnya sebagai kader PDIP. “Berlanjut sampai sekarang. Karena usia dan tugas berat, beliau terlena [tidak rutin berolahraga]. Terlalu senang menyapa rakyat. Padahal kesehatan dan kebugaran penting,” jelasnya.
Ketua DPC PDIP Sleman, Danang Maharsa, juga mengakui bahwa Koeswanto adalah kader yang militan.
“Beliau mengomando pengurus di DPC termasuk ketika saya berpasangan dengan Bu Kustini dan kali ini dengan Pak Harda. Beliau siap ketika partai butuh bantuan,” kata Danang.
Menurut informasi yang Danang terima, Koeswanto sempat memberi makan ayam dan burung pada pagi hari. Merasa tidak enak badan, almarhum beristirahat di kamar dan tiba-tiba tidak sadarkan diri, sehingga harus dibawa ke RSA UGM.
“Kami di DPC ikut berbela sungkawa. Kita kehilangan sosok pejuang partai yang sudah banyak dedikasinya di PDIP. Terkait dengan kekosongan di Fraksi PDIP DPRD DIY, itu menjadi kewenangan DPD. Sudah ada mekanisme penggantian,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Warga Kutoarjo Bisa Cek Jadwal Prameks ke Jogja Kamis 19 Maret 2026
- Cek Jadwal Lengkap KA Bandara YIA Keberangkatan Kamis 19 Maret 2026
- Jadwal KRL Palur Jogja Kamis 19 Maret 2026 Dimulai Pukul 04.55 WIB
- Sleman Siap Sambut Ledakan Wisatawan Lebaran 2026
- KRL Jogja Solo Siapkan 12 Jadwal Keberangkatan pada 19 Maret 2026
Advertisement
Advertisement









