Kasus Daycare Jogja, Sultan HB X: Harapannya Ini Pertama dan Terakhir
Sultan HB X soroti kasus Little Aresha, tegaskan nol toleransi kekerasan dan dukung proses hukum di DIY.
Foto ilustrasi kamar hotel, dibuat menggunakan Artificial Intelligence. - Freepik
Harianjogja.com, JOGJA—Lonjakan wisatawan saat libur Lebaran 2026 di DIY tidak sepenuhnya berdampak pada tingkat hunian hotel. Okupansi rata-rata hanya mencapai 65%, jauh di bawah target yang dipatok pelaku industri.
Data ini dicatat Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY pada periode libur Lebaran. Angka tersebut meleset sekitar 20% dari target 85% yang sebelumnya diharapkan tercapai pada momen puncak.
Wakil Ketua PHRI DIY Bidang Promosi dan Event, Muhtar Habibi, menyebut selisih tersebut berpotensi menyebabkan kehilangan pendapatan hingga ratusan miliar rupiah di sektor perhotelan.
“Ada gap 20 persen di momen puncak. Ini berarti potensi kehilangan pendapatan hingga ratusan miliar rupiah di sektor perhotelan DIY,” ujarnya di Jogja, Rabu (25/3/2026).
Menurutnya, salah satu faktor yang memengaruhi adalah efek psikologis dari narasi jumlah wisatawan yang mencapai jutaan orang. Informasi tersebut justru memunculkan persepsi kemacetan dan ketidaknyamanan.
“Alih-alih menarik wisatawan, yang muncul adalah persepsi macet dan tidak nyaman. Ke depan, kami dorong perubahan komunikasi, bukan lagi soal jumlah, tapi soal kenyamanan dan kualitas pengalaman,” katanya.
Ia menilai promosi pariwisata perlu diarahkan lebih tersegmentasi, termasuk mengarahkan wisatawan ke destinasi alternatif agar tidak terjadi penumpukan di titik tertentu.
Selain itu, maraknya penginapan tidak berizin juga menjadi faktor yang memengaruhi rendahnya okupansi hotel resmi. Banyak wisatawan memilih akomodasi tersebut karena harga yang lebih murah.
Kondisi ini tidak hanya berdampak pada pendapatan hotel, tetapi juga berpotensi menyebabkan kebocoran Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor pajak.
“Hotel resmi menanggung pajak dan standar operasional, sementara penginapan ilegal tidak,” ujarnya.
PHRI DIY pun mendorong penertiban tegas terhadap akomodasi ilegal. Selain itu, platform digital diharapkan hanya menampilkan penginapan berizin serta dilakukan sinkronisasi data antara pemerintah daerah dan Online Travel Agent.
Di sisi lain, kondisi ini juga mencerminkan daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih. Dampaknya terasa langsung pada industri perhotelan, mulai dari lambatnya pemulihan arus kas hingga meningkatnya tekanan biaya operasional. “Ini jadi alarm bahwa kondisi industri belum sepenuhnya pulih,” kata dia.
Menghadapi situasi tersebut, pelaku industri perhotelan mulai mengubah strategi. Tidak hanya mengandalkan diskon, tetapi juga melakukan efisiensi operasional, reposisi target pasar, serta menawarkan pengalaman kepada wisatawan.
“Industri sudah mulai bergeser ke strategi yang lebih fundamental, yakni efisiensi operasional ketat, reposisi target pasar, hingga menjual experience, bukan sekadar kamar,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sultan HB X soroti kasus Little Aresha, tegaskan nol toleransi kekerasan dan dukung proses hukum di DIY.
Jadwal KA Prameks Jogja-Kutoarjo Sabtu 26 September 2026 tersedia 10 perjalanan. Cek jadwal dari Jogja dan Kutoarjo selengkapnya.
Jadwal KA Bandara YIA Sabtu 26 September 2026 tersedia 24 perjalanan. Cek jadwal YIA-Tugu dan Tugu-YIA serta waktu tempuhnya.
Jadwal KRL Solo-Jogja Sabtu 26 September 2026 dari Palur menuju Jogja/Tugu tersedia mulai pukul 05.00 WIB. Simak jadwal lengkapnya.
Jadwal KRL Jogja-Solo Sabtu 26 September 2026 tersedia 15 perjalanan. Simak jadwal setiap stasiun dan tarif Rp8.000.
Subsidi BBM dan LPG 3 kg 2027 turun Rp11,4 triliun. DPR menyoroti data penerima subsidi dan tingginya exclusion error pemerintah.