Advertisement
Drainase Sudimoro Kerap Meluap, Perbaikan Tertunda Biaya
Ilustrasi drainase - Ist/WSBT
Advertisement
Harianjogja.com, BANTUL—Keluhan soal luapan air di perempatan Sudimoro, Jalan Imogiri Barat, tepatnya di sisi barat Stadion Sultan Agung, belum akan teratasi sepenuhnya tahun ini. Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Bantul memastikan proyek normalisasi drainase di lokasi tersebut harus ditunda karena keterbatasan anggaran.
Kondisi saluran yang kerap mampet membuat air mudah meluber saat hujan, bahkan menggenangi jalan hingga mengganggu pengendara. Warga juga mengeluhkan dampak yang merembet ke permukiman dan lahan pertanian di sekitar lokasi.
Advertisement
Kepala DPUPKP Bantul, Jimmy Simbolon, mengungkapkan normalisasi drainase sebenarnya sudah direncanakan sejak tahun lalu. Namun, kebutuhan anggaran yang besar membuat pelaksanaannya belum bisa direalisasikan.
"Itu butuh anggaran yang cukup gede, sekitar Rp3 miliar sampai Rp5 miliar," kata Jimmy, Sabtu (11/4/2026).
BACA JUGA
Ia menjelaskan, rencana penanganan mencakup pengaliran air ke sisi timur hingga jembatan. Perencanaan teknis telah rampung, tetapi pelaksanaan harus ditunda karena keterbatasan dana.
"Itu masalahnya mampet karena persoalan pasir sedimennya sudah tinggi dan posisi saluran lebih tinggi dari jalan," katanya.
Sebagai langkah sementara, DPUPKP Bantul akan melakukan penanganan jangka pendek dengan mengangkat sedimentasi pasir yang menumpuk di saluran. Upaya ini diharapkan bisa memperlancar aliran air, terutama saat musim penghujan.
"Tahun ini untuk normalisasi drainase kami memang sedikit sekali, hanya beberapa saya tidak hafal. Karena kami kan hanya mendapatkan anggaran fisik kurang lebih Rp100 miliar dan masih fokus ke jalan hampir 60 sampai 70 persen," ujarnya.
Di sisi lain, warga mengaku kondisi tersebut sudah berlangsung lama tanpa penanganan maksimal. Rizky Wahyu, warga di wilayah Jetis, Bantul, menyebut genangan air kerap terjadi bahkan saat hujan dengan intensitas ringan.
“Kalau hujan sebentar saja sudah meluap. Airnya keluar dari selokan, menggenangi jalan, kadang sampai masuk ke halaman rumah. Ini sudah sering terjadi, bukan sekali dua kali,” katanya.
Menurutnya, kapasitas saluran drainase saat ini tidak lagi memadai. Endapan pasir yang menumpuk dan sampah yang masih sering terlihat memperparah kondisi aliran air.
“Sepertinya salurannya sudah dangkal, banyak endapan. Ditambah sampah juga masih sering terlihat. Harapannya bisa segera dibersihkan dan diperbaiki supaya tidak terus-terusan begini,” ujarnya.
Warga berharap pemerintah daerah segera melakukan langkah konkret agar masalah banjir lokal di kawasan tersebut tidak terus berulang dan mengganggu aktivitas sehari-hari.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Advertisement
Di Balik Pegunungan Taihang China Berdiri Menara Kembar Memikat
Advertisement
Berita Populer
Advertisement
Advertisement







