Advertisement
Refleksi Hari Warisan Dunia, Prambanan Ajarkan Ketangguhan dan Pemulih
Istimewa
Advertisement
SLEMAN—Puluhan orang tampak antusias menyimak penjelasan pemandu tur yang menjelaskan filosofi di balik pembangunan Candi Prambanan. Candi bercorak Hindu yang dibangun pada abad ke-9 ini ternyata menyimpan nilai spiritual yang dapat menjadi panduan masyarakat lintas generasi dalam menghadapi bermacam persoalan tantangan zaman. Selesai mengikuti tur, mereka kembali ke pelataran sisi timur candi.
Telusur candi tersebut merupakan bagian dari rangkaian Peringatan Hari Warisan Dunia 2026 yang digelar di kompleks Candi Prambanan. Kegiatan dalam Peringatan ini tidak hanya menyoroti pelestarian fisik situs budaya, tetapi juga upaya menghidupkan nilai spiritual, ketangguhan, dan kesehatan mental melalui pendekatan reflektif seperti yoga dan meditasi.
Advertisement
Diinisiasi oleh International Council on Monuments and Sites (ICOMOS), gelar wicara (talkshow) dihadirkan dengan narasumber perwakilan Balai Pelestarian Kebudayaan Yogyakarta dan praktisi wellness.
Mengusung tema Emergency Response for Living Heritage in Contexts of Conflicts and Disasters, kegiatan yang diikuti berbagai komunitas yoga tersebut menekankan pentingnya kesiapsiagaan dan ketangguhan, baik pada level sistem, komunitas, maupun individu dalam merespons tekanan dan perubahan.
Penanggung Jawab Cagar Budaya Museum dan Cagar Budaya, Albertus Niko Sukodwianto, menegaskan warisan budaya harus dipandang sebagai living heritage atau warisan hidup yang terus memberi makna.
“Tidak hanya sebagai monumen, tetapi juga sebagai sumber inspirasi, pendidikan, dan nilai-nilai spiritual,” kata Niko ditemui di Candi Prambanan, Jumat (24/4/2026).
Menurutnya, praktik yoga dan meditasi dipilih karena selaras dengan karakter candi yang sarat nilai spiritual. Banyak pelaku yoga merasakan kawasan candi memiliki energi positif yang mendukung ketenangan batin.
Ia berharap masyarakat dapat memandang Candi Prambanan lebih dari sekadar bangunan bersejarah. Relief, arca, dan struktur candi, menurutnya, menyimpan pesan moral, pendidikan, serta nilai spiritual yang relevan dengan kehidupan masa kini.
“Cagar budaya bukan hanya untuk dilihat atau dikunjungi. Ada nilai-nilai kehidupan yang bisa dipelajari dan dihayati, sehingga warisan budaya benar-benar hadir dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.
Sementara itu, perwakilan Balai Pelestarian Kebudayaan Yogyakarta, Jusman M, menambahkan Candi Prambanan mengandung nilai keseimbangan, harmoni, dan keberlanjutan yang relevan untuk membangun ketahanan diri (inner resilience) di tengah tekanan kehidupan modern.
Salah satu upaya yang dapat ditempuh untuk menginternalisasi nilai tersebut adalah melalui pendekatan reflektif seperti yoga dan mindfulness, sehingga individu menjadi lebih siap menghadapi berbagai situasi krisis maupun perubahan
Ia juga menyinggung bagaimana pengelolaan Candi Prambanan perlu dilakukan tanpa menghilangkan filosofi dan nilai-nilai yang terkandung di belakangannya. Ia mencontohkan ketika gempa besar 26 Mei 2006 yang menjadi salah satu tantangan terbesar dalam upaya pemulihan Prambanan.
“Dampaknya tidak hanya merusak struktur, tetapi juga menuntut kajian panjang untuk menjaga nilai historisnya,” kata Jusman.
Ia menyebut proses rehabilitasi, khususnya pada Candi Siwa, memakan waktu hampir satu dekade akibat kompleksitas kerusakan dan metode pemugaran lama yang menggunakan beton bertulang. Candi Siwa menjadi candi dengan struktur bangunan paling besar.
Pengalaman tersebut menjadi pelajaran penting bahwa pemulihan situs budaya membutuhkan waktu, ketelitian, dan pendekatan multidisipliner. Ia juga menegaskan bahwa pemanfaatan candi secara tepat menjadi kunci menjaga “ruh” warisan budaya agar tidak kembali ditinggalkan seperti masa lalu.
Keseimbangan Tubuh
Peserta acara mulai melakukan meditasi dan yoga ketika matahari mulai redup. Candi Prambanan pada sore hari terasa lebih sunyi dan lapang. Instruktur yoga mulai memandu gerakan tubuh peserta dengan suara yang kalem. Singing bowl yang dibunyikan mengantar peserta ke kondisi yang lebih tenang dan dalam.
Praktisi wellness, Fransisca Romana Herin Anggreni, memperkenalkan konsep living heritage yang mengajak masyarakat merasakan langsung pengalaman budaya sebagai sarana penyembuhan dan penguatan batin.
Ia menilai keterhubungan manusia dengan budaya dan alam dapat membantu mencapai keseimbangan tubuh dan mental.
“Ketika manusia terhubung kembali dengan alam dan budaya, tubuh secara alami mampu menyembuhkan dirinya,” kata Herin.
Selain di Prambanan, kegiatan serupa sebelumnya juga digelar di sejumlah situs seperti Kawasan Dieng, Candi Ijo, dan Candi Sukuh. Namun, peringatan Hari Warisan Dunia melalui yoga dan meditasi di Candi Prambanan baru pertama kali dilakukan tahun ini.
Melalui kegiatan ini, diharapkan masyarakat tidak lagi memandang cagar budaya sebatas objek wisata, tetapi sebagai ruang pembelajaran dan refleksi yang menghadirkan nilai kehidupan. Pelestarian pun dimaknai tidak hanya menjaga fisik situs, tetapi juga membangun keseimbangan emosional dan ketangguhan manusia di tengah perubahan zaman.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Fakta Baru! Sopir Taksi Listrik Baru 3 Hari Kerja Saat Kecelakaan
Advertisement
Thailand Bakal Hapus Bebas Visa, Turis Wajib Verifikasi Saldo Keuangan
Advertisement
Berita Populer
- MayDay 2026, Bupati Sleman Gelar Dialog dengan Serikat Buruh
- Update Puting Beliung Sleman Rusak 20 Titik, Ngaglik Terparah
- Daftar KA Tambahan Jogja untuk Libur Panjang Mei, Cek di Sini
- Layanan KA Jarak Jauh Kembali Normal Bertahap Mulai 30 April 2026
- Sultan HB X: Investor Wajib Jaga Alam Jogja, Jangan Merusak
Advertisement
Advertisement







