1.048 Anak Putus Sekolah di Kulonprogo, Mayoritas SMP
Sebanyak 1.048 anak di Kulonprogo putus sekolah, mayoritas SMP, dengan penyebab ekonomi, sosial, hingga trauma.
Pembangunan talud yang dilakukan secara gotong royong melalui program BBGRM di Kapanewon Galur, Kulonprogo./Istimewa -
Harianjogja.com, KULONPROGO— Pemerintah Kabupaten Kulonprogo kembali menggerakkan Bulan Bakti Gotong Royong Masyarakat (BBGRM) sepanjang Mei 2026. Program ini tidak hanya menyasar pembangunan fisik, tetapi juga mendorong penguatan ekonomi warga berbasis potensi lokal.
Kegiatan BBGRM diawali di Kapanewon Galur dan Panjatan pada Selasa (5/5/2026), lalu berlanjut di Kapanewon Pengasih pada Rabu (6/5/2026). Pelaksanaannya melibatkan partisipasi langsung masyarakat sebagai bentuk penguatan solidaritas dan kebersamaan dalam pembangunan.
Bupati Kulonprogo, Agung Setyawan, menilai gotong royong masih menjadi kekuatan utama masyarakat dalam mendorong perubahan. Ia mengapresiasi keterlibatan warga yang aktif dalam berbagai kegiatan pembangunan.
"Saya bangga masyarakat masih menjunjung tinggi gotong royong yang menjadi bukti bahwa kita benar-benar siap melakukan perubahan dan pembangunan secara bersama-sama," ujar Agung, Rabu (6/5/2026).
Dalam pelaksanaan BBGRM tahun ini, sejumlah program konkret dijalankan. Di antaranya pembangunan talud, penataan lingkungan, hingga pengembangan sektor ekonomi melalui pelibatan pelaku UMKM lokal. Salah satu contoh nyata adalah produksi wingko boro khas Karangsewu di Kapanewon Galur yang digerakkan oleh kelompok ibu-ibu.
Selain itu, terdapat pula pengelolaan kandang komunal sapi yang dilakukan secara gotong royong. Sistem ini dinilai lebih efisien dari sisi penggunaan lahan, sekaligus memperkuat kebersamaan karena perawatan dilakukan secara bergiliran oleh warga.
"Ini bukti bahwa masyarakat tidak tinggal diam tetapi terus bergerak meningkatkan kesejahteraan," jelas Agung.
Sementara itu, Wakil Bupati Kulonprogo, Ambar Purwoko, menegaskan bahwa BBGRM memiliki peran strategis dalam memperkuat ketahanan sosial dan ekonomi masyarakat. Menurutnya, gotong royong bukan sekadar tradisi, melainkan solusi nyata dalam menghadapi tantangan pembangunan.
Ia menyebut, keterlibatan seluruh elemen masyarakat menjadi kunci dalam mempercepat pemerataan pembangunan dan pengentasan kemiskinan.
"Gotong royong dapat mempercepat pembangunan sekaligus memperkuat ketahanan sosial ekonomi masyarakat," tegasnya.
Dalam rangkaian kegiatan BBGRM ini, juga dilakukan pembangunan rumah tidak layak huni (RTLH) sebagai bentuk kepedulian terhadap warga kurang mampu. Program ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara langsung.
Di Kapanewon Panjatan, bantuan juga disalurkan kepada kelompok tani, kelompok usaha bersama, serta warga penerima bantuan rumah tangga miskin (RTM). Dukungan tersebut diharapkan dapat meningkatkan produktivitas sekaligus memperkuat perekonomian lokal.
Melalui BBGRM, pemerintah daerah berharap semangat gotong royong tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi terus hidup dalam keseharian masyarakat sebagai kekuatan utama pembangunan daerah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sebanyak 1.048 anak di Kulonprogo putus sekolah, mayoritas SMP, dengan penyebab ekonomi, sosial, hingga trauma.
KIP Kuliah 2026 mulai cair. Simak aturan lengkap penerima bantuan, mulai dari masa bantuan, kerja paruh waktu, hingga risiko pencabutan.
Instagram menghadirkan fitur baru Instants untuk berbagi foto spontan yang hanya bisa dilihat satu kali dan hilang otomatis setelah 24 jam.
Cristiano Ronaldo berpeluang meraih dua trofi bersama Al Nassr akhir pekan ini sambil terus memburu target 1.000 gol karier.
Bekerja sama dengan SMK Bhumi Phala Parakan Temanggung, Astra Motor Yogyakarta menggelar pelatihan Safety Riding intensif bagi para siswa
Lazio dipastikan absen dari kompetisi Eropa dua musim beruntun usai kalah dari Inter Milan di final Coppa Italia 2025-2026.