14 Tahun UUK DIY, Memetri Kaistimewan Dekatkan Nilai Keistimewaan
Memetri Kaistimewan menandai 14 tahun UUK DIY dengan kegiatan budaya, edukasi, dan kolaborasi agar nilai keistimewaan dekat dengan masyarakat.
Ilustrasi BBM/Ist. dok. Pertamina Patra Niaga
Harianjogja.com, JOGJA— Konsumsi Pertalite di Daerah Istimewa Yogyakarta meningkat sejak Mei 2026. Kenaikan yang mencapai 6%-7% setiap bulan pada periode Mei hingga Juli membuat kuota BBM jenis tersebut dikhawatirkan terlampaui sampai akhir tahun.
Di tengah peningkatan konsumsi itu, Pemerintah Kabupaten Gunungkidul mengajukan tambahan kuota BBM kepada Pemerintah Daerah (Pemda) DIY. Usulan tersebut masih dalam kajian Biro Perekonomian serta Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan, dan Energi Sumber Daya Mineral (PUPESDM) DIY.
Sekretaris Daerah (Sekda) DIY Ni Made Dwipanti Indrayanti membenarkan adanya pengajuan tambahan kuota dari Gunungkidul. Pemda DIY akan melihat kebutuhan serta kemungkinan kuota yang dapat diberikan sebelum mengambil tindak lanjut.
"Kemarin itu sudah ada dari kalau enggak salah Gunungkidul mengajukan penambahan [kuota BBM]," ujar Ni Made, Selasa sore (15/9/2026).
Ni Made mengaku belum mengetahui secara pasti alasan Gunungkidul mengajukan tambahan kuota tersebut. Menurut dia, mekanisme pengajuan biasanya berkaitan dengan informasi yang disampaikan Pertamina mengenai kondisi stok BBM di daerah.
Setelah menerima informasi tersebut, pemerintah daerah dapat menyampaikan kebutuhan tambahan. Usulan kemudian dianalisis untuk melihat kemungkinan penyesuaian kuota.
"Pertamina tuh kasih tahu stok daerah ini segini-segini gitu. Nanti kita menanggapi, mem-follow up. Oh kita mintanya segini memungkinkan enggak, nanti ada analisis juga."
Pemda DIY sampai saat ini belum menerapkan kebijakan khusus yang signifikan sebagai respons terhadap kondisi konsumsi BBM. Pemerintah lebih dahulu melakukan efisiensi penggunaan kendaraan dalam berbagai kegiatan.
Salah satu contoh efisiensi tersebut dilakukan ketika kepala organisasi perangkat daerah mengikuti kunjungan Gubernur DIY. Para kepala dinas tidak membawa kendaraan masing-masing, tetapi menggunakan satu kendaraan secara bersama-sama, seperti HiAce.
Pemda DIY juga sebelumnya melakukan berbagai upaya efisiensi, termasuk pelaksanaan car free day. Namun, kebijakan tersebut tetap memiliki konsekuensi terhadap kebutuhan ruang parkir dan penyediaan kendaraan umum seperti Trans Jogja untuk mendukung akses masyarakat.
Ni Made mengatakan kondisi BBM saat ini belum membuat Pemda DIY mengeluarkan kebijakan baru yang signifikan. Pemerintah masih berharap ketersediaan stok BBM di wilayah DIY tetap terjaga.
"Ya sejauh ini memang belum ada kebijakan yang signifikan ya, misalnya mungkin terkait dengan kondisi yang sekarang. Ya kita berdoa sajalah semoga kecukupan terkait dengan stok BBM ini di DIY terjaga," jelasnya.
Pemantauan kondisi BBM dilakukan Pemda DIY melalui komunikasi dengan Pertamina. Pemerintah juga memperoleh informasi dari Biro Perekonomian mengenai perkembangan penggunaan dan ketersediaan stok BBM.
"Ya kita Pertamina juga laporan. Kita kan nanti juga dapat informasi dari Biro Ekonomi. Di sana kan tempatnya mereka melihat dari sisi pemakaian, kemudian ketersediaan ya, stok seperti itu," paparnya.
Pemantauan tersebut menjadi bagian dari proses sebelum pemerintah menentukan tindak lanjut atas pengajuan tambahan kuota dari kabupaten.
Untuk kondisi Pertalite secara keseluruhan, Area Manager Communication, Relation, & CSR Regional Jawa Bagian Tengah, Taufiq Kurniawan, sebelumnya menyebut konsumsi di DIY mengalami pertumbuhan 6%-7% setiap bulan pada periode Mei sampai Juli 2026.
Kenaikan tersebut menjadi perhatian karena apabila berlangsung hingga akhir tahun, realisasi konsumsi dikhawatirkan melampaui kuota yang telah tersedia.
"Pertalite di DIY itu per bulannya bisa naik 6% sampai dengan 7%. Oleh karena itu dikhawatirkan kuota ini juga akan over di akhir tahun," jelas Taufiq.
Meski konsumsi meningkat, Taufiq memastikan ketersediaan Pertalite di DIY masih aman. Keberadaan Terminal BBM Rewulu disebut membantu menjaga stok Pertalite hingga 10–11 kali dari kebutuhan konsumsi normal.
Kondisi tersebut dinilai masih mencukupi meskipun terjadi peningkatan konsumsi. Pertumbuhan konsumsi Pertalite saat ini maksimal sekitar 7%.
Taufiq juga menyampaikan gambaran konsumsi Pertalite di DIY berdasarkan realisasi rata-rata bulanan. Konsumsi berada pada kisaran 45.000 kiloliter hingga 48.000 kiloliter per bulan.
"Kalau realisasi rata-rata di DIY itu 45.000 kiloliter sampai dengan 48.000 per, 48.000 kiloliter per bulan. Pertalite. Jadi kenaikannya tadi dari 45.000 ke 48.000 itu 6% sampai 7% per bulannya," lanjutnya.
Dengan kondisi tersebut, Pemda DIY masih memantau perkembangan pemakaian dan ketersediaan Pertalite sembari mengkaji pengajuan tambahan kuota dari Gunungkidul. Di sisi lain, Pertamina menyatakan stok Pertalite di DIY masih aman meski konsumsi mengalami kenaikan setiap bulan.
Bagi masyarakat, perkembangan kuota dan konsumsi tersebut menjadi penting karena ketersediaan BBM tetap berkaitan dengan aktivitas mobilitas sehari-hari. Untuk saat ini, Pemda DIY belum menyatakan adanya kebijakan khusus yang signifikan terkait kondisi Pertalite tersebut.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Memetri Kaistimewan menandai 14 tahun UUK DIY dengan kegiatan budaya, edukasi, dan kolaborasi agar nilai keistimewaan dekat dengan masyarakat.
Wamen ATR Ossy Dermawan mengungkap arahan Nusron Wahid di tengah kasus suap HGB dan gratifikasi di lingkungan ATR/BPN.
CKG Kota Jogja menemukan 60%-65% dari 23.000 lansia yang diperiksa terdeteksi hipertensi dan diabetes.
Kapal induk ITS Giuseppe Garibaldi dijadwalkan tiba di Jakarta 18 September 2026 dan disiapkan mendukung penanganan karhutla.
DLH Kulonprogo mendorong pengelola SPPG menguji limbah dapur MBG di laboratorium setelah muncul keluhan warga soal pencemaran.
Harga rumah di Jogja makin sulit dijangkau. REI DIY menyoroti kenaikan harga tanah dan material bangunan yang mencapai sekitar 25%.