Advertisement
Khatib Salat Id di Jogja Diminta Tidak Merusak Kesucian Idulfitri
Presiden Joko Widodo (tengah), bersiap melaksanakan Shalat Taraweh pertama Ramadhan 1439 H di Masjid Istiqlal Jakarta, Rabu (16/5/2018). - Bisnis Indonesia/Dwi Prasetya
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA--Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) DIY meminta para khatib Salat Idulfitri tidak merusak kesucian hari yang fitri dengan ceramah yang sarat akan kebencian, penuh provokasi, menonjolkan kepentingan politik praktis dan mengedepankan prasangka.
"Ini [Idulfitri] momennya agar umat manusia kembali pada fitrahnya. Dari ibadah yang kemudian menuju ketenangan. Maka kemudian politik praktis yang cenderung provokatif dan dicampur dengan fitnah dan praduga yang tidak tepat, itu jauh dari nilai-nilai moral Agama Islam," ujar Kepala Kanwil Kemenag DIY Muhammad Lutfi Hamid saat dihubungi melalui sambungan telepon, Rabu (13/6/2018).
Advertisement
Ucapan yang cenderung provokatif dan berbaur dengan fitnah dan prasangka, kata Lutfi, jauh dari nilai-nilai Islam, sebab agama tersebut pada hakikatnya adalah ikhtiar menuju terciptanya keselamatan dan kedamaian.
Ia menambahkan, Idulfitri, yang hendak membawa umat Islam menuju pada kesucian dan awal kejadian, yakni penciptaan manusia untuk beribadah kepada Allah dan jadi tenang, tidak boleh dicederai dengan perilaku dan cara pandang yang tidak damai.
BACA JUGA
"Jadikanlah momen ini kembali ke kesucian sekaligus kembali pada asal kejadian manusia, yaitu menjadikan agama sebagai jalan religiusitas menuju jiwa tenang. Fitri ada dua makna, yakni suci dan asal kejadian kita, yaitu menciptakan manusia untuk beribadah kepada allah dan jadi tenang," jelasnya.
Oleh karena itu, Kanwil Kemenag DIY berharap para khatib Salat Id memberikan materi yang mampu untuk mewujudkan kesucian dan mengembalikan eksistensi kemanusiaan, yakni sadar sebagai manusia yang beribadah dan menuju ketenangan hidup.
"Harapan kami semua mubaligh dan khatib menjadikan agama sebagai jalan menuju keselamatan dan kedamaian karena Islam artinya adalah selamat dan damai, bukan justru melakukan provokasi yang menciptakan ketidaktenangan," imbuh Lutfi.
Kanwil Kemenag DIY, sambungnya, tidak mencampuri urusan pemilihan khatib Salat Ied, sebab hal itu tumbuh dari kepentingan masyarakat untuk memilih individu yang dianggap kompetensi sebagai penyampai khotbah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Penantian Sepekan Berakhir Jenazah Perwira TNI Tiba di Cimahi
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Update KRL Jogja ke Solo Hari Ini 4 April 2026, Ini Jamnya
- Cuaca Jogja 4 April 2026 Didominasi Hujan, Ini Rinciannya
- Biaya Hidup di Jogja 2026, Hitungan Versi BPS dan Perkiraan Riil
- Jadwal KRL Solo-Jogja Sabtu 4 April 2026, Cek Jam Lengkapnya
- Pemadaman Listrik di Bantul 4 April 2026, Cek Wilayah Terdampak
Advertisement
Advertisement




