Kekeringan Tahun Ini Lebih Parah, Pemohon Bantuan Air Bersih Bertambah

Aminah warga Banjarharjo menerima air dari Tagana Kulonprogo, Sabtu (7/7/2018)- - Harian Jogja/Beny Prasetya
16 Agustus 2018 21:17 WIB Beny Prasetya Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO -- Akibat hujan yang tak kunjung turun dan air saluran Kalibawang belum mengisi sumur warga, kekeringan di Kulonprogo kian parah. Terbaru, Desa Gerbosari dan Pengasih mengalami kekeringan.

Dua desa tersebut merupakan desa yang tahun lalu tidak mengalami kekeringan. Desa Gerbosari sendiri biasanya dapat bertahan di musim kemarau dengan menggunakan mata air setempat.

Koordinator Droping Air Tagana se Kulonprogo, Ibnu Wibowo, menyatakan kekeringan di tahun 2018 terbilang lebih parah ketimbang tahun 2017. Sejumlah desa yang dulunya terbebas dari ancaman kekeringan saat ini malah masuk menjadi wilayah kekeringan dengan meminta droping air.

"Kemarau tidak ada hujan sama sekali, terus pengeringan intake bikin desa di kecamatan Kalibawang, Nanggulan, Pengasih, dan Sentolo jadi kering sumurnya. Setidaknya 25 desa mengalami kekeringan," ungkapnya, Rabu (15/8/2018).

Ia menyebutkan, kekeringan yang parah ini terlihat ketika Gerbosari yang sebelumnya jarang meminta air saat ini malah droping ke pihaknya. Lebih lanjut desa Salamrejo yang tahun-tahun sebelumnya tidak bermasalah dengan kekeringan malah meminta droping sejak awal Juni lalu.

"Di Samigaluh hanya satu dari delapan desa yang tidak kekeringan, yakni Pagerharjo, soalnya di sana cukup banyak mata air," ungkapnya.

Menurut Ibnu, setidaknya total ada 25 desa yang mengajukan permohonan air bersih. Bahkan hal itu lebih parah karena akses jalan seperti di Dusun Nyemani, dan daerah pegunungan lainnya memiliki medan yang sulit dilalui oleh kendaraan tangki.

"Jadi kalau ke Samigaluh cuma cukup dua kali droping dalam sehari, makanya kita memakai sistem satu di Samigaluh tiga atau dua desa di bawah," ungkapnya.

Sementara Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kulonprogo Ariadi menyatakan saat ini hanya ada 23 desa yang menjadi daerah prioritas utama kekeringan. Adapun 23 desa tersebut telah mengajukan permohonan air bersih sejak bulan lalu.

Ia sendiri saat ini mengaku Kulonprogo memiliki enam armada tangki untuk droping air. Seluruh air saat ini masih diambil dari PDAM Kulonprogo dan menggunakan anggaran dari Coorporate Sosial Responsibilities dan dana tak terduga milik kabupaten Kulonprogo. "Ada milik PMI, Tagana, dan milik kami, semua berjalan," ungkapnya.