Ramadan dan Lebaran, Telkomsel Prediksikan Kenaikan Traffic 15%
Telkomsel mematangkan persiapan menghadapi periode Ramadan dan Idulfitri (Rafi) 2024.
Ilustrasi HIV/AIDS. (Harian Jogja)
Harianjogja.com, SLEMAN- Tingginya angka prevalensi HIV di Kabupaten Sleman masih menjadi PR besar bagi pemerintah. Belum tercapainya penurunan tingkat prevalensi berpengaruh pada ketercapaian Sustainable Development Goals (SDGs) di daerah ini, khususnya pada bidang kesehatan.
Kepala Bidang Kesejahteraan Rakyat dan Pemerintahan, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Sleman, Pranama menyampaikan prevalensi kasus HIV di Sleman belum berhasil diturunkan. "Ini terkait dengan mobilitas penduduk, padahal Sleman mobilitas tinggi terutama di daerah perkotaan. Prevalensinya cenderung naik," katanya pada Harian Jogja, Rabu (15/8/2018).
Hal tersebut menurutnya bukan dikarenakan sudah selesainya kinerja Komisi Penanggulangan HIV/AIDS Daerah karena kelanjutan aksinya langsung diintegrasikan dalam program-program di Dinas Kesehatan kabupaten. Layanan untuk pasien HIV juga semakin gencar, bahkan seluruh Puskesmas mampu memberikan obat dan pelayanan.
Dikonfirmasi mengenai hal tersebut, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman Joko Hastaryo justru memandang belum berhasilnya penurunan tingkat prevalensi HIV bukan semata dipandang sebagai hal buruk. Prevalensi yang belum turun menurutnya bisa diartikan bahwa kasus HIV justru semakin banyak ditemukan.
"Ini justru malah bagus karena mungkin kasus di masyarakat itu sebenarnya banyak. Justru kesadaran masyarakat [pasien HIV] untuk periksa semakin tinggi. Prevalensi meningkat bukan berarti kasusnya yang meningkat tetapi penemuannya yang meningkat," jelas Joko pada Harianjogja.com, Kamis (23/8/2018).
Saat ini fasilitas kesehatan sudah terbuka terhadap pasien HIV. Kesadaran pasien untuk melakukan wawancara dan konsultasi dengan pakar juga sudah mulai tumbuh. Mereka sudah menyadari pentingnya kesehatan sehingga konsultasi dan pengobatan dirasa lebih penting daripada mengasingkan diri.
Joko memaparkan, sampai saat ini ada 945 kasus positif HIV tetapi belum bergejala. Sementara di antara 945 kasus tersebut ada 359 yang sudah masuk HIV Aids, beberapa indikatornya antara lain berat badan turun dan terjadi infeksi.
Jika dihitung, temuan kasus tersebut masih kurang dari 1% dari total populasi penduduk di Kabupaten Sleman yang berjumlah sekitar 1,1 juta orang. "Kita berupaya agar tidak sampai satu persen," katanya.
Untuk kasus HIV Sleman masuk kategori Epidemi Terkonsentrasi. Di mana untuk populasi umum termasuk ibu hamil, jumlah kasusnya di bawah satu persen. Tapi di kelompok khusus seperti laki-laki suka laki-laki, pengguna narkoba suntik, ada lebih dari 5%.
"Dengan posisi epidemi terkonsentrasi itu, ada kebijakan dari Kementerian Kesehatan bahwa Sleman berani melakukan pemeriksaan HIV pada ibu hamil sebagai bentuk kewaspadaan dini. Kalau diketahui lebih awal kan ada obat yang bisa menghambat perkembangan dari virus HIV ini," kata Joko.
Sejak 2015, temuan baru kasus HIV juga fluktuatif dan tidak bisa dikatakan meningkat. Pada 2015 ada 77 kasus baru, 2016 ada 131 kasus baru, 2017 ada 105 kasus baru, sementara sampai semester 1 2018 ini ada 47 kasus baru.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Telkomsel mematangkan persiapan menghadapi periode Ramadan dan Idulfitri (Rafi) 2024.
Film Jangan Buang Ibu karya Leo Pictures akan menggelar Gala Premiere di 20 kota termasuk Yogyakarta sebelum tayang 25 Juni 2026.
Fathul Wahid bukan dikenal sebagai penyair. Dia akademisi, Guru Besar Sistem Informasi, dan Rektor UII. Justru karena itulah puisinya terasa menarik.
DSI resmi jadi BUMN baru pengelola ekspor SDA. Siap kendalikan sawit, batu bara, dan ferro alloy mulai 2026.
Simak cara menyalakan genset saat listrik padam dengan aman agar terhindar dari korsleting dan kerusakan mesin.
Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY bekerja sama dengan DPRD DIY menggelar bedah buku Cerdas Mengolah Sampah Mandiri Bersama Komunitas