Paket Misterius Berisi Narkoba yang Meresahkan Warga Jogja Ternyata Hoaks

Kabid Humas Polda DIY AKBP Yulianto (Kiri) bersama Direktur Ditreskrimum Polda DIY, Kombes Pol Hadi Utomo (Kanan) menunjukan isi paket misterius pada Kamis (20/9/2018) di Markas Polda DIY. - Harian Jogja/Fahmi Ahmad Burhan
20 September 2018 20:17 WIB Fahmi Ahmad Burhan Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN--Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda DIY memeriksa paket yang diterima oleh warga Gondomanan, Kota Yogyakarta Ulfa Fitria, dan hanya berisi jam tangan. Paket kiriman dari luar negeri tersebut sempat viral di media sosial karena ada yang menyebarkan bahwa isi paket tersebut narkoba. Namun, Polda DIY memastikan informasi tersebut hoaks.

Direktur Ditreskrimum Polda DIY, Kombes Pol Hadi Utomo mengatakan informasi yang beredar di sosial media terkait paket berisi narkoba yang dikirim dari luar negeri adalah hoaks. Ia mengatakan Polda DIY sudah memeriksa paket tersebut dan hanya berisi jam tangan berwarna oranye. Paket tersebut salah alamat dan kiriman menyasar ke Ulfa Fitria, warga Gondomanan, Kota Yogyakarta.

"Barang yang dikirim dari luar negeri ke Bu Ulfa bukan barang berbahaya. Hasil penyelidikan berdasarkan patroli siber, informasi itu hoaks dan menyesatkan," kata Kombes Pol Hadi Utomo pada Kamis (20/9/2018).

Ia mengatakan sebelumnya Polda DIY menelusuri berbagai sumber untuk mengetahui alur pengiriman paket tersebut. "Karena Bu Ulfa tidak merasa, maka itu hanya salah alamat saja," ujarnya.

Sebelumnya perusahaan ekspedisi JnT mengirim barang ke Jalan Ibu Ruswo, Gondomanan, Yogyakarta. Pengirim barang memberi tahu Ulfa bahwa ada kiriman barang untuknya dari luar negeri. Ulfa menolak dengan alasan tidak memesan.

"Saya dimintai biaya sebesar Rp180.000, dia juga mintai saya KTP sebagai bukti, karena saya posisinya jauh untuk ke lokasi jadi diminta foto KTP saja dan dikirim lewat whatsapp, tapi saya menolak," ujar penerima paket Ulfa Fitria pada Kamis.

Ulfa mengatakan paket itu sama sekali tidak sampai ke tangannya dan dikembalikan ke pihak JnT. Namun setelah peristiwa tersebut, viral di media sosial terkait informasi paket kiriman dari luar negeri yang isinya narkoba.

"Memang sempat beredar di media sosial terkait berita paket kiriman isinya narkoba, juga saya yang dipaksa untuk menyerahkan KTP, saya sama sekali tidak tahu dan tidak menyebarkan berita itu, bahkan saya tidak menyerahkan KTP karena tidak mau," ungkap Ulfa.

Sementara itu, pihak Ditreskrimum bekerjasama dengan Ditreskrimsus Polda DIY untuk menyelidiki penyebar hoaks terkait paket berisi narkoba. "Karena ini masalah siber, jadinya kami kasih laporan dari Ditreskrimum ke Ditreskrimsus untuk ditindaklanjuti," ujar Kombes Pol Hadi.

Sementara itu, Key Acount JnT Pusat Iwan Senjaya mengatakan sebelumnya pihaknya tidak berani untuk membuka paket tersebut. Namun untuk penyelidikan, maka pihaknya menyerahkan ke Polda DIY untuk kemudian dibuka. Menurutnya, viral terkait paket misterius di media sosial yang mengatakan pihaknya memaksa untuk meminta KTP tidaklah benar.

"Sebenarnya posisi kita minta KTP itu karena kadang ada kurir nakal, maka pakai bukti, kadang ada pembeli nakal juga," ujar Iwan.

Setelah viral, pihak JnT merubah sistem pengiriman paket. Dari yang sebelumnya langsung mendatangi alamat yang dituju, pihak JnT kini akan mengkonfirmasi terlebih dahulu penerima. Apabila sudah terkonfirmasi kebenaran penerima, maka paket akan dikirim.