Bantuan Warga DIY untuk Korban Gempa Palu Hingga Kini Masih Tertahan

Warga pengungsi korban gempa tsunami tidur di tenda pengungsian di Taman Gor, Palu, Sulawesi Tengah, Kamis (4/10/2018). - ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja
12 Oktober 2018 14:05 WIB Abdul Hamied Razak Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA- Ratusan ton batuan dari warga DIY untuk para korban bencana di Palu, Sigi dan Donggala, Sulawesi Tengah untuk kloter kedua masih belum dikirim. Pengiriman bantuan logistik tesebut masih menunggu kejelasan moda transportasinya.

Koordinator Advokasi Informasi dan Media Posko mahasiswa asal Sulteng Sulaiman mengatakan jika pengiriman logistik untuk membantu keluarga asal Sulteng yang terdampak bencana gempa bumi beberpa waktu lalu belum bisa dikirim.

Bantuan logistik dari pakaian layak pakai, mie instan, beras dan lainnya hasil sumbangan dari masyarakat DIY dan sekitarnya itu masih menumpuk di gudang. "Ini kloter kedua yang belum bisa dikirim. Kami masih menunggu kejelasan pesawat Hercules yang akan berangkat," katanya saat ditemui di Posko, Jumat (12/10/2018).

Sebelumnya, para mahasiswa ini sempat mengirimkan bantuan logistik ke wilayah gempa pada 4 Oktober lalu menggunakan angkutan laut (Pelni). Hanya saja, sampai saat ini bantuan belum bisa diterima karena kapal-kapal laut yang akan berlabuh harus mengantre. "Makanya kami meminta agar Negara [TNI] segera menentukan kapan pesawat Hercules bisa mengangkut logistik ini ke Palu," ujar Sulaiman.

Dia berharap agar negara segera mengirimkan logistik yang mereka terima dari masyarakat untuk dikirimkan ke Palu. "Kami memohon kepada negara agar logistik ini segera dikirimkan. Sebab ini bukan barang orderan tapi merupakan amanah yang harus segera kami terimakan kepada yang membutuhkan," ujarnya.

Selama ini, katanya komitmen Pemda DIY untuk membantu mahasiswa asal Sulteng sangat baik. Pemda bahkan memberikan pengelolaan dapur umum untuk konsumsi para mahasiswa. Bahkan, Sultan juga meminta agar para rektor yang memiliki mahasiswa asal Sulteng untuk diperhatikan. "Mahasiwa asal Sulteng kata Sultan harus diberi kemudahan, jangan sampai kelaparan. Makanya ada dapur umum," ujarnya.