Lebih dari 100.000 Orang di DIY Telah Disuntik Vaksin
Vaksinasi Covid-19 tahap kedua untuk kalangan lanjut usia dan pelayan publik di DIY masih berjalan. Hingga Jumat (19/3/2021), total penerima vaksin telah mencapai 97.583 jiwa.
Sejumlah sapi yang ada di pasar hewan terpadu di Kecamatan Pengasih, beberapa waktu lalu. Kehadiran pasar hewan terpadu ini harapannya bisa mendorong para peternak lebih peka terhadap pergerakan harga ternak di pasaran.Harian Jogja-Uli Febriarni
Harianjogja.com, WATES--Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kulonprogo akan menerjunkan tiga tim pemantau hewan ternak guna mengantisipasi adanya hewan kurban berpenyakit, terutama yang disuplai dari Kabupaten Gunungkidul.
Tim ini terdiri jajaran Bidang Kesehatan Hewan DPP dan UPT Pos Kesehatan Hewan. Mereka mulai bertugas selama dua minggu hingga Hari Raya Idul Adha 2019 dengan menyasar seluruh pasar hewan di 12 kecamatan di Kulonprogo.
Kepala Bidang Kesehatan Hewan DPP Kulonprogo, Drajat Wibowo mengatakan tim akan memantau dan memperiksa hewan ternak yang diperjualbelikan di sejumlah pasar hewan. Dokumen kelengkapan bakal diperiksa begitupun dengan kesehatan hewan ternak.
Dalam proses pemantauan, tim tersebut akan lebih intens memeriksa hewan ternak yang disuplai dari Gunungkidul. Hal ini terkait penyakit antraks yang beberapa waktu lalu menyerang ternak asal kabupaten berjuluk Bumi Handayani itu. "Kita lebih intens [memeriksa hewan ternak asal Gunungkidul] dibandingkan ternak daerah lain," kata Drajat, Senin (24/6/2019).
Dia mengatakan hewan ternak khususnya sapi yang beredar di Kulonprogo paling banyak disuplai dari Gunungkidul. Posisi kedua ditempati Purworejo. Sedangkan untuk kambing dan domba kebanyakan berasal dari wilayah Magelang, Wonosobo dan Banjarnegara.
Drajat menjelaskan dalam proses pemeriksaan pihaknya melihat beberapa aspek. Di antaranya kelengkapan surat kesehatan hewan, tempat penampungan ternak sementara hingga perlakuan pengelola terhadap ternak.
"Apakah ada surat kesehatan hewannya atau tidak, kemudian dari aspek penanganan hewan kurban, apakah sudah sesuai dengan kesehatan hewan, artinya ternak sudah diberi perlakuan yang baik atau tidak, ini juga menyangkut tempat ternak tersebut," ujarnya.
Dia menjelaskan ternak yang sehat harus memenuhi sejumlah aspek, meliputi ketersediaan pakan, air minum hingga kelayakan kandang. Kalau ada kekurangan pihaknya akan memberi saran kepada pengelola penampungan hewan.
"Untuk kesehatan kalau umpamanya ada kita curigai [berpenyakit], kita tindak lanjuti dengan pemeriksaan laboratorium, untuk memastikan berbahaya tidaknya penyakit tersebut," ujarnya.
Penyakit yang biasa ditemui pada hewan kurban kata Drajat, salah satunya diare. Ini disebabkan karena hewan mengalami stres ketika proses perjalanan dari tempat asalnya ke lokasi penampungan. Pergantian pakan, juga menjadi salah satu faktornya.
Selain diare, penyakit pink eye, semacam mata merah pada hewan ternak juga sering ditemui. Penyakit ini biasa menyerang kambing dan domba. "Ada juga kasus di mana kambing kalau ditempatkan berdekatan saling bertarung. Itu pernah ada yang sampai tanduknya patah. Nah ini perlu diantisipasi," ucapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Vaksinasi Covid-19 tahap kedua untuk kalangan lanjut usia dan pelayan publik di DIY masih berjalan. Hingga Jumat (19/3/2021), total penerima vaksin telah mencapai 97.583 jiwa.
BPBD Bantul siapkan Rp20 juta untuk antisipasi El Nino. Potensi kekeringan dan kebakaran mulai dipetakan sejak dini.
Prabowo kunjungi Museum Marsinah Nganjuk, soroti sejarah buruh Indonesia dan perjuangan hak pekerja serta penghormatan pahlawan nasional.
BNNP DIY perkuat pencegahan narkoba dengan kearifan lokal dan sinergi masyarakat untuk wujudkan Yogyakarta bersih narkoba.
Kompetisi 76 Indonesian Downhill 2026 hadir lebih ekstrem di Bantul. Trek baru lebih curam, cepat, dan menantang rider elite.
Wisata Gunungkidul ramai 41.969 pengunjung saat libur panjang. PAD tembus Rp516 juta, pantai masih jadi favorit wisatawan.