Jadi yang Terpanjang di Indonesia, Jalan Bawah Tanah Bandara Kulonprogo Sudah 60% Digarap

Jalu Rahman Dewantara
Jalu Rahman Dewantara Rabu, 10 Juli 2019 17:42 WIB
Jadi yang Terpanjang di Indonesia, Jalan Bawah Tanah Bandara Kulonprogo Sudah 60% Digarap

Underpaas di kawasan Yogyakarta Internasional Airport (YIA), Kecamatan Temon, Kulonprogo, Selasa (9/7/2019)./Harian Jogja-Jalu Rahman Dewantara

Harianjogja.com, KULONOPROGO—Pembangunan jalan bawah tanah (underpass) yang melintasi Bandara Internasional Yogyakarta atau Yogyakarta International Airport (YIA), Kecamatan Temon, Kulonprogo, terus dikebut. Hingga saat ini progres proyek yang diklaim Kementerian PUPR sebagai underpass terpanjang di Indonesia tersebut sudah lebih dari 60%.

"Untuk progres per hari ini [kemarin], kami sudah lewati angka 60 persen, target kami tetap di bulan Desember selesai," ujar Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Jembatan Provinsi DIY, Kementerian PUPR, Muhammad Sidik Hidayat, kepada awak media di kawasan proyek underpass sisi timur, Kecamatan Temon, Selasa (9/7/2019).

Berdasarkan papan keterangan di lokasi pembangunan underpass, PT Wijaya Karya (WIKA) yang ditunjuk sebagai pelaksana proyek, ditargetkan mampu menyelesaikan pekerjaannya sampai 6 Desember 2019. Pembangunan sendiri sudah dilakukan sejak 12 November 2018 dengan nilai kontrak sebesar Rp293 miliar.

Underpass ini rencananya memiliki panjang 1.400 meter, dengan rincian 1.095 meter jalan di bawah permukaan tanah dan sisanya jalur luar menuju Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS). Sementara untuk lebar underpass berkisar 16 meter dengan ketinggian 5,2 meter.

Sidik mengatakan panjang jalan yang sudah terbangun hingga saat ini mencapai 700 meter. Untuk mengejar target penyelesaian pada Desember, pihaknya menerjunkan 500-an pekerja. Pengerjaannya dilakukan simultan di kedua sisi underpass, yakni sisi barat dan timur.

Dijelaskannya, metode yang digunakan dalam pengerjaan jalan bawah tanah ini salah satunya menggunakan teknik dewatering. Teknisnya, pekerja menggali tanah di bawah permukaan air tanah, kemudian air akan dialirkan ke dalam lubang lalu dipompa ke tempat lain.

"Tantangan kami di sini itu, kami bekerja di bawah permukaan air tanah, jadi kami kondisikan dengan cara dewatering, yakni kami gali tanah sedikit di bawah permukaan air tanah, setelah air tanah terkumpul di situ kemudian kami pompa keluar," jelasnya.

Dia menyatakan underpaas ini cukup luas karena di samping memiliki empat lajur di kedua sisi jalan, pihaknya tidak membangun tiang maupun sekat permanen di tengah-tengah jalan. Nanti saat difungsikan, pembatas jalan akan menggunakan pembatas. "Empat lajur free tanpa kolom di tengah, jadi supaya lebih lapang dan lebih luas," ucapnya.

Di dalam underpaas juga akan dibangun empat titik kumpul dengan luas masing-masing 30 meter. Jarak antar titik kumpul itu kurang dari 300 meter. Fasilitas ini digunakan sebagai tempat berhenti bagi kendaraan yang mengalami masalah saat melintasi jalan bawah tanah tersebut. Di samping itu, bisa menjadi lokasi evakuasi saat keadaan darurat, semisal kebakaran.

Sidik mengatakan jika fisik underpass sudah jadi, pihaknya akan menggandeng seniman lokal untuk membuat relief sebagai penghias jalan bawah tanah ini. Potensi lokal seperti seni tradisional dan geblek renteng menjadi opsi tema relief. "Bisa nanti itu tari-tari tradisional atau geblek rentengnya Kulonprogo," ujarnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Budi Cahyana
Budi Cahyana Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online