Demo Besar di Eropa Meluas, Biaya Hidup hingga Perumahan Jadi Pemicu
Demonstrasi meluas di Eropa sejak September 2026. Krisis pendidikan, biaya hidup, perumahan, dan ketidakpuasan terhadap pemerintah memicu aksi di sejumlah negar
Warga Dusun Karangnongko, Desa Panggungharjo, Sewon, Bantul, membentangkan spanduk bernada protes saat mendatangi Kantor DLH Bantul, Senin (15/7/2019)./ Harian Jogja-Kiki Luqmanul Hakim
Harianjogja.com, BANTUL—Pemerintah Desa (Pemdes) Panggungharjo, Kecamatan Sewon menganggap limbah yang mencemari saluran irigasi milik warga Dusun Karangnongko, Desa Panggungharjo, berasal dari banyaksumber. Warga juga turut berkontribusi dalam pencemaran itu.
Kepala Desa Panggungharjo Wahyudi Anggoro Hadi membantah jika sumber limbah itu hanya dituduhkan pada pabrik yang berada di sekitar dusun tersebut. Menurut dia, pencemaran tersebut tidak disebabkan oleh satu pihak, namun warga juga turut berkontribusi dalam perusakan saluran irigasi tersebut.
“Pencemaran itu tidak disebabkan oleh satu pihak saja, sebenarnya para warga pun ikut merusak juga, kalau dugaan bahwa ada pabrik industri yang sengaja melakukan pencemaran itu masih belum benar,” ucap dia kepada Harian Jogja, akhir pekan lalu.
Dia mengatakan titik lain yang patut dicurigai sebagai sumber limbah tersebut adalah tempat usaha milik warga. “Setidaknya petugas DLH sudah mengecek ke tiga titik selain pabrik yang dituduhkan oleh warga. Ada dua titik yang dicek, yakni industri pengolahan kulit, sama di rumah potong ayam,” ucap Wahyudi.
Lagipula, imbuh dia, sekitar 8.000 rumah yang ada di desa itu sendiri masih ada di antaranya yang belum mempunyai instalasi pengolahan air limbah. “Ada beberapa yang masuk limbah sentral dan juga ada yang di komunal lalu ada juga beberapa rumah yang saluran pembuangan limbahnya langsung menuju ke saluran irigasi tersebut,” ujarnya.
Belum lagi ada juga pelaku industri milik warga sendiri seperti industri pabrik tahu dan tempe yang juga tidak memiliki saluran pembuangan limbah yang ideal. Akibatnya limbah tersebut juga turut berkontribusi dalam pencemaran saluran irigasi itu.
“Kejadian ini harusnya jadi introspeksi semua pihak, termasuk warga. Maka dari itu kami mengajak ayo kita jaga lingkungan dan jangan saling menyalahkan,” ucap Wahyudi.
Salah satu warga Dusun Karangnongko, Waljito mengatakan pencemaran tersebut sudah terjadi beberapa tahun terakhir. Air irigasi tersebut berubah warna menjadi putih dan menimbulkan bau yang tidak sedap.
“Karena itu kami melapor ke DLH Bantul. Kami berharap DLH Bantul segera menginvestigasi permasalahan ini. Sehingga secepatnya ada solusi,” katanya.
Dia mengatakan setelah ia telusuri ternyata hulu pencemaran air sungai itu berasal dari limbah pabrik tekstil yang berada di sekitar dusun tersebut. “Bukannya kami menuduh, makanya kami lapor ke DLH Bantul untuk membantu siapa sebenarnya yang melakukan pencemaran tersebut, biar diinvestigasi oleh DLH. Kami sudah minta Pemdes untuk menyelesaikan masalah ini tapi malah mereka angkat tangan,” ucap Waljito.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Demonstrasi meluas di Eropa sejak September 2026. Krisis pendidikan, biaya hidup, perumahan, dan ketidakpuasan terhadap pemerintah memicu aksi di sejumlah negar
KAI Daop 6 Yogyakarta membuka pemesanan tiket kereta keberangkatan 1 Desember 2026 melalui Access by KAI mulai 1 November.
Polri akan mendalami keluhan penggeledahan Ponpes Hamalatul Quran di Sukoharjo melalui mekanisme pengawasan internal, termasuk Propam.
Anggota DPRD Sleman Respati Agus Sasangka menindaklanjuti keluhan sampah di Pasar Cebongan dengan mengusulkan penggunaan insinerator dan optimalisasi mesin komp
Gowes Jogjaversitas 2026 di UII diikuti pimpinan PTS DIY dan Jateng untuk mempererat silaturahmi serta memperkuat sinergi antarkampus.
Anggota DPRD Kulon Progo Angga Pratama mendorong pembangunan dan pemeliharaan irigasi untuk menjaga produktivitas pertanian.