Kasus Bertambah, Cek Data Covid-19 di DIY 18 Maret
Kasus Covid-19 di DIY kembali melonjak. Pada Kamis (18/3/2021), gugus tugas setempat melaporkan penambahan kasus baru sebanyak 257.
Pembangunan terminal Bandara Internasional Yogyakarta di Kulonprogo, Sabtu (6/4/2019)./Harian Jogja-Budi Cahyana
Harianjogja.com, KULONPROGO—Burung di sekitar Bandara Internasional Yogyakarta atau Yogyakarta International Airport (YIA) berpotensi mengganggu aktivitas penerbangan. Namun, area sekitar bandara selama ini sudah menjadi tempat singgah bagi para burung jauh sebelum bandara tersebut berdiri.
Oleh karena itu, para pemangku kepentingan di dunia penerbangan perlu bijak dalam menyikapi keberadaan para burung ini. Jangan sampai demi kepentingan pembangunan, justru mengganggu kelestarian alam.
“Memang sebelum ada burung besi [pesawat] di sini [Kecamatan Temon] sudah jadi jalur migrasi bagi burung-burung, ada kuntul dan dara laut. Beberapa bahkan menjadi tempat singgah sementara, ada juga burung endemik seperti trinil yang memang sudah ada di sini sejak dulu,” kata Kepala Resort Konservasi Wilayah Kulonprogo, BKSDA DIY, Gunadi, beberapa waktu lalu.
Dia menjelaskan migrasi burung-burung ini terjadi pada Agustus-Oktober. Jumlahnya mencapai 5.000 ekor burung dari berbagai jenis. Selama tiga bulan, burung-burung tersebut akan menetap sementara di sekitar bandara, setelah itu kembali ke habitat awalnya. Namun, ada juga yang menetap hingga jangka waktu lama.
Dia menjelaskan alasan burung menjadikan wilayah sekitar bandara sebagai tempatnya singgah karena kawasan tersebut, banyak potensi pakan, mulai sisa udang dari area tambak serta ikan di sepanjang muara Sungai Bogowonto dan muara Sungai Serang.
Namun, seiring beroperasinya bandara, keberadaan burung-burung tersebut mulai berkurang. Habitatnya juga terganggu. Jika ini terus dibiarkan, bukan tidak mungkin sekitar bandara yang dulunya banyak ditemukan burung-burung jenis lain seperti trocokan, perkutut, koci, cucak jenggot, pelatuk bawang, dan srikatan bakal hilang.
Ketua Pokmawas Wanatirta Warsa Suwita mengatakan untuk mengantisipasi hal tersebut, belum lama ini Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Serayu Opak Progo melakukan survei lokasi calong kawasan penyangga habitat burung.
Survei tersebut lanjutnya dilakukan di timur dan barat bandara. Untuk wilayah barat, menyasar hutan mangrove Wanatirta, Desa Jangkaran, Kecamatan Temon. Hutan ini nantinya bakal menjadi rumah bagi para burung-burung endemik dan imigran.
Dari informasi yang ia peroleh, jika hutan mangrove yang dikelolanya dijadikan kawasan penyangga, maka luasan hutan akan ditambah. Adapun untuk saat ini luasan hutan mangrove sekitar mencapai tujuh hektare.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kasus Covid-19 di DIY kembali melonjak. Pada Kamis (18/3/2021), gugus tugas setempat melaporkan penambahan kasus baru sebanyak 257.
Polri menegaskan kesiapan operasional 166 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang akan diresmikan secara serentak oleh Presiden Prabowo Subianto.
Forum Anak Daerah (FAD) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sukses menggelar hari pertama dari rangkaian kegiatan "Temu Hati #17" di Ruang Nyi Ageng Serang
Dinkes Sleman ungkap keracunan Toragan akibat Salmonella dari makanan hajatan, seluruh pasien kini telah pulih.
Prabowo resmikan Museum Marsinah di Nganjuk, soroti keadilan sosial dan nilai Pancasila dalam kasus buruh Indonesia.
Gunungkidul perketat pengawasan hewan kurban 2026 dengan 120 petugas dan pemeriksaan SKKH di pasar hewan.