Pajak Kendaraan Jateng Nunggak Rp2,4 Triliun, Ini Datanya
Kepatuhan PKB di Jateng baru 54%. Dari 17 juta kendaraan, tunggakan pajak mencapai Rp2,4 triliun dan opsen Rp900 miliar.
Yomi Windriasni menunjukkan hasil inovasinya berupa sabun cuci bermerek Langis yang ia buat dari bahan baku jelantah, Minggu (29/12/2019)./Harian Jogja-Kiki Luqmanul Hakim
Harianjogja.com, BANTUL—Seorang ibu asal Jambidan, Kecamatan Banguntapan, Bantul berhasil menciptakan sabun cuci pakaian dari bahan minyak goreng bekas (jelantah).
Ditemui saat berada di Kampung Keluarga Berencana (KB) Mertosanan Kulon, Desa Potorono, Kecamatan Banguntapan, perempuan bernama lengkap Yomi Windriasni itu mengatakan jelantah selama ini dianggap tak bernilai ekonomis. Jelantah, kata dia, selama ini cuma dimanfaatkan untuk membuat bio diesel.
Akan tetapi di tangan perempuan yang juga aktif mengelola Bank Sampah Berdikari Sejahtera di Perumahan Graha Banguntapan, Somenggalan, Desa Jambidan itu jelantah bisa bernilai ekonomis dengan cara menyulapnya menjadi sabun cuci. “Kalau untuk bahan bio diesel, jelantah paling dihargai oleh pengepul antara Rp2.000 sampai Rp3.000 per liter. Kalau jadi sabun begini, harganya bisa lebih tinggi,” kata dia, Minggu (29/12/2019).
Yomi mengatakan inovasi mengubah jelantah jadi sabun cuci, kali pertama ia lakukan pada April lalu. Hal itu dilatarbelakangi banyaknya jelantah yang ada di bank sampah yang ia kelola. “Di bank sampah saya [jelantah] ada sekitar 30-50 liter,” ucap perempuan berusia 39 tahun itu.
Yomi menjelaskan proses pembuatan sabun dilakukan dengan menetralkan jelantah. Penetralan itu ia lakukan dengan merendam arang ke dalam minyak selama 24 jam. Kemudian minyak tersebut disaring dan dituan ke wadah lalu mencampurkan bubuk soda api.
“Takarannya untuk setiap 450 mililiter jelantah, soda apinya 200 milileter. Aduk sampai merata hingga kental dan bisa ditambah parfum sesuai selera. Campuran itu harus langsung dicetak karena jika lama dibiarkan akan membeku. Kami jamin produk ini aman,” kata dia.
Dari seliter jelantah dia bisa menghasilkan 14 sabun batang dengan berat 20 gram, sedangkan untuk mengubahnya jadi sabun padat, cairan tadi dibiarkan dalam suhu ruangan selama lebih kurang tiga hari.
“Setelah tiga hari sabun sudah jadi dan siap dipakai. Sabun yang baik warnanya putih, bersih dan padat. Sebaliknya sabun jelek ketika dipegang lembek, kotor dan warnanya kekuningan,” ucap Yomi.
Sabun yang ia beri merek Langis itu pun ia banderol dengan harga beragam sesuai jenisnya. Untuk batangan ia jual dngan harga Rp15.000 per batang. Sabun cair ia jual dengan harga Rp25.000 per 250 mililiter. “Setiap bulan saya mampu menjual 150-300 batang. Kalau untuk sabun cair bisa laku 30 botol dan mayoritas pemasaran secara online,” kata dia.
Camat Banguntapan Fauzan Mua\'rifin mengaspresiasi inovasi warganya tersebut. Pasalnya selain bisa mengurangi limbah, produk itu pun bisa menambah pendapatan masyarakat. "Karena Yomi tidak bekerja sendiri, namun dibantu tetangga sekitar dengan tetap hasil akhir kualitasnya di cek oleh Yomi," ucap dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kepatuhan PKB di Jateng baru 54%. Dari 17 juta kendaraan, tunggakan pajak mencapai Rp2,4 triliun dan opsen Rp900 miliar.
Adi Prayitno menilai PPP punya modal politik dari elektabilitas 3,4 persen untuk memperkuat mesin partai menuju Pemilu 2029.
Cristian Romero ditunjuk menjadi kapten baru Argentina setelah Lionel Messi pensiun dari sepak bola internasional.
Lowongan Mekanik Trans Jogja dibuka hingga 30 September 2026. Lulusan SMK dan fresh graduate bisa cek syarat serta cara daftarnya.
Roberto Mancini gagal membawa Italia menang dalam laga perdananya. Gli Azzurri kalah 0-2 dari Belgia di UEFA Nations League.
Debut Zinedine Zidane bersama Prancis berbuah kemenangan 1-0 atas Turki di UEFA Nations League berkat gol Kylian Mbappe.