Tahun Ini Angka Kematian Ibu di Bantul Masih Tinggi

Ilustrasi ibu hamil
29 Desember 2019 17:37 WIB Ujang Hasanudin Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL—Dinas Kesehatan (Dinkes) Bantul terus berupaya menekan angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) lantaran angkanya di Bumi Projotamansari masih tinggi. Sepanjang tahun ini, tercatat ada 13 ibu meninggal dunia karena melahirkan dan sebanyak 115 bayi meninggal setelah dilahirkan.

Berdasarkan data Dinkes Bantul, jumlah kematian bayi yang dilahirkan tahun ini lebih banyak ketimbang tahun lalu yang hanya 107 kasus, sedangkan kematian ibu melahirkan selama 2018 sebanyak 14 kasus. “Kami sudah berusaha untuk mengendalikannya [menekan angka kematian ibu dan bayi] tapi memang tidak mudah,” kata Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat, Dinas Kesehatan Bantul, Fauzan, Sabtu (28/12/2019).

Fauzan mengatakan ada sejumlah faktor yang menyebabkan kematian ibu melahirkan, seperti pendarahan, sakit jantung dan hipertensi. Menurut dia, faktornya tidak hanya dari medis, namun banyak faktor yang mempengaruhi seperti faktor sosial ibu yang belum siap hamil atau hamil muda, pengetahuan kehamilan yang kurang, hingga keterlambatan mendapat rujukan dan penanganan.

Dinkes Bantul, kata dia, sebenarnya sejak awal sudah berupaya melibatkan sejumlah pihak, baik dari internal dinas maupun di luar PemkabBantul.

Dari internal dinas ada tim monitoring angka kematian ibu yang terdiri dari semua pejabat struktural dokter, bidan, dan perawat. Selain itu juga telah terbentuk tim pendamping atau konsultan di masing-masing puskesmas.

“Pendamping tersebut memiliki kewajiban untuk membina dan mendamping kalau ada persoalan ibu dan anak di puskesmas. Tim akan melihat ke bawah apa yang harus diperbaiki bersama. Tenaga kesehatan ibu dan anak apakah sudah kompeten atau belum,” kata Fauzan.

Tak hanya itu, Dinkes juga mengajak dokter spesialis kandungan di beberapa rumah sakit menjadi konsultan di masing masing puskesmas. Dengan demikian tenaga medis di puskesmas bisa menanyakan langsung pada dokter spesialis yang sudah ditunjuk.

Lebih lanjut Fauzan mengatakan kematian bayi juga bukan hanya dari faktor medis namun juga faktor sosial. “Kami tak bosan-bosan menyosialisasikan soal kesehatan ibu dan bayi melalui program 1.000 hari pertama kehidupan (HPK), yakni mulai masa kehamilan dan pemberian ASI,” ucp dia.

Tidak hanya rumah sakit negeri, namun sejumlah rumah sakit swasta juga turut serta fokus menekan angka kematian ibu dan bayi, di antaranya dalah Rumah Sakit UII dan Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Bantul, bahkan RS PKU Muhammadiyah Bantul menjadikan unit pelayanan anak terpadu salah satu produk unggulannya.