Gunungkidul Tak Kebagian Kuota Transmigrasi 2026, Ini Penyebabnya
Gunungkidul dipastikan tidak memberangkatkan peserta transmigrasi pada 2026 karena minimnya kuota yang diterima DIY. Padahal, masih ada sekitar 30 kepala keluar
Tumpukan cabai di salah satu kios milik pedagang di Pasar Argosari, Wonosari, Rabu (13/2/2019)./Harian Jogja-Rahmat Jiwandono
Harianjogja.com, WONOSARI - Harga jual cabai rawit di pasar tradisional Gunungkidul masih tinggi. Komoditas ini sempat menyentuh Rp90.000 per kilogram (kg), tapi pada Senin (27/1/2020) mulai turun dan dipasarkan dengan harga Rp80.000 per kg.
Salah seorang pedagang di Pasar Argosari, Wonosari, Ani mengatakan, rawit merah menjadi komoditas cabai paling mahal. Hal ini terlihat dari harga di pasaran yang menembus angka Rp80.000 per kg. Sedangkan untuk jenis lain, seperti cabai keriting merah dijual Rp50.000 per kg dan cabai keriting hijau Rp20.000 per kg.
“Memang paling mahal cabai rawit merah. Untuk saat ini harganya sudah mulai turun karena sempat menyentuh Rp90.000, tapi penurunnya belum seberapa karena harga masih tetap tinggi,” katanya kepada wartawan, Senin (27/1/2020).
Menurut dia, harga jual cabai sering berubah-ubah sehingga membuat pedagang maupun pembeli khwatir karena tidak ada patokan harga yang pasti. Ani menuturkan, harga jual sangat dipengaruhi dengan stok komoditas di pasaran. “Perubahan itu bisa hitungan jam. Harapannya kalau bisa harga bisa stabil sehingga ada kepastian dan tidak ada yang merasa dirugikan,” ungkapnya.
Disinggung mengenai mulai turunnya harga cabai rawit, Ani mengaku tidak tahu secara pasti. Meski demikian, dari sisi stok komoditas ini memiliki stok yang berlebih dibandingkan ketersediaan di hari-hari sebelumnya. “Mungkin karena libur imlek sehingga tengkulak tidak mengirim ke Jakarta dan stok dijual di pasaran lokal. Akibatnya ada ketersediaan stok dan membuat harga turun,” katanya lagi.
Hal senada diungkapkan oleh Harno, salah seorang pedagang di Pasar Semin. Dia pun berharap fluktuasi bisa ditekan sehingga harga cabai bisa dipasarkan dengan stabil. Harga yang naik turun membuat pedagang tidak berani menyimpan stok dengan banyak karena takut kejatuhan harga. “Kalau harga turun, jelas pedagang rugi,” ungkapnya.
Kondisi yang sama juga akan dialami pada saat harga naik terus. Menurut Harno, selain berkurangnya jumlah pembeli, pendapatan yang diperoleh dari berjualan tidak mencukupi guna membeli stok cabai untuk dijual di pasar. “Uangnya kan diputar terus. Mudah-mudahan ada kestabilan sehingga ada kepastian harga cabai,” katanya.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Gunungkidul, Johan Eko Sudarto mengatakan, pemantauan di pasaran hanya komoditas cabai yang mengalami kenaikan. Khusus untuk cabai rawit idealnya di kisaran harga Rp45.000 per kilogram. “Kalau di atas harga itu sudah tinggi seperti sekarang ini,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Gunungkidul dipastikan tidak memberangkatkan peserta transmigrasi pada 2026 karena minimnya kuota yang diterima DIY. Padahal, masih ada sekitar 30 kepala keluar
Presiden AS Donald Trump menggelontorkan dana US$5 miliar atau sekitar Rp81 triliun untuk memperluas Genesis Mission, program AI nasional yang mempercepat penem
Presiden Prabowo meminta perguruan tinggi menyiapkan SDM dan riset untuk mendukung pengembangan B50, B60, dan etanol guna memperkuat ketahanan energi.
Pemkab Bantul menargetkan 27.500 dosis vaksin PMK tuntas pada 2026 untuk menekan penyebaran penyakit pada ternak di seluruh kapanewon.
SMPN 1 Turi menyediakan loker HP di setiap kelas. Kebijakan ini membuat siswa lebih fokus belajar dan aktif bersosialisasi saat istirahat.
Mendikti Saintek Brian Yuliarto menegaskan pembentukan Universitas Republik Indonesia tidak mengubah fungsi Kemendikti Saintek.