Prabowo Sebut Ada Penolakan B50 karena Kepentingan Impor BBM
Prabowo mengungkap ada pihak yang menolak B50 karena dinilai ingin Indonesia tetap impor BBM. B50 disebut hemat devisa hingga Rp170 triliun.
Ilustrasi virus Corona. /REUTERS-Dado Ruvic
Harianjogja.com, JOGJA -- Passive Antibody Therapy merupakan teknik yang pernah digunakan pada 1930-an. Caranya dengan mengumpulkan darah dari seorang yang telah pulih dari infeksi.
Kemudian memisahkan bagian darah yang mengandung antibodi. Selanjutnya disuntikkan kepada orang yang menderita infeksi. Hal tersebut dilakukan untuk membantu sistem kekebalan tubuh mereka melawan atau mencegah penyakit.
Dalam sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam The Journal of Clinical Investigation, para peneliti dari Sekolah Kesehatan Masyarakat Johns Hopkins, di Baltimore, dan dari Fakultas Kedokteran Albert Einstein, di New York, berpendapat bahwa teknik ini dapat berhasil digunakan untuk mengobati COVID-19.
Dalam penelitian tersebut dijelaskan bahwa Passive Antibody Therapy dapat membantu mencegah infeksi SARS-CoV-2, bahkan pada orang yang paling beresiko dan membantu mengobati infeksi yang ada.
Para peneliti menjelaskan bahwa pendekatan tersebut dapat dilakukan, dengan mengambil sampel darah dari individu yang telah pulih dari COVID-19.
Dokter dapat mengumpulkan sampel darah dari orang yang telah pulih, menyaringnya untuk antibodi penawar virus, mengisolasi serum dari sampel tersebut, kemudian membersihkannya dari partikel dan patogen beracun.
Antibodi ini, sebagaimana yang tertulis dalam penelitian tersebut dapat bekerja dengan berbagai cara, seperti:
1. Netralisasi virus, dimana antibodi menempel pada virus kemudian membunuhnya.
2. Sitotoksisitas seluler yang bergantung pada antibodi, di mana antibodi merangsang sel kekebalan khusus untuk menargetkan virus dan menyerang membrannya, pada akhirnya menyebabkan virus hancur.
3. Fagositosis seluler yang bergantung pada antibodi, di mana antibodi merangsang sel kekebalan khusus untuk menargetkan virus dan memakannya.
Sementara, para peneliti menjelaskan bahwa menggunakan Passive Antibody Therapy masih dalam batas kemampuan dokter, karena hanya membutuhkan alat dan teknologi yang tersedia.Arturo Casadevall, seorang ahli imunologi dan juga yang tergabung dalam penelitian mencatat bahwa "Passive Antibody Therapy lebih efektif bila digunakan untuk profilaksis [pencegahan] daripada untuk pengobatan penyakit," katanya.
Ia juga menambhakan bahwa metode ini paling efektif bila diberikan segera setelah timbulnya gejala. Dengan kata lain, dokter harus sangat efisien dalam mendiagnosis infeksi dan memberikan perawatan. .
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : medicalnewstoday.com
Prabowo mengungkap ada pihak yang menolak B50 karena dinilai ingin Indonesia tetap impor BBM. B50 disebut hemat devisa hingga Rp170 triliun.
Kepala BGN Sudaryono menegaskan Program Makan Bergizi Gratis dijalankan secara transparan tanpa rapat rahasia dan konflik kepentingan.
Danantara membuka pendaftaran Lenders Panel untuk pembiayaan proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik hingga 28 Juli 2026.
Dinsos Bantul memperkuat pengawasan dan pembinaan anak jalanan untuk mencegah eksploitasi anak di sejumlah titik rawan.
Pemerintah menyiapkan akses tol untuk Kawasan Industri Kendaraan Nasional di Subang guna mendukung manufaktur kendaraan listrik nasional.
BI dan pemerintah memperkuat GPIPS untuk mengendalikan inflasi pangan dan mengantisipasi dampak El Nino di berbagai wilayah Indonesia.