Kasus DBD di Bantul Turun Drastis, Dinkes Tetap Minta Warga Waspada

Kiki Luqman
Kiki Luqman Rabu, 08 Juli 2026 11:57 WIB
Kasus DBD di Bantul Turun Drastis, Dinkes Tetap Minta Warga Waspada

Nyamuk - Ilustrasi Freepik

Harianjogja.com, BANTUL—Kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kabupaten Bantul menunjukkan penurunan drastis sepanjang semester pertama 2026. Dinas Kesehatan (Dinkes) Bantul mencatat hanya 35 kasus hingga akhir Juni 2026, jauh menurun dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 476 kasus.

Kepala Bidang Penanggulangan Penyakit Dinkes Bantul, Samsu Aryanto, mengatakan tidak hanya jumlah kasus yang turun, tetapi juga tidak ada laporan kematian akibat DBD selama periode tersebut.

“Jumlah kasus DBD tahun 2026 sampai akhir Juni ada 35 kasus, dan nihil meninggal,” ujarnya, Rabu (8/7/2026).

Turun Drastis Dibanding Tahun Lalu

Penurunan kasus DBD di Bantul tergolong sangat signifikan. Pada Januari hingga Juni 2025, tercatat sebanyak 476 kasus, sehingga terjadi penurunan ratusan kasus dalam periode yang sama tahun ini.

Menurut Samsu, kondisi tersebut dipengaruhi beberapa faktor, mulai dari kondisi iklim hingga perubahan perilaku masyarakat.

Cuaca yang tidak mendukung berkembangnya nyamuk Aedes aegypti menjadi salah satu penyebab utama menurunnya kasus DBD.

Selain itu, kesadaran masyarakat untuk menerapkan pola hidup bersih dan sehat juga dinilai semakin meningkat. Hal ini didukung oleh gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) yang semakin masif dan melibatkan berbagai elemen masyarakat.

“Kondisi iklim serta meningkatnya kesadaran masyarakat dan gerakan PSN sangat berpengaruh terhadap penurunan kasus,” jelasnya.

Warga Diminta Tetap Waspada

Meski tren DBD menurun, Dinkes Bantul mengingatkan masyarakat untuk tidak lengah. Upaya pencegahan tetap perlu dilakukan secara rutin, salah satunya melalui gerakan 3M Plus.

Langkah tersebut meliputi menguras tempat penampungan air, menutup wadah air, serta mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk.

Dengan menjaga konsistensi upaya tersebut, diharapkan tren penurunan kasus DBD dapat terus dipertahankan.

Ancaman Penyakit di Musim Dingin

Di sisi lain, perubahan cuaca yang cenderung lebih dingin disertai angin dan debu justru meningkatkan risiko penyakit lain.

Samsu mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), influenza, hingga alergi akibat udara dingin.

Selain itu, kondisi berangin dan berdebu juga berpotensi memicu iritasi mata.

“Waspadai penyakit saat cuaca dingin seperti ISPA, influenza, dan alergi. Karena disertai angin dan debu, iritasi mata juga perlu diantisipasi,” ujarnya.

Jaga Imunitas dan Segera Periksa Jika Sakit

Untuk mengurangi risiko penyakit, masyarakat diimbau menjaga daya tahan tubuh dengan mengonsumsi makanan bergizi, cukup istirahat, serta memperbanyak minum air putih.

Penggunaan masker saat beraktivitas di luar ruangan juga dianjurkan, terutama ketika kondisi udara berdebu.

Selain itu, warga diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala seperti demam tinggi yang tidak kunjung turun, batuk, atau sesak napas.

Langkah ini penting agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat sekaligus mencegah komplikasi yang lebih serius.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Abdul Hamied Razak
Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online