Jadwal Tradisi Bulan Sura di Bantul 2026, Kirab hingga Nguras Enceh

Kiki Luqman
Kiki Luqman Minggu, 05 Juli 2026 10:57 WIB
Jadwal Tradisi Bulan Sura di Bantul 2026, Kirab hingga Nguras Enceh

Sejumlah abdi dalem mengisi air ke dalam enceh dalam upacara Nguras Enceh. /Harian Jogja-Lugas Subarkah.

Harianjogja.com, BANTUL— Memasuki Bulan Sura 2026, Kabupaten Bantul kembali menggelar berbagai tradisi budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun. Sejumlah agenda, mulai dari Kirab Budaya Ngarak Siwur, Upacara Nguras Enceh di kawasan Makam Raja-raja Mataram Imogiri, hingga Merti Dusun Mangir, disiapkan menjadi daya tarik wisata budaya sepanjang awal Juli.

Pemerintah Kabupaten Bantul melalui Dinas Pariwisata (Dispar) mengajak masyarakat dan wisatawan memanfaatkan momentum tersebut untuk menyaksikan langsung berbagai prosesi adat yang sarat nilai sejarah sekaligus menjadi bagian dari pelestarian budaya Yogyakarta.

Subkoordinator Kelompok Substansi Promosi Kepariwisataan Dispar Bantul, Markus Purnomo Adi, mengatakan Bulan Sura selalu menjadi momen penting bagi masyarakat di sejumlah wilayah Bantul untuk menyelenggarakan tradisi yang telah berlangsung selama ratusan tahun. Menurutnya, kegiatan tersebut juga menjadi daya tarik wisata budaya yang memperlihatkan kekayaan adat dan tradisi masyarakat setempat.

"Tradisi-tradisi di bulan Sura ini bukan sekadar atraksi budaya, tetapi juga merupakan warisan yang terus dijaga masyarakat. Selain memiliki nilai spiritual, kegiatan ini juga menjadi daya tarik wisata budaya yang khas di Bantul," katanya, Minggu (5/7).

Kirab Ngarak Siwur dan Upacara Nguras Enceh

Salah satu agenda utama adalah Kirab Budaya Ngarak Siwur Imogiri yang dijadwalkan berlangsung pada Selasa Wage, 6 Juli 2026, mulai pukul 13.00 WIB. Rombongan kirab akan bergerak dari halaman Kapanewon Imogiri menuju Terminal Pajimatan dengan membawa siwur atau gayung yang akan digunakan dalam prosesi Nguras Enceh pada hari berikutnya.

Sepanjang perjalanan, kirab akan dimeriahkan berbagai kelompok seni budaya. Rutenya juga melintasi kawasan yang memiliki keterkaitan sejarah dengan Keraton Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Ngayogyakarta sehingga menambah nilai historis kegiatan tersebut.

Selanjutnya, pada Jumat, 7 Juli 2026, masyarakat dapat menyaksikan Upacara Nguras Enceh di kompleks Makam Raja-raja Mataram Imogiri mulai pukul 14.00 WIB. Prosesi diawali doa bersama yang dipimpin para juru kunci makam, kemudian dilanjutkan pengurasan empat enceh atau tempayan peninggalan kerajaan, yaitu Nyai Danumurti, Kyai Danumaya, Kyai Mendung, dan Nyai Siyem.

Air dari keempat tempayan yang telah dibersihkan dipercaya memiliki nilai simbolis sehingga setiap tahun banyak pengunjung membawa pulang air tersebut setelah prosesi selesai.

Markus menuturkan Upacara Nguras Enceh selalu menarik perhatian masyarakat, baik dari Bantul maupun luar daerah. Selain menjadi tradisi budaya, prosesi tersebut juga menjadi bagian dari identitas kawasan wisata sejarah Makam Raja-raja Mataram Imogiri.

Merti Dusun Mangir Digelar hingga 11 Juli

Selain kegiatan di Imogiri, nuansa Bulan Sura juga terasa di Kalurahan Sendangsari, Kapanewon Pajangan, melalui penyelenggaraan Merti Dusun Mangir 2026 yang mengusung tema "Mangir Nyawiji Netepi Gegayuhan Leluhur". Rangkaian acara berlangsung pada 2–11 Juli 2026 dengan melibatkan masyarakat setempat dalam berbagai prosesi adat.

Kegiatan diawali dengan ziarah ke makam Ki Ageng Mangir pada 2 Juli, dilanjutkan Mendet Tirto Suci Tujuh Sumber pada 3 Juli. Selanjutnya, pada 6 Juli digelar Kirab Tirto Suci dan Jodhang, kemudian Umbul Doa serta Jamasan Selo Gilang.

Rangkaian acara berlanjut pada 8 Juli melalui prosesi Jamasan Nunggal Banyu dan pertunjukan Reog Gagak Rimang. Sementara itu, pada 10 Juli masyarakat dapat menikmati Gelar Potensi Seni Budaya sebelum seluruh rangkaian ditutup dengan Pagelaran Wayang Kulit pada 11 Juli 2026.

Menurut Markus, beragam tradisi Bulan Sura tersebut menunjukkan budaya masyarakat Bantul tetap hidup dan diwariskan dari generasi ke generasi. Ia berharap masyarakat tidak hanya menikmati kemeriahan acara, tetapi juga memahami nilai budaya yang terkandung dalam setiap prosesi.

"Melalui berbagai agenda budaya ini kami ingin mengajak masyarakat ikut nguri-uri kabudayan. Tradisi yang diwariskan leluhur harus terus dijaga karena menjadi identitas sekaligus kekuatan pariwisata budaya Bantul," ujarnya.

Dispar Bantul optimistis rangkaian tradisi Bulan Sura 2026 dapat menjadi alternatif wisata budaya sekaligus memperkuat citra Kabupaten Bantul sebagai daerah yang tetap menjaga dan melestarikan kekayaan adat serta tradisi masyarakatnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online