Gus Palsu Tipu Warga Boyolali Rp105,3 Juta, Uang Dipakai Judi Online
Residivis WAG alias Gus W menipu warga Boyolali Rp105,3 juta dengan modus ritual spiritual. Uang hasil kejahatan dipakai untuk judi online.
Foto ilustrasi. /Ist-Freepik
Harianjogja.com, BANTUL– Pasca ditetapkannya tiga orang positif Covid – 19 dari klaster Tabligh Jakarta, 46 orang warga sebuah dusun di Piyungan menjalani rapid diagnostic test [RDT] atau tes cepat di Puskesmas Piyungan, Sabtu (9/5/2020). Sayangnya, baru 20 orang saja yang bisa mengikuti tes di hari itu karena alat uji yang terbatas. Dari tes tersebut 6 orang dinyatakan reaktif berdasarkan hasil rapid test.
Ketua Gugus Tugas Penanganan Covid-19 wilayah setempat, Sulistiono mengatakan 46 orang itu merupakan orang yang diduga menjalin kontak fisik dengan pasien positif. Awalnya, ia mengajukan 300 warganya ikut dites. Pasalnya, salah satu pasien positif merupakan anak-anak yang menurutnya cukup aktif berinteraksi di lingkungan masyarakat.
Namun, pihak Puskesmas keberatan sebab prosedur tes cepat itu selektif. Tes cepat hanya diperuntukan kepada mereka yang pernah berkontak langsung dengan pasien positif. Untuk itu, pihak warga pun berdiskusi dengan pihak Puskesmas untuk menentukan siapa saja yang akan menjalani tes cepat.
“Akhirnya, kita diskusi, yang dimaksud dengan kontak fisik itu adalah bersentuhan, duduk bersama dalam satu ruangan, dan duduk bersama lebih dari 15 menit. Dari diskusi tersebut hasilnya ditentukan 46 orang,” katanya kepada Harian Jogja.
Meski begitu, Tio menyayangkan belum semua warganya menjalani tes cepat di hari yang sama. Baru 20 orang dari 46 orang yang dites. Alasannya, kata Tio, pihak Puskesmas terbatasnya alat uji. Ini seharusnya menjadi catatan karena warga butuh kepastian dengan segera. Apalagi jika melihat ada beberapa warganya yang panik saat mengetahui hasil tes cepat anggota keluarganya dinyatakan reaktif.
Belum bisa dipastikan kapan 26 orang lainnya akan menjalani tes cepat. Sebab, kata Tio, pihak Puskesmas baru melakukan pengajuan Senin (11/5/2020) mendatang. Itu pun baru tes cepat yang pertama. Sementara itu, idealnya, tes cepat dilakukan sebanyak dua kali dengan jarak waktu selama 14 hari.
Perlu diingat lagi bahwa rapid test atau tes cepat bukanlah cara untuk menentukan diagnosis Covid – 19. Tes cepat hanya untuk memastikan dugaan dari hasil tracing penyebaran. Juru Bicara Gugus Tugas Penanganan Covid – 19 Bantul, Sri Joko Wahyu Santoso mengatakan apabila hasil tes cepat menunjukan reaktif, maka itu perlu diuji lagi dengan tes swab.
“Tes cepat atau rapid test tidak dapat memastikan seseorang positif Covid-19,” katanya.
Selain Piyungan, tes cepat untuk 66 warga Banguntapan yang diduga pernah berkontak fisik dengan pasien positif dari klaster Tabligh Jakarta. Hasilnya, enam orang dinyatakan hasilnya reaktif.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Residivis WAG alias Gus W menipu warga Boyolali Rp105,3 juta dengan modus ritual spiritual. Uang hasil kejahatan dipakai untuk judi online.
Terlalu sering scroll media sosial dapat mengganggu konsentrasi, tidur, produktivitas, hingga kesehatan mental. Simak 13 dampaknya.
Peluang Gianni Infantino lengser dari kursi Presiden FIFA turun menjadi 21% setelah mendapat dukungan dari Donald Trump dan sejumlah federasi sepak bola.
Pemkab Manggarai Barat memastikan Labuan Bajo tetap aman dikunjungi pascagempa M 7,7 di NTT. Sebanyak 986 wisatawan berhasil dievakuasi dengan selamat.
Seruan boikot Spider-Man: Brand New Day muncul di sejumlah negara Arab akibat sikap politik produser Avi Arad yang dinilai mendukung Israel.
Andrea Dovizioso menilai Marc Marquez belum tampil segarang musim-musim sebelumnya karena masih beradaptasi usai cedera di MotoGP 2026.