Kehancuran Ekologi RI di Balik Transisi Energi Disuarakan di COP30
Nasib banyak Masyarakat Adat justru kian terancam oleh ambisi transisi energi global.
Foto ilustrasi. /Reuters
Harianjogja.com, JAKARTA--Jumlah warga DIY yang diduga meninggal dunia akibat Covid-19 disebut jauh lebih tinggi dibanding yang dilaporkan Pemda setempat.
Data kematian itu disampaikan oleh Koalisi Warga untuk LaporCovid-19 melalui siaran pers yang diterima Harianjogja.com, Senin (11/5/2020).
Koalisi Warga untuk LaporCovid-19 menyebut jumlah warga DIY yang meninggal dunia dan diduga akibat Covid-19 yakni sebanyak 92 orang hingga 9 Mei 2020.
Jumlah tersebut jauh lebih tinggi atau sebanyak 13 kali lipat bila dibandingkan dengan laporan Pemda DIY yakni hanya tujuh orang yang meninggal dunia.
Selama ini Pemda DIY hanya menghitung total warga yang meninggal karena Covid-19 berdasarkan hasil tes swab dengan metode PCR yang menyatakan positif Covid-19.
Sedangkan Koalisi Warga untuk LaporCovid-19 menghitung angka kematian mencapai 92 kasus yang diperoleh dari penjumlahan total orang dalam pemantauan (ODP) dan pasien dalam pengawasan (PDP) yang meninggal dunia.
Model perhitungan itu mengacu pada standar perhitungan yang ditetapkan oleh organisasi kesehatan dunia WHO.
"Pada tanggal 11 April 2020, Organisasi Kesehatan Dunia [WHO] sudah memutakhirkan panduan penghitungan korban meninggal karena Covid-19. Disebutkan, mereka yang dinyatakan sebagai korban Covid-19 yang sakit dengan gejala diduga atau yang terkonfirmasi Covid-19, hingga terbukti bahwa penyebab kematiannya tidak terkait Covid-19 [misalnya orang tersebut meninggal karena benturan]," kata Iqbal Elyazar, Epidemiolog dan Peneliti Eijkman-Oxford Clinical Research Unit, salah satu perwakilan Koalisi Warga untuk LaporCovid-19, melalui rilis, Senin (11/5/2020).
Namun demikian, pemerintah hanya mengumumkan korban Covid-19 di Indonesia dari yang sudah terkonfirmasi dari tes molekuler. Akibatnya, data kematian di Indonesia bisa dianggap sebagai underreporting atau tidak dilaporkan.

Menurutnya saat ini Indones memiliki keterbatasan dalam hal kapasitas pemeriksaan untuk mendeteksi Covid-19.
Data yang dianalisis kolaborator Laporcovid19.org yang juga saintis dari Eijkman Oxford Clinical Research Unit, menunjukkan orang yang diperiksa dengan pemeriksaan molekuler (PCR) rata-rata masih di bawah 5.000 orang per hari.
Padahal, pemeriksaan merupakan kunci penting untuk penanganan selanjutnya, terutama dalam penapisan atau memisahkan yang sakit dari yang sehat sehingga tidak memicu penularan baru. Selain itu, pemeriksaan yang cepat dan akurat juga akan mempercepat penanganan pasien.
"Keterbatasan dan keterlambatan tes ini menyebabkan banyak orang yang meninggal sebelum diperiksa atau sebelum keluar hasil tes molekulernya [PCR]," kata dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Nasib banyak Masyarakat Adat justru kian terancam oleh ambisi transisi energi global.
Persib Bandung semakin dekat dengan gelar juara Super League 2025/2026 usai menang dramatis 2-1 atas PSM Makassar di Parepare.
Simak jadwal terbaru KRL Jogja-Solo Senin 18 Mei 2026 dari Stasiun Yogyakarta sampai Palur. Tarif tetap Rp8.000 sekali jalan.
Cek jadwal terbaru KRL Solo-Jogja Senin 18 Mei 2026 lengkap dari Palur sampai Yogyakarta. Tarif tetap Rp8.000 sekali perjalanan.
Fabio Di Giannantonio menangi MotoGP Catalunya 2026 yang dua kali dihentikan akibat kecelakaan beruntun di Barcelona.
BMKG memprediksi hujan masih berpotensi terjadi di sejumlah wilayah DIY hingga 20 Mei 2026 akibat pengaruh fenomena MJO.