KAI Tambah 3 Kereta Tujuan Jakarta: Dari Jogja, Malang dan Semarang
KAI menambah 3 perjalanan KA menuju Jakarta dari Jogja, Malang, dan Semarang serta meningkatkan kapasitas KA Anggrek dan Gumarang.
Ketua MPW PP DIY Faried Jayen Soepardjan. /Ist-Dok.
Harianjogja.com, JOGJA-- Akhir-akhir ini sempat viral di lini masa anggota ormas Pemuda Pancasila (PP) yang meminta jatah Tunjangan Hari Raya (THR) kepada pengusaha di beberapa daerah di Indonesia.
Majelis Pimpinan Wilayah (MPW) PP DIY menegaskan tidak ada anggotanya yang melakukan aksi serupa. Jika ada masyarakat yang mengetahui pihak yang mengatasnamakan PP DIY meminta jatah serupa diimbau untuk melaporkan ke MPW maupun ke kepolisian.
Salah satu yang sempat viral terkait persoalan ini adalah beredarnya surat berkop salah satu Pimpinan Ranting PP di Sumatera Utara yang meminta jatah THR kepada salah satu toko sepatu. Hal serupa juga terjadi di Bekasi Jawa Barat.
Ketua MPW PP DIY Faried Jayen Soepardjan mengatakan jika ada masyarakat yang mengetahui praktik serupa yang mengatasnamakan PP DIY diimbau untuk segera melaporkan. Baik menyampaikan ke pengurus MPW PP DIY maupun langsung ke kepolisian. Tak hanya konteks THR, kata dia, jika ada anggotanya dengan mengatasnamakan ormas kemudian meminta jatah preman dalam suatu proyek infrastruktur harus segera dilaporkan, karena itu sudah masuk pungutan liar.
"Karena secara organisasi, tidak ada perintah untuk meminta dari MPW PP DIY, itu pungutan liar. Kalau ada yang mengetahui baik itu perseorangan mengatasnamakan organisasi kami minta segera laporkan ke polisi," katanya melalui ponselnya Minggu (17/5/2020).
Larangan soal meminta THR, kata dia, sudah disampaikan melalui Surat Edaran (SE) oleh Majelis Pimpinan Nasional PP dengan nomor 042.B1/MPN-PP/PP/V/2020 tertanggal 14 Mei 2020. Isi edaran itu memberikan peringatan keras kepada para kader PP di seluruh Indonesia agar tidak melakukan pemungutan liar dengan dalih meminta THR. Pihaknya sudah menyosialisasikan edaran tersebut ke seluruh pimpinan cabang dan ranting di DIY. Jika nekat melakukan maka ada konsekuensi tegas dari organisasi.
"Kami tidak main-main dengan edaran ini, semua kader harus menaati karena menyangkut citra organisasi," ucapnya.
Pihaknya tidak menempatkan masyarakat termasuk para pelaku usaha dan instansi pemerintah sebagai obyek. Tetapi lebih pada mitra yang tidak terpisahkan dalam konteks membangun dan menjaga kondusifitas wilayah DIY. "Kami membangun relasi sosial dengan masyarakat tidak menggunakan watak-watak preman," ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
KAI menambah 3 perjalanan KA menuju Jakarta dari Jogja, Malang, dan Semarang serta meningkatkan kapasitas KA Anggrek dan Gumarang.
Klasemen Super League 2026/2027 usai pekan pertama menempatkan Arema FC di puncak, Persib kedua dan Persija keenam.
Honda BeAT hingga Yamaha NMAX termasuk skutik bekas dengan pasar kuat. Simak kisaran harga dan cara menjaga nilai jualnya.
Huawei Mate XT2 resmi meluncur dengan chip Kirin 9050 Pro dan harga hingga Rp65,7 juta. Penjualan dimulai 12 September 2026.
Tren baju sekali pakai untuk liburan di China viral. Murah dan praktis, tetapi memicu kekhawatiran soal sampah tekstil.
IBI DIY memiliki 4.258 anggota. Pada HUT ke-75, bidan menegaskan komitmen memperkuat kesehatan ibu, bayi, dan generasi emas 2045.