Mendagri Tito Usul Kepala Daerah Dapat Insentif dari PAD
Mendagri Tito Karnavian mengusulkan kepala daerah mendapat insentif dari PAD jika berhasil meningkatkannya. Aturan masih perlu dikaji bersama.
Muntowil bersama sepeda ontel buatan Inggris miliknya, Selasa (16/6). Ia membelinya sekitar tahun 2000. Harganya waktu itu baru di kisaran Rp1,5 juta./Harian Jogja-Hery Setiawan.
Harianjogja.com, KULONPROGO—Fenomena gowes alias bersepeda kini populer di tengah pandemi Covid-19. Jamak ditemukan rombongan maupun kelompok kecil goweser mengisi ruas-ruas jalan.
Sayangnya, meninggalnya seorang goweser asal Bantul di sebuah tanjakan di Kulonprogo seperti menjadi pengingat bahwa bersepeda bukanlah soal euforia. Bersepeda merupakan aktivitas fisik yang memerlukan persiapan dan kepatuhan guna mengurangi potensi bahaya.
Muntowil, 46, seorang laki-laki yang lama dikenal sebagai dedengkot goweser dan kolektor sepeda ontel menyayangkan peristiwa tersebut. Di tengah meningkatnya minat masyarakat terhadap sepeda, menurut dia kesadaran akan keselamatan tak boleh diabaikan. Bersepeda, baginya bukanlah ajang untuk unjuk gigi atau kekuatan. Bersepeda butuh persiapan, baik dari segi fisik maupun kelengkapan sepeda itu sendiri.
“Jika memang lelah, seharusnya istirahat saja. Jangan memaksakan diri untuk terus bersepeda. Sebab, setiap sepeda punya karakter dan fungsi yang berbeda. Termasuk kita yang juga punya ketahanan fisik berbeda,” kata laki-laki yang akrab disapa Towil itu, Selasa (16/6/2020).
Laki-laki berambut gondrong itu mengatakan idealnya bersepeda harus dilakukan dengan perasaan rileks. Terlebih, bersepeda tak lagi menjadi aktivitas yang dilakoni oleh sedikit orang. Bersepeda sudah menjadi aktivitas sosial yang menyehatkan untuk tubuh.
"Fenomena gowes sekarang itu sebenarnya pertanda bagus. Selain menyehatkan, kita juga bisa bertemu dengan orang lain. Tapi tetap dengan mematuhi protokol kesehatan seperti menjaga jarak dan memakai masker," ujarnya saat ditemui di Towilfiets, Dusun Bantar Wetan, Kelurahan Banguncipto, Kapanewon Sentolo, Kulonprogo.
Selain itu, ia juga meminta agar pesepeda tidak egois, apalagi ketika sedang menggowes secara berkelompok. Pasalnya, jalan merupakan milik publik. Tidak baik apabila aktivitas bersepeda sampai memenuhi ruas jalan dan mengganggu aktivitas masyarakat lainnya.
Ia berharap gowes saat pandemi ini tak bernasib seperti fenomena sepeda fixie sebagai popularitas yang lekas sirna. Towil menyarankan kepada pemerintah untuk memberi dukungan berupa kebijakan yang mampu meningkatkan minat sekaligus melindungi aktivitas bersepeda.
“Kondisi jalan di Jogja itu sudah bagus buat bersepeda. Pemerintah hanya perlu mendukung minat masyarakat dengan membangun jalur khusus sepeda. Kalau di kota itu mungkin juga butuh rerimbunan. Biar bersepeda itu tidak terasa panas,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Mendagri Tito Karnavian mengusulkan kepala daerah mendapat insentif dari PAD jika berhasil meningkatkannya. Aturan masih perlu dikaji bersama.
Pemkot Semarang menginstruksikan OPD dan warga siaga penuh menghadapi kemarau ekstrem 2026 untuk mencegah kebakaran dan gangguan kesehatan.
Distribusi Minyakita melalui BUMN mencapai 50,16%, namun harga rata-rata nasional masih berada di atas HET Rp15.700 per liter.
PDIP Kota Yogyakarta menanam 300 pohon, menggelar simulasi bencana, dan pelayanan kesehatan lansia saat pelantikan pengurus.
Samsung Galaxy Watch Ultra2 hadir dengan fitur kesehatan berbasis AI untuk trail running, diving, dan pemantauan kebugaran harian.
Fenomena upwelling di Waduk Kedung Ombo Boyolali menyebabkan 10 ton ikan mati dan kerugian petani KJA mencapai Rp247 juta.