Alumni Santri Krapyak Perkuat Sinergi Ekonomi Lewat Ngobrol Bisnis
Kegiatan ini berangkat dari prinsip hayatul islam bil ilmi wa bil mal (hidupnya Islam itu dengan ilmu dan harta)
Ilustrasi Jembatan/JIBI
Harianjogja.com, BANTUL—Pemkab Bantul melanjutkan pembangunan lima jembatan yang rusak akibat Badai Cempaka 2017. Proyek yang dananya bersumber dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) itu sejatinya direncanakan pada 2018-2019, namun gagal lelang dan baru terlaksana tahun ini.
Deputi Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi BNPB, Rifai, mengatakan bantuan lima jembatan di Bantul senilai Rp65 miliar itu merupakan bagian dari pemulihan bencana siklon tropis Cempaka 2017. “Semoga dengan adanya jembatan ini dapat memberikan dampak pertumbuhan ekonomi masyarakat,” kata Rifai saat meninjau pembangunan Jembatan Kiringan, Canden, Jetis, Selasa (7/7/2020).
Sebelum meninjau proyek Jembatan Kiringan, Rifai bersama Bupati Bantul, Suharsono, dan sejumlah pejabat meninjau proyek Jembatan Gayam, Segoroyoso, Pleret dan Jembatan Kedungjati, Seloharjo, Imogiri. Ia mengatakan pemantauan tersebut sebagai bagian dari proses monitoring dan evaluasi sekaligus untuk memastikan bahwa proses pembangunan jembatan berjalan dengan baik dan sesuai dengan kontrak.
BNPB mengapresiasi progres pembangunan jembatan yang sejauh ini sesuai dengan target. Menurut dia, lima jembatan yang dibangun merupakan jembatan tipe kelas B yang biasanya dibangun di jalan kabupaten meski berada di jalan kelurahan atau desa. “Jembatan ini dibangun dengan konsep lebih baik, lebih aman dan lebih baik dari sebelumnya,” kata Rifai.
Dia mencontohkan Jembatan Kiringan, Canden, Jetis. Jembatan di Dusun Pelemadu, Desa Sriharjo, Imogiri, itu awalnya jembatan kecil yang hanya cukup dilalui sepeda motor. Kini, jembatan diganti dengan jembatan selebar tujuh meter dan panjang 84 meter dengan tiga bentang. Pembangunan jembatan tersebut dikerjakan oleh PT Telaga Pasir Kuta dengan anggaran Rp11,6 miliar dan ditargetkan selesai pada 20 September 2020.
Proyek Manajer PT Telaga Pasir Kuta, Junaedi, mengatakan progres pembangunan jembatan sudah mencapai 55%. Sejauh ini tidak ada kendala dalam proses pembangunan karena warga sekitar sangat mendukung. Jembatan itu didesain mampu menahan beban sampai 500 ton atau standar jembatan jalan kabupaten. Junaedi juga mengklaim jembatan itu aman dari banjir. “Posisinya lebih tinggi dari jalan,” kata Junaedi.
Ivan, salah seorang warga Pelemadu, Sriharjo, Imogiri, mengakui keberadaan jembatan itu sangat dibutuhkan untuk aktivitas warga terutama warga dua desa yakni Desa Canden dan Desa Sriharjo. Selama ini warga membangun jembatan sementara yang terbuat dari bambu, namun terkadang hanyut terbawa banjir. “Warga kalau mau ke Pasar Pundong harus melalui Barongan atau Pundong, memutar sampai lima kilometer,” ujar Ivan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kegiatan ini berangkat dari prinsip hayatul islam bil ilmi wa bil mal (hidupnya Islam itu dengan ilmu dan harta)
Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Perguruan Tinggi (PPKPT) UPN Veteran Yogyakarta mengungkapkan ada tujuh dosen yang diduga terlibat kasus kekerasan se
Turnamen padel internasional FIP Bronze di Jogja diserbu lebih dari 200 peserta dan dorong sport tourism DIY.
Jadwal bola malam ini 22–23 Mei 2026: Arema vs PSIM, final Jepang U-17 vs China, hingga laga Eropa.
Di tengah tantangan ekonomi dan perubahan tren fesyen modern, kelestarian kain wastra Nusantara justru menemukan napas baru lewat tangan-tangan kreatif
Debut Janice Tjen di Roland Garros langsung berat, menghadapi Emma Navarro di babak awal Grand Slam Paris.