Puluhan Mahasiswa UNJ Kunjungi Harian Jogja
Sebanyak 63 mahasiswa Universitas Negeri Jakarta (UNJ) bersama tiga dosen pendamping mengunjungi kantor Harian Jogja di Jalan AM Sangaji, Jogja, Kamis (21/5)
Ilustrasi. /Freepik
Harianjogja.com, BANTUL-Dua orang kakak beradik, warga Desa Wonokromo, Kecamatan Pleret, Bantul, masing-masing berinisial PES, 17 dan MREP, 15, divonis hukuman empat tahun penjara. Keduanya dinilai terbukti telah menganiaya Lukman Rahma Wijaya, 18, warga Dusun Kauman, Desa Pleret, Kecamatan Pleret, hingga meninggal dunia.
Penganiayaan yang berawal gara-gara uang Rp100.000 tersebut terjadi pada 8 Agustus lalu di kediaman terdakwa. Selain dua terdakwa, majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Bantul dalam sidang yang digelar secara daring pada Kamis pekan lalu tersebut memvonis tujuh terdakwa lainnya dengan vonis berbeda.
Vonis tersebut lebih tinggi dari tuntun jaksa yang menuntut sembilan dari 13 orang terdakwa dihukum 3,5 tahun dan 2,5 tahun penjara. “Sudah sesuai tuntutan Pasal 170 yang terbukti,” kata Afif Panjiwilogo, selaku Jaksa Penuntut Umum (JPU) dalam kasus tersebut saat dihubungi Senin (21/9/2020).
Dalam kasus penganiayaan yang mengakitabkan korban meninggal dunia tersebut, JPU menuntut terdakwa dengan Pasal 170 KUHP ayat 2 subsider Pasal 351 ayat 3 juncto Pasal 55. Selain dua terdakwa yang divonis empat tahun penjara, enam terdakwa lainnya divonis berbeda, yakni AF, 17, divonis 3,5 tahun. Sementara BAS, 15; BPS, 17; AWP, 16; dan PEA,14 divonis dua tahun penjara. Adapun AWF bebas karena dianggap tidak terbukti ikut melakukan penganiayaan.
“Sebenarnya Faiz [AWF] dalam rekontruksi perkara mengakui, tapi di fakta persidangan tidak terbukti,” ucap Afif. Dalam vonis tersebut pihaknya masih menunggu upaya hukum yang akan dilakukan terdakwa.
Sementara kuasa hukum terdakwa, Chrisna Harimurti mengatakan fakta persidangan menunjukan bahwa peristiwa penganiayaan yang dilakuakn secara bersama-sama itu tidak direncanakan karena bermula dari korban yang diduga mencuri yang akhirnya menyulut terdakwa melakukan penganiayaan.
Ia menganggap seharusnya yang lebih tepat adalah Pasal 351 KUHP. “Terus terang sedikit menyayangkan [vonis hakim] karena anak-anak sudah terbuka mengakui dan merasa bersalah, istilahnya hukuman harus lepas ya tidak, tapi anak-anak ini masih punya masa depan,” kata Chrisna.
Namun demikian Chrisna menilai secara umum putusan hakim sudah baik. Hanya sedikit catatan yang sebenarnya ada tindakan dari semua terdakwa yang tidak sama yang perlu menjadi pertimbangan. Catatan lainnya adalah empat terdakwa yang dewasa yang berkasnya belum dilimpahkan ke kejaskaan itu tidak dijadikan saksi satu orangpun dalam proses persidangan sembilan terdakwa anak.
Sebelumnya diberitakan korban Ilham Rahma Wijaya meregang nyawa setelah dianiaya di rumah terdakwa PES dan MREP pada Sabtu (8/8) dini hari. Penganiayaan itu bermula saat korban datang ke rumah PES untuk meminjam uang. Tidak lama terdakwa PES mengaku kehilangan uang Rp100.000 di dompetnya dan menuduh korban mencurinya.
Setelah didesak korban akhirnya mengaku hanya mengambil Rp50.000, kemudian terdakwa bersama teman-temannya mengeroyok korban. Sekitar pukul 04.26 korban tidak sadarkan diri setelah dianiaya dan dinyatakan meninggal dunia saat dibawa ke Rumah Sakit Nur Hidayah. Korban mengalami luka di bagian mulut dan kepala.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sebanyak 63 mahasiswa Universitas Negeri Jakarta (UNJ) bersama tiga dosen pendamping mengunjungi kantor Harian Jogja di Jalan AM Sangaji, Jogja, Kamis (21/5)
WhatsApp menghadirkan Meta Business Agent untuk bisnis Indonesia. Agen AI ini membantu melayani pelanggan 24 jam dan mempercepat respons hingga penjualan.
Jetty Muara Sungai Bogowonto di Kulonprogo rusak akibat gelombang tinggi. BBWSSO menyebut kerusakan sekitar 2 persen dan fungsi masih aman.
Ferran Torres dikabarkan pindah dari Barcelona ke PSG dengan nilai transfer 48,5 juta euro. Simak profil dan perjalanan kariernya.
Jadwal KRL Solo-Jogja Jumat 14 Agustus 2026 tersedia 12 perjalanan dari Palur ke Jogja. Tarif Commuter Line tetap Rp8.000.
DPRD Kota Jogja meminta penyaluran bansos beras tak hanya terpaku DTSEN agar warga yang baru jatuh miskin tidak terlewat.