Kemenhut Pastikan Penanganan Kebakaran TNBTS Berjalan Terpadu
“Untuk pemadaman sekarang, ada tiga helikopter yang sudah beroperasi untuk pemadaman titik api, terutama di kelerengan yang tidak bisa dijangkau oleh pasukan,"
Rohmad dan ibunya sedang memproduksi genteng kripik di rumahnya di Dusun Polosiyo, Desa Poncosari, Kecamatan Srandakan, Bantul, Selasa (15/12). /Harian Jogja-Ujang Hasanudin.
Harianjogja.com, BANTUL--Rohmad, 45, warga Dusun Polosiyo, Desa Poncosari, Kecamatan Srandakan, Bantul, masih mempertahankan bisnis kerajina genteng kripik. Meski sudah jarang yang memproduksi, namun kerajinan genteng tradisional itu masih tetap dia pertahankan sampai sekarang.
Rohmad merupakan generasi kedua, dia melanjutkan bisnis dari sang ayah, Wardi Utomo yang sudah membangun usaha genting kripik sejak 1965 lalu. Sudah lebih dari setengah abad usaha itu dijalankan semenjak dipegang oleh ayahnya.
BACA JUGA : Perajin Genting Godean Keluhkan Pemalsuan
Bersama ibu dan istrinya, Rohmad saling berbagi tugas untuk membuat genteng kripik. Rohmad bagian mencangkul tanah liat kemudian mencampurnya degan pasir sungai supaya tidak lengket. Setelah adonan siap kemudian ditumpuk dalam cetakan kayu dan dipotong berlapis-lapis. Lapisan dari potongan tanah liat ini yang menjadi cikal untuk diolah oleh Istri dan ibunya, menjadi genting keripik.
“Usaha ini tiap hari saya jalani mulai pagi hingga sore hari,” kata Rohmad, Rabu (16/12/2020).
Dalam sehari Rohmad menghasilkan 200-250 genteng. Hasil kerajinannya itu dia jual dengan harga Rp900 per biji, jauh lebih murah ketimbang genteng pres. Dia biasa menjual Rp900.000 per seribu genteng.
Rohmad mengklaim genteng kripik memiliki keunggulan meski ketinggalan zaman, di antaranya lebih murah, lebih ringan. Selain itu lebih kuat dan tahan air. Menurut dia sebagian besar pemesan genteng kripik di tempatnya untuk joglo dan rumah tradisional.
BACA JUGA : Beredar Kabar Covid-19 di UGM Tengah Genting, Begini
“Selama saya menggeluti bisnis genteng kripik ini belum ada pelanggan yang komplain,” ucap Rohmad.
Lebih lanjut Rohmad mengatakan saat tahun 1960-an lalu Dusun Polosiyo dan Gunturgeni di Poncosari merupakan pusatnya genteng kripik. Bahkan jumlah perajin cukup banyak, hampir setiap keluarga membuatnya. Namun seiring maraknya genteng pres, jumlah perajin semakin menyusut. Satu persatu menyerah, tinggal keluarga Rohmad yang masih menggelutinya.
Sejauh ini tidak ada kendala berarti bagi Rohmad dalam memproduksi genteng kripik. Hanya musim penghujan ini produksi menurun karena kesulitan menjemur.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
“Untuk pemadaman sekarang, ada tiga helikopter yang sudah beroperasi untuk pemadaman titik api, terutama di kelerengan yang tidak bisa dijangkau oleh pasukan,"
Pameran buku di Jogja semakin marak, tetapi penjualan belum tentu meningkat. Penyelenggara menyebut pengunjung terbagi dan daya beli menurun.
Kementerian PU membangun lapangan sepak bola standar internasional di 25 Sekolah Rakyat lengkap dengan jogging track dan fasilitas olahraga.
Pemkot Jogja diminta mencermati sungai dan bantaran rawan banjir serta memastikan talut dan sedimentasi ditangani sebelum musim hujan.
Polda Jateng melacak 88 anak dengan kelainan kaki bawaan CTEV untuk memastikan mendapat penanganan medis sesuai kebutuhannya.
Mengenal PM10 dan PM2.5 dalam abu vulkanik serta dampaknya bagi kesehatan pernapasan dan cara mengurangi risiko paparannya.