DLH Bantul Sulap Sampah Jadi Kerajinan, Buka Peluang Ekonomi Warga
DLH Bantul menggelar pelatihan daur ulang sampah di BCE 2026 untuk mengurangi sampah sekaligus membuka peluang ekonomi masyarakat.
Pembatik - Ilustrasi/JIBI
Harianjogja.com, BANTUL — Industri batik di wilayah Bantul, khususnya di Dusun Gunting, menghadapi tantangan serius terkait regenerasi perajin. Minimnya minat generasi muda untuk menekuni seni membatik membuat keberlangsungan tradisi ini mulai terhambat.
Hal tersebut disampaikan oleh Tumilan, pemilik Batik Nayantaka yang juga menjabat sebagai Dukuh Gunting. Ia mengungkapkan bahwa saat ini mayoritas perajin batik di wilayahnya didominasi kalangan usia lanjut.
“Masalah regenerasi ini yang sekarang rodanya tersendat, tersendat sekali. Untuk generasi batik, banyak yang sepuh-sepuh saat ini. 90 persen ya sudah berusia, yang remaja-remaja sudah tidak ada sama sekali,” ujarnya, Selasa (21/4/2026).
Menurutnya, keterampilan membatik sebenarnya tidak sulit dipelajari selama ada kemauan dan ketekunan. Namun, kurangnya ketertarikan generasi muda menjadi kendala utama dalam menjaga kesinambungan tradisi tersebut.
“Ya kita senang dulu, terus berlatih. Membatik itu bisa dipelajari, yang penting telaten,” tambahnya.
Sebagai upaya mengatasi persoalan tersebut, pihaknya mulai mengembangkan pendekatan edukatif melalui program kunjungan belajar atau field trip. Kegiatan ini menyasar pelajar, khususnya siswa sekolah dasar, agar lebih mengenal batik sejak usia dini.
“Sekarang kita buat area untuk field trip, kegiatan edukasi anak-anak biar senang. Mayoritas anak SD yang datang untuk belajar batik,” jelas Tumilan.
Dari sisi produksi, usaha batik di Dusun Gunting masih tergolong stabil. Di Batik Nayantaka, produksi batik tulis mampu mencapai sekitar 300 lembar per bulan. Selain itu, produk kombinasi batik cap dan tulis juga turut menopang jumlah produksi.
Harga produk yang ditawarkan pun bervariasi, mulai dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah, tergantung pada bahan, tingkat kerumitan motif, serta proses pengerjaan.
“Wah harga variatif, dari 100 ribuan sampai jutaan ada. Tergantung bahan, tingkat kesulitan motif, sama prosesnya,” ujarnya.
Meski dihadapkan pada persaingan dengan batik printing, Tumilan tetap optimistis. Ia menilai batik tulis memiliki pasar tersendiri yang tidak tergantikan.
“Batik printing sama batik tulis itu segmennya beda. Batik tulis punya pasar khusus, jadi masih ada peluang,” katanya.
Saat ini, usaha batik di Dusun Gunting mampu melibatkan sekitar 40 hingga 60 warga dalam proses produksi, mulai dari tahap pembuatan hingga finishing. Selain menjadi sumber penghasilan, industri ini juga berperan dalam pemberdayaan masyarakat setempat.
Namun demikian, Tumilan menegaskan bahwa keberlanjutan industri batik tidak hanya bergantung pada produksi, tetapi juga pada ketersediaan sumber daya manusia di masa depan.
“Ini kan usaha, tapi nilai plusnya kita bisa memberdayakan warga. Harapannya ke depan ada generasi muda yang mau melanjutkan,” pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
DLH Bantul menggelar pelatihan daur ulang sampah di BCE 2026 untuk mengurangi sampah sekaligus membuka peluang ekonomi masyarakat.
Tren Manhattan, Brooklyn, Queens, The Bronx, dan Staten Island versi Jogja viral di TikTok. Simak asal-usul lima borough New York dan pemetaannya di DIY.
India resmi mundur dari FIFA ASEAN Cup 2026 demi hadapi Brasil. Timnas Indonesia kehilangan lawan di Grup A. India terancam denda Rp439 juta dan cari dua laga u
PSG mengalahkan Aston Villa 2-1 dan menjadi klub ketiga dalam sejarah yang menjuarai Piala Super Eropa dua musim beruntun
Rekomendasi 8 HP flagship bekas terbaik 2026 dengan harga turun drastis. Dari Samsung Galaxy S23 Rp6 jutaan hingga iPhone 13 Pro Rp9,5 jutaan. Cek tips membelin
Xavi Hernandez resmi jadi pelatih Timnas Belanda dengan kontrak hingga Piala Dunia 2030. Ia sebut dirinya "anak sepak bola Belanda" dan ingin bawa filosofi meny