Kekeringan Meluas, BPBD Bantul Salurkan 436.500 Liter Air Bersih

Kiki Luqman
Kiki Luqman Selasa, 04 Agustus 2026 12:57 WIB
Kekeringan Meluas, BPBD Bantul Salurkan 436.500 Liter Air Bersih

Penyaluran Bantuan Air Bersih. /Harian Jogja-Desi Suryanto

Harianjogja.com, BANTUL—Krisis air bersih mulai dirasakan di sejumlah wilayah Kabupaten Bantul seiring meluasnya dampak musim kemarau. Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang terdampak kekeringan, Pemerintah Kabupaten Bantul melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bantul bersama berbagai pihak telah menyalurkan 436.500 liter air bersih hingga 3 Agustus 2026.

Distribusi air bersih tersebut telah berlangsung sejak 20 Juni 2026 sebagai bagian dari penanganan kekeringan yang telah ditetapkan dalam status siaga darurat. Penyaluran dilakukan secara bertahap ke wilayah-wilayah yang mengalami keterbatasan akses air bersih.

Kepala Bidang Kedaruratan, Logistik, dan Peralatan BPBD Bantul, Antoni Hutagaol, mengatakan penyaluran air bersih terus dilakukan karena dampak musim kemarau mulai dirasakan di sejumlah wilayah Kabupaten Bantul.

"Jadi krisis air bersih mulai dirasakan sejumlah wilayah Kabupaten Bantul seiring musim kemarau," kata Antoni, Selasa (4/7).

Menurut Antoni, distribusi air bersih tidak hanya mengandalkan armada milik BPBD Bantul, tetapi juga mendapat dukungan dari berbagai lembaga dan donasi masyarakat.

Dari total 87 tangki yang telah digunakan, BPBD Bantul mengerahkan 22 tangki, PMI 21 tangki, Tagana 13 tangki, BBWSSO satu tangki, sedangkan 30 tangki lainnya berasal dari donasi.

"Total distribusi air bersih telah mencapai 436.500 liter dengan jumlah armada yang digunakan sebanyak 87 tangki," ujarnya.

Menjangkau Enam Kapanewon dan 3.287 Warga

Bantuan air bersih tersebut telah menjangkau enam kapanewon, sembilan kalurahan, dan 14 dusun. Sebanyak 669 kepala keluarga atau 3.287 jiwa tercatat sebagai penerima manfaat distribusi air bersih.

Dlingo menjadi wilayah dengan distribusi air bersih terbanyak. Sebanyak 119.500 liter air disalurkan menggunakan 24 tangki untuk memenuhi kebutuhan 295 kepala keluarga dengan total 1.778 jiwa.

Pajangan berada di urutan berikutnya dengan distribusi 117.000 liter melalui 23 tangki. Sementara Pundong menerima 95.000 liter air bersih yang didistribusikan menggunakan 19 tangki.

"Kalau distribusi ke Imogiri mencapai 55.000 liter melalui 11 tangki. Data penerima di wilayah ini sebanyak 354 kepala keluarga atau 1.062 jiwa. Piyungan 45.000 liter menggunakan sembilan tangki, penerima 20 kepala keluarga atau 79 jiwa," katanya.

Sedayu menjadi wilayah dengan distribusi paling sedikit, yakni 5.000 liter yang diangkut menggunakan satu tangki untuk memenuhi kebutuhan warga yang mengalami kekurangan air bersih.

Distribusi Berdasarkan Kalurahan

Apabila dirinci berdasarkan kalurahan, Guwosari menjadi wilayah dengan distribusi tertinggi, yakni mencapai 115.000 liter air bersih.

Selanjutnya, Mulyodadi dan Seloharjo masing-masing memperoleh distribusi sebanyak 95.000 liter. Karangtalun menerima 55.000 liter, Sitimulyo 45.000 liter, Terong 19.500 liter, sedangkan Argomulyo dan Temuwuh masing-masing memperoleh 5.000 liter. Sementara itu, Trimulyo mendapatkan distribusi sebanyak 2.000 liter.

Antoni menegaskan distribusi air bersih dilakukan untuk membantu masyarakat yang mengalami kesulitan memperoleh air selama musim kemarau. Penanganan tersebut dilaksanakan melalui kolaborasi BPBD Bantul dengan berbagai lembaga serta dukungan masyarakat melalui donasi.

"Distribusi air bersih tersebut telah menjangkau enam kapanewon, sembilan kalurahan dan 14 dusun," ujarnya.

Tingkatkan Risiko Kebakaran Lahan

Selain berdampak terhadap ketersediaan air bersih, musim kemarau juga meningkatkan potensi kebakaran lahan di wilayah Bantul. Kondisi lahan yang mengering dinilai lebih rentan apabila terjadi percikan api yang kemudian menjalar ke kawasan vegetasi maupun lahan terbuka.

Karena itu, penanganan dampak kekeringan berjalan bersamaan dengan upaya meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran lahan. Pemerintah mengingatkan masyarakat untuk menjaga lingkungan serta segera melaporkan apabila menemukan kondisi yang berpotensi memicu kebakaran.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Andreas Yuda Pramono
Andreas Yuda Pramono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online