Perajin Genting Godean Keluhkan Pemalsuan

Perajin genting di Godean saat proses pembuatan Genting, Sabtu (23/3/2019). - Harian Jogja/Yogi Anugrah.
26 Maret 2019 18:57 WIB Yogi Anugrah Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN- Perajin genting Godean yang berada dalam Asosiasi Sembada Manunggal Sejahtera berharap perhatian pemerintah dalam menghadapi kendala, diantaranya sulitnya bahan baku, dan pendampingan serta perlindungan ditengah maraknya genteng palsu yang mengatasnamakan genting Godean.

Ketua II Asosiasi Sembada Manunggal Sejahtera, Suroto, mengatakan saat ini, para perajin genting terkendala dengan sulitnya mendapatkan bahan baku untuk pembuatan genting, pasalnya, banyak lahan yang dulunya digunakan sebagai bahan baku pembuatan genting digerogoti dengan banyaknya muncul perumahan.

“Saat ini, perajin banyak yang mengambil bahan baku di Kulonrpogo, dan dicampur dengan bahan baku dari Godean,” kata Suroto, Sabtu (23/3/2019).

Selain itu, ia mengatakan, belakangan ini, marak beredar genting dari luar Godean, yang mengatasnamakan genteng Godean, genting yang beredar tersebut, kata dia, meniru genting Godean namun dengan kualitas yang lebih rendah.

“Jadi pengepul yang mempunyai modal banyak, membeli genting dari luar Godean, seperti Magelang, dan dijual di Sleman. Harga genting disana, sekitar Rp700 sampai Rp800 per biji, saat dijual di Sleman mengatasnamakan Genting Godean, padahal kualitasnya rendah, sehingga merusak image genting Godean,” ucap Suroto

Kondisi tersebut, kata dia, membuat banyak perajin genting yang gulung tikar, sekarang, kata dia, hanya ada sekitar 600 hingga 700 perajin genting di Sleman, yakni di wilayah Sidorejo, Margodadi, Margoluwih, Sidoagung, dan Sidoluhur.

“Dulu ada sekitar 1.500 perajin, namun sudah banyak yang gulung tikar. Dulu, sebulan bisa terjual 60 sampai 70 genting perbulan, sekarang terjual 30.000 genting saja sudah syukur. Perajin yang sekarang juga banyak sambil bekerja lainnya, agar bisa bertahan,” ujar Suroto.

Ketua Asosiasi Sembada Manunggal Sejahtera, Sukiman, menambahkan, kondisi musim hujan juga mempersulit para perajin, pasalnya, kata dia, para perajin genting bergantung dengan cuaca. “Dalam proses pembuatan genting, mulai dari mencari bahan baku, melumatkan, hingga tahap penjemuran terganggu dengan kondisi hujan, karena pembuatan genting disini kan masih pakai cara tradisional,” kata Sukiman.