26,8% Puskesmas Belum Punya Dokter Gigi, FKG UGM Dorong Beasiswa
Sebanyak 26,8% puskesmas belum memiliki dokter gigi. FKG UGM mendorong beasiswa ikatan dinas bagi putra daerah untuk mengatasinya.
Foto ilustrasi pohon tumbang di tengah jalan. /ANTARA FOTO-Budi Candra Setya
Harianjogja.com, BANTUL - Prediksi cuaca ekstrem yang bakal muncul di sejumlah wilayah DIY termasuk Bantul membuat kesiapsiagaan dilakukan. Bantul andalkan posko BPBD Bantul dan Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) di wilayah untuk hadapi cuaca ekstrem.
Sekretaris Daerah Bantul, Helmi Jamharis menyampaikan kesiapsiagaan dini selama ini dilakukan melalui pemantauan yang tersentra di BPBD Bantul. "Kesiapsiagaan dini itu selama ini kita punya posko yang tersentra BPBD Bantul. Itu yang melakukan monitoring terhadap informasi-informasi yang diberikan kepada BMKG," terangnya pada Rabu (7/4/2021).
"Secara rutin BMKG itu kan memberikan informasi kondisi cuaca untuk periode tertentu, sentranya itu di BPBD. Kedua, di masing-masing Kalurahan disiagakan FPRB untuk selalu on call [bila terjadi bencana]," tambahnya.
Pekan lalu setidaknya 37 pohon tumbang di wilayah Bantul. Oleh karenanya Helmi menjelaskan bila Dinas Lingkungan Hidup (DLH) terus melakukan asesmen terhadap pohon-pohon yang rawan. "Kalau terhadap pohon-pohon tentu menjadi ranahnya DLH. Di antaranya untuk melakukan asesmen atau pemeriksaan terhadap pohon-pohon yang itu menjadi aset Pemkab," tandasnya.
Ditambahkan Helmi bila di wilayah Kapanewon hendak melakukan penebangan pohon yang rawan namun memiliki keterbatasan alat, diminta Helmi untuk melakukan komunikasi dengan DLH. "Kalau kapanewon memiliki rencana untuk mengurangi kerimbunan terhadap pohon-pohon yang rawan sementara fasilitas tidak dimiliki, dapat melakukan komunikasi dengan DLH," tegasnya.
Manajer Pusdalops BPBD Bantul, Aka Lukluk Firmansyah menjelaskan status siaga darurat bencana banjir dan longsor di Bantul telah ditetapkan sejak akhir tahun 2020. "Kalau berdasarkan statusnya, sudah ada payung hukumnya untuk kesiapsiagaan. Kemudian di Bantul sudah mengantisipasi dengan mendirikan 20 pos siaga darurat banjir dan longsor itu juga masih aktif statusnya," jelasnya.
"Lalu kami masih menjalin secara efektif untuk 75 Kalurahan se-Kabupaten Bantul ini juga sudah bergerak setiap saat. Jadi insyaallah untuk kesiapsiagaan di Kabupaten Bantul sudah jauh-jauh hari ketika musim hujan sebetulnya. Jadi sekarang kalau ada cuaca ekstrem kami rasa juga terkait perkembangan dinamika iklim dan cuaca," terangnya.
Pemantauan ketinggian air dan retakan tanah yang berpotensi longsor dilakukan terus menerus 24 jam oleh BPBD Bantul dan FPRB. Kendati telah melakukan sejumlah persiapan jauh-jauh hari, Aka meminta warga untuk aktif dan berpartispasi dalam upaya penanggulangan bencana.
"Harapannya masyarakat juga aktif melakukan kegiatan pengurangan risiko bencana, mewaspadai adanya potensi cuaca ekstrem. Kemudian secara aktif membagikan informasi yang akurat dan yang berasal dari sumber terpercaya," tegasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sebanyak 26,8% puskesmas belum memiliki dokter gigi. FKG UGM mendorong beasiswa ikatan dinas bagi putra daerah untuk mengatasinya.
Prabowo menyebut porsi hasil pengemudi ojol naik dari 80% menjadi 92%. Sejumlah pengemudi dilaporkan penghasilannya naik hingga 3 kali lipat.
Prabowo menargetkan 1.386 Kampung Nelayan Merah Putih beroperasi akhir 2026 dan pembangunan 1.582 kapal ikan modern dimulai pada 2027.
RPPLH DIY 2026-2056 disiapkan sebagai pedoman lingkungan 30 tahun. DPRD DIY meminta pembangunan ekonomi tak mengorbankan lingkungan.
Prabowo menargetkan swasembada daging sapi dan kerbau dalam 5 tahun. Danantara menggandeng JBS dengan investasi awal US$2,5 miliar.
Kekeringan Gunungkidul meluas. Sebanyak 83.757 jiwa di 71 kalurahan terdampak krisis air bersih dan bantuan mencapai 1.087 tangki.