Kasus Temuan 11 Bayi di Pakem Sleman, Polisi Periksa Bidan
Polresta Sleman masih melakukan analisa dan evaluasi terkait evakuasi 11 bayi dari rumah penitipan di Pakem, Sleman.
Ilustrasi kawasan hutan mangrove /Harian Jogja-Beny Prasetya
Harianjogja.com, BANTUL--Praktik penambangan pasir ilegal di muara Sungai Opak atau selatan kawasan hutan mangrove Baros Kalurahan Tirtohargo, Kretek membahayakan tanaman bakau tersebut. Dinas Lingkungan Hidup Bantul menilai aktivitas penambangan pasir dapat mengancam rusaknya kawasan konservasi mangrove beserta biota di dalamnya.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Ari Budi Nugroho begitu menyayangkan aktivitas penambang pasir ilegal yang dilakukan di sekitar hutan mangrove Baros. Dari kacamata lingkungan, tergerusnya cekungan pasir akibat penambangan akan membuat arus gelombang yang menghantam hutan mangrove Baros kian masif.
"Habitat mangrove kan di pertemuan air laut dan sungai, payau. Nanti kalau suwangan (cekungan) itu ditambang. Taruh lah kalau eksploitasinya besar, air laut bisa langsung masuk. Kalau langsung masuk tumbuhnya mangrove akan terganggu," jelas Ari.
Dijelaskan Ari, penanaman mangrove tumbuh baik di air yang tenang. Sementara aktivitas penambangan pasir justru memicu abrasi dan tingginya gelombang yang langsung masuk ke area hutan mangrove. "Nanti kalau abrasinya tinggi, kita menanam mangrove kemungkinan hidupnya menjadi sulit. Itu nanti akan menganggu ekosistemnya,".
BACA JUGA: Update Covid-19 DIY 20 April 2021
"Nanti kalau eksploirasinya besar, terus bisa membuka suwangan yang terhubung dengan laut, ini yang kekhawatiran kami mengganggu dari sisi kelangsungan hidup ekosistem mangrovenya. Ekosistem mangrove itu yang hidup tidak hanya mangrovenya, ada hewan air, burung kuntul, kepiting, dan lain-lain," tegasnya.
Bila tumbuh kembang tanaman mangrovenya saja terganggu, Ari mengatakan kehidupan makhluk hidup dalam kawasan mangrove berpotensi besar juga akan terganggu. "Jadi misalnya di situ sarangnya burung kuntul, itu nanti kalau habitatnya terganggu luasannya jadi berkurang, otomatis mereka akan terganggu [sarangnya]," tandasnya.
Padahal untuk menanam mangrove terbilang kompleks. Ari menerangkan, pasca ditanam kawasan mangrove ditutup dengan jaring agar sampah yang terbawa arus tak mengenai langsung bibit mangrove. Tetapi bila arusnya terlalu besar, menanam mangrove akan tetap sulit hidup. "Taruhlah sekarang luasannya satu hektar, tapi kalau enggak pernah ditambahi ya akhirnya enggak bisa berkembang. Memang mangrove perakarannya dalam, cuma nanti kalau tumbuh kembangnya terganggu juga susah," tuturnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Polresta Sleman masih melakukan analisa dan evaluasi terkait evakuasi 11 bayi dari rumah penitipan di Pakem, Sleman.
Warga Desa Narasaosina menyerahkan 57 senjata rakitan sisa konflik Adonara Timur kepada Polres Flores Timur demi menjaga perdamaian.
Program Beasiswa Santri Jateng 2026 masih dibuka hingga Juli. Pendaftar sudah mencapai 825 santri untuk studi dalam dan luar negeri.
Gunung Merapi kembali mengeluarkan awan panas guguran sejauh 2 kilometer pada Minggu malam. BPPTKG minta warga tetap waspada.
AHY memastikan penyesuaian tarif tiket pesawat dilakukan terukur di tengah kenaikan harga energi dunia akibat konflik Timur Tengah.
Mario Suryo Aji turun ke posisi 24 klasemen Moto2 2026 setelah absen di Catalunya akibat cedera. Manuel Gonzalez kukuh di puncak.