Panas Ekstrem Prancis: 2.025 Kematian dan Rumah Sakit Penuh
Gelombang panas ekstrem di Perancis tewaskan 2.025 orang dalam sepekan. Suhu 40°C, rumah sakit penuh, kamar mayat kewalahan. Krisis iklim semakin nyata.
Pelaku wisata di Dlingo menjalani vaksinasi, Rabu (28/7/2021). /Ist
Harianjogja.com, BANTUL - Lebih dari sepuluh pelaku wisata di wilayah Dlingo mengaku enggan mengikuti vaksinasi oleh Dinas Pariwisata DIY, Badan Otoritas Borobudur, Dinkes dan Pemkab Bantul yang dipusatkan di objek wisata Hutan Pinus, Mangunan, Dlingo, Bantul, Rabu (28/7). Berbagai alasan dikemukakan oleh mereka yang engan mengikuti vaksinasi.
“Ada yang beberapa takut setelah disuntik justru akan mati. Yang jelas, mereka kebanyakan nonton media sosial,” kata Ketua Koperasi Notowo, Purwo Harsono, Rabu (28/7/2021).
BACA JUGA : 90% Pasien Covid-19 di Bantul Jalani Isolasi Mandiri
Lebih lanjut Ipung-panggilan akrab Purwo Harsono, mengungkapkan, sejatinya para pelaku wisata di tempatnya sudah lama menantikan adanya vaksinasi. Sebab, vaksinasi dinilai penting bagi pelaku wisata, sebagai persiapan jika nantinya, keadaan kembali normal, kawasan wisata dapat kembali berjalan tanpa ketakutan.
“Kemarin memang sudah ada yang mengikuti vaksinasi di puskesmas. Utamanya, untuk yang lansia,” terang Ipung.
Direktur Utama Badan Otoritas Borobudur (BOB) Indah Juanita menyatakan menargetkan ada 500 pelaku wisata yang divaksin di objek wisata Hutan Pinus, Mangunan, Dlingo, Bantul. Sementara di waktu bersamaan, BOB juga menggelar vaksinasi untuk 500 pelaku wisata di objek wisata Ngingrong, Wonosari, Gunungkidul.
Indah menilai saat ini percepatan vaksinasi menjadi hal mutlak untuk membentuk kekebalan imunitas. Diharapkan dengan adanya vaksinasi, para pelaku wisata lebih percaya diri dan akan siap menerima kunjungan wisatawan serta memberikan rasa aman bagi pelaku dan wisatawan.
“Ini adalah upaya serius menuju herd immunity yang akan berdampak kepada bangkitnya perekonomian DIY utamanya di sektor wisata,” jelasnya.
Kepala Seksi Surveilans dan Imunisasi, Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit Menular, Dinkes Bantul Abednego Dani Nugroho mengatakan, hingga Selasa (27/7), dari 752.225 sasaran vaksin di Bantul, sudah 25,12 % atau 188.965 sasaran yang menerima dosis vaksin pertama. Sedangkan untuk vaksin kedua baru tercapai 10,70% atau 80.480 sasaran.
BACA JUGA : Sultan: Angkut Pasien Isoman Bergejala ke RS atau Selter, Jangan Tinggal di Rumah!
Sementara untuk tenaga kesehatan, sudah 7.752 sasaran atau 93,43 % tervaksin dosis pertama. Sedangkan dosis kedua, capaian baru 89,76% atau 7.447 sasaran. Untuk pelayan publik capaian dosis pertama mencapai 68.944 sasaran atau 110,48%, dosis kedua 37.828 sasaran atau 25,45%.
Untuk warga rentan dosis pertama telah tervaksin sebanyak 17.943 sasaran atau 14,58 %, dosis kedua tervaksin 1.260 sasaran atau 1,02 %. Lansia telah tervaksin tahap pertama 55.189 sasaran atau 44,99 % dan tervaksin dosis kedua sebanyak 31.214 atau 25,45%.
“Untuk vaksin remaja dari 72.145 sasaran, telah tervaksin 275 sasaran dosis pertama. Sedangkan yang sudah mendapatkan vaksin kedua baru 1 sasaran,” ucap Abed.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Gelombang panas ekstrem di Perancis tewaskan 2.025 orang dalam sepekan. Suhu 40°C, rumah sakit penuh, kamar mayat kewalahan. Krisis iklim semakin nyata.
Zulhas menegaskan pasar karbon nasional harus memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar hutan sekaligus menjaga kelestarian hutan Indonesia.
OJK menyebut scam digital mengancam kepercayaan publik. Hingga Juni 2026, IASC menerima lebih dari 608.000 laporan dengan Rp674 miliar berhasil diamankan.
Tim SAR Gabungan menemukan bocah yang terseret ombak di Pantai Gua Cemara dalam kondisi meninggal dunia di Pantai Bugel, sekitar 13 kilometer dari lokasi kejadi
Kemendikdasmen menyampaikan masukan kepada BGN untuk memperbaiki tata kelola Program Makan Bergizi Gratis, termasuk distribusi dan sasaran penerima.
Kemenaker menaikkan Program Magang Nasional Angkatan II menjadi 150.000 peserta pada 2026 dan memperluas akses bagi lulusan profesi dan penyandang disabilitas.