Sultan: Angkut Pasien Isoman Bergejala ke RS atau Selter, Jangan Tinggal di Rumah!

Gubernur DIY, Sri Sultan HB X,s aat ditemui wartawan di Kantor Gubernur DIY, Kamis (21/1/2021). - Harian Jogja/Lugas Subarkah
28 Juli 2021 12:57 WIB Ujang Hasanudin Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA-Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X meminta Satuan Tugas Khusus (Satgasus) Pemantau Pasien Isoman untuk mengangkut pasien yang menjalani isolasi mandiri (Isoman) dalam kondisi bergejala atau rumahnya tidak memenuhi untuk isoman ke selter atau rumah sakit.

Pernyataan tersebut menanggapi tingginya angka kematian pasien isoman. Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY, total jenazah yang dimakamkan dengan protokol kesehatan selama 1-25 Juli lalu sekitar 2.000an jenazah. Dari jumlah tersebut yang meninggal saat isoman ada 639 jenazah.

Sultan mengungkapkan kesedihannya banyak pasien meninggal saat isoman. Padahal Sultan sudah mengeluarkan Surat Keputusan (SK) Gubernur yang di dalamnya mengatur bagi pasien yang positif untuk menjalani isolasi di rumah sakit atau selter terutama bagi rumahnya yang tidak memenuhi syarat untuk isoman. Seperti dalam satu rumah hanya ada kamar mandi satu sehingga digunakan oleh yang positif maupun keluarga yang negatif sehingga rentan menular.

“Kalau tidak punya dua kamar mandi mestinya harus isolasi [di selter] yang kita sediakan. Kedua untuk obat, vitamin, makan dan sebagainya di tempat isolasi yang kita sediakan ditanggung Pemda, tapi maunya di rumah sendiri, sedangkan di rumah sendiri tak ada pengawasan. Fakta yang terjadi dibawa ke rumah sakit sudah dalam keadaan lebih parah. Akhirnya korban itu jadi besar,” kata Sultan di Kompleks Kepatihan, Rabu (28/7/2021).

Baca juga: Pemkot Kebut Target Kekebalan Komunal lewat Jogja Merdeka Vaksin

Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat ini berharap Satgasus Pemantauan Pasien Isoman untuk segera beroperasi mengawasi pasien-pasien Covid-19 yang menjalani isolasi mandiri. Satgasus nanti bertugas memetakan pasien isoman dan kondisi pasien

“Kalau diteliti positif [Covid-19 dan bergejala] dalam pertimbangan dokter [harus dibawa ke rumah sakit], angkut bawa ke rumah sakit. Kalau yang menengah [gejala sedang] angkut ke selter yang disediakan, jangan tinggal di rumah,” tegas Sultan.

Sultan menyatakan sudah membentuk Satgasus Pemantauan Isoman yang bekerjasama dengan fakultas kedokteran di perguruan tinggi. Saat ini sudah ada sekitar 100 relawan yang akan bertugas untuk memantau kondisi pasien isoman. Masing-masing tim nanti branggotakan 25 orang untuk memantau dan memverifikasi kondisi kesehatan pasien apakah masuk kategori gejala ringan, sedang, atau berat, “Sedang atau berat pokoknya harus diangkut, tidak boleh di rumah daripada tidak ada pengawasan. Itu yang akan kita lakukan,” kata Sultan.

Sekretaris Daerah (Sekda) DIY, Kadarmanta Baskara Aji menambahkan Satgasus Pemantauan Pasisn Isoman hampir sebagian besar adalah tenaga medis, mulai dari dokter sampai perawat yang fungsinya membantu puskesmas melakukan pengawasan pasien yang sedang menjalani isolasi mandiri. Tim tersebut di bawah komando Komdan Korem 072 Pamungkas.

“Tugas pokok dan fungsinya mendampingi puskesmas dalam rangka merawat pasien isoman,” kata Baskara Aji.

Lebih lanjut Baskara Aji mengatakan tidak semua pasien yang menjalani isoman nanti yang diminta untuk pindah ke rumah sakit atau selter yang disediakan karena memang kapasitas selter juga terbatas. Sementara total pasien yang menjalani isoman saat ini jumlahnya sekitar 26.000an.

Menurut dia, pasien yang diminta untuk pindah ke selter dan rumah sakit adalah pasien yang bergejala sedang dan berat dan pasien yang rumahnya tidak memungkinkan sebagai tempat isolasi, “Kita akan saring nanti, kalau rumah tak memenuhi syarat [sebagai tempat isolasi] dan pasien punya gejala [diminta pindah ke selter atau rumah sakit,” ucap Baskara Aji.