Hakim Batalkan Status Tersangka Raudi Akmal, Praperadilan Dikabulkan
Kuasa hukum Raudi Akmal menilai sejak awal tidak ada dua alat bukti yang cukup usai PN Sleman mengabulkan sebagian praperadilan.
Foto ilustrasi campak. - Antara
Harianjogja.com, SLEMAN—Dosen Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM), Rr. Ratni Indrawanti, menilai peningkatan kasus Campak perlu menjadi perhatian serius meski belum dapat dikategorikan sebagai darurat kesehatan.
Menurut Ratni, kondisi darurat kesehatan biasanya ditandai dengan lonjakan kasus yang sangat cepat dan meluas hingga menimbulkan dampak serius seperti kematian serta sulit dikendalikan tanpa respons besar dari pemerintah.
Ia menjelaskan meskipun jumlah kasus campak saat ini cukup tinggi, kondisi tersebut masih dapat dikendalikan apabila sistem kesehatan berjalan efektif.
“Dari 8.000 kasus ini memang situasinya serius dan harus ditangani secara serius. Namun selama kasus ini dapat ditangani dengan surveilans yang baik, penanganan kasus yang cepat, serta peningkatan cakupan vaksinasi, maka masih bisa dikendalikan dan tidak menimbulkan darurat kesehatan,” ujarnya, Minggu (8/3/2026).
Ratni menyebut salah satu faktor utama meningkatnya kasus campak adalah menurunnya cakupan vaksinasi di masyarakat. Penurunan tersebut bisa dipengaruhi berbagai faktor, seperti keterbatasan akses layanan kesehatan, jarak fasilitas kesehatan yang jauh, hingga berkurangnya kegiatan imunisasi di tingkat masyarakat.
Ia menegaskan campak tidak boleh dianggap sebagai penyakit ringan. Jika tidak ditangani dengan baik, penyakit ini dapat menimbulkan komplikasi serius seperti pneumonia atau radang paru-paru bahkan berujung pada kematian.
“Banyak masyarakat yang menyepelekan campak. Padahal jika tidak ditangani dengan baik, penyakit ini bisa menimbulkan komplikasi seperti pneumonia bahkan menyebabkan kematian,” katanya.
Ratni menekankan pentingnya pemberian imunisasi pada anak ketika berada dalam kondisi sehat. Penundaan vaksinasi dapat meningkatkan risiko penularan karena anak yang belum memiliki antibodi berpotensi menyebarkan virus kepada orang lain di sekitarnya.
Menurutnya, penularan campak sangat cepat karena virus dapat menyebar melalui udara atau droplet. Dalam kondisi tertentu, satu orang yang terinfeksi bahkan dapat menularkan virus kepada banyak orang.
“Satu anak yang terkena campak berpotensi menularkan virus tersebut kepada hingga 18 orang lainnya,” jelasnya.
Virus campak juga dapat bertahan di udara hingga sekitar dua jam, terutama di ruangan tertutup, sehingga meningkatkan risiko penularan bagi orang lain yang berada di lokasi tersebut.
Untuk mencegah penularan, Ratni mengingatkan masyarakat agar mengikuti jadwal imunisasi campak yang diberikan dalam beberapa tahap, yakni pada usia 9 bulan, 18 bulan, dan 5 tahun. Pengulangan vaksin diperlukan karena virus dalam vaksin memiliki kekuatan lebih lemah dibandingkan virus campak liar sehingga perlu diberikan beberapa kali agar kekebalan tubuh terbentuk secara optimal.
Ia juga menambahkan sebagian besar kasus campak di Indonesia ditemukan di wilayah dengan cakupan imunisasi yang rendah. Kondisi geografis Indonesia yang terdiri dari banyak pulau juga menjadi tantangan dalam distribusi vaksin serta penyebaran informasi kesehatan.
Jika tren penurunan imunisasi terus berlanjut, Ratni mengingatkan dampaknya bisa sangat serius bagi kesehatan masyarakat, mulai dari meningkatnya jumlah anak tanpa kekebalan hingga potensi terjadinya wabah.
Selain itu, campak juga dapat menimbulkan komplikasi jangka panjang seperti radang otak, kejang, dan pneumonia yang berpotensi menurunkan kualitas kesehatan generasi mendatang. Kelompok yang paling berisiko mengalami komplikasi berat adalah bayi, anak dengan gizi buruk, serta anak yang tidak mendapatkan vaksinasi.
Selain imunisasi, masyarakat juga diingatkan untuk menerapkan langkah pencegahan sederhana seperti menggunakan masker saat batuk dan pilek, mencuci tangan secara rutin, serta meningkatkan edukasi kesehatan.
“Kita harus bersama-sama sadar. Jika sedang batuk dan pilek sebaiknya menggunakan masker, mencuci tangan, mengingatkan anak untuk vaksin, menjaga daya tahan tubuh, serta memberikan edukasi yang benar kepada masyarakat,” ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kuasa hukum Raudi Akmal menilai sejak awal tidak ada dua alat bukti yang cukup usai PN Sleman mengabulkan sebagian praperadilan.
Jadwal SIM Keliling dan Samsat Malam SSA Bantul Agustus 2026 lengkap dengan syarat perpanjangan SIM serta layanan PKB tahunan.
Jadwal SIM Keliling Sleman Agustus 2026 lengkap di SCH, MPP, dan SIMMADE beserta syarat perpanjangan SIM A dan SIM C.
Jadwal SIM Keliling Jogja Agustus 2026 lengkap dengan lokasi, jam layanan, syarat perpanjangan SIM A dan C, serta biaya resmi.
Amazon untuk pertama kalinya menembus kapitalisasi pasar US$3 triliun setelah sahamnya melonjak berkat kinerja AWS dan optimisme bisnis AI.
Jadwal KA Prameks Jogja-Kutoarjo Selasa 4 Agustus 2026 lengkap dari Stasiun Tugu Yogyakarta dan Kutoarjo. Simak jam keberangkatan terbaru.