Ribuan Mahasiswa UII Turun ke Jalan, Ini 7 Tuntutan untuk Prabowo-Gibran
Lebih dari 1.000 mahasiswa UII menggelar aksi damai membawa tujuh tuntutan terkait pemerintahan Prabowo-Gibran. Kampus beri dispensasi kuliah.
Ilustrasi ketahanan pangan. Antara/Adeng Bustomi/wsj.\r\n
Harianjogja.com, SLEMAN—Pengembangan blue food atau pangan biru berbasis sumber daya perairan dinilai menjadi langkah strategis untuk memperkuat ketahanan pangan nasional di tengah ancaman krisis pangan dan alih fungsi lahan daratan. Kebutuhan protein nasional bahkan diproyeksikan meningkat hingga 67% pada 2050 seiring pertumbuhan populasi dunia.
Isu tersebut mengemuka dalam Seminar Nasional Tahunan XXIII Hasil Penelitian Perikanan dan Kelautan (SEMNASKAN-UGM XXIII) yang digelar Fakultas Pertanian UGM di Auditorium Harjono Danoesastro pada Sabtu (25/7/2026). Seminar mengusung tema "Blue Foods: Potensi dan Pengelolaan Berkelanjutan Sistem Pangan Biru Berbasis Perairan Lokal".
Dekan Fakultas Pertanian UGM, Prof. Jaka Widada, mengatakan ketahanan pangan di masa depan tidak hanya bertumpu pada sektor pertanian di daratan, tetapi juga harus memanfaatkan potensi sumber daya perairan yang dimiliki Indonesia.
Menurutnya, kekayaan sumber daya perairan perlu dikelola secara bijaksana, inovatif, dan berkelanjutan agar mampu menjawab tantangan kebutuhan pangan di masa mendatang.
"Kekayaan perairan juga harus dikelola secara bijaksana, inovatif, dan berkelanjutan. Di sinilah ilmu pengetahuan, teknologi, dan kolaborasi lintas sektor menjadi kunci untuk menghasilkan solusi yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat," kata Jaka Widada.
Direktur Pemasaran Direktorat Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Erwin Dwiyana, menambahkan transformasi sistem blue food menjadi kebutuhan mendesak seiring proyeksi pertumbuhan populasi dunia yang diperkirakan mencapai 9,66 miliar jiwa pada 2050.
Kondisi tersebut diproyeksikan berdampak pada peningkatan kebutuhan protein ikan hingga 67%. Di sisi lain, sistem pangan berbasis daratan juga menghadapi berbagai tantangan berupa keterbatasan lahan, perubahan iklim, degradasi lingkungan, hingga alih fungsi lahan pertanian.
Erwin menjelaskan pengembangan blue food harus didasarkan pada lima dimensi utama, yakni ketersediaan, keterjangkauan, pemenuhan gizi, mutu dan keamanan pangan, serta keberlanjutan. Kelima aspek tersebut dinilai penting untuk membangun sistem pangan yang tangguh dari hulu hingga hilir.
"Transformasi blue food harus diarahkan pada peningkatan produktivitas, pengembangan produk bernilai tambah, kolaborasi lintas sektor, serta pemanfaatan sumber daya secara berkelanjutan sebagai fondasi menuju Indonesia Emas 2045," terangnya.
Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengembangan Usaha, dan Kerja Sama UGM, Dr. Danang Sri Hadmoko, menyebut blue food memegang peran penting dalam mendukung program ketahanan pangan dan pemenuhan gizi masyarakat.
Menurut dia, sektor perairan menjadi sumber protein bagi lebih dari 280 juta penduduk Indonesia sehingga penguatan kampanye konsumsi ikan di tengah masyarakat perlu terus didorong.
Danang menilai masyarakat selama ini masih lebih akrab dengan sumber protein lain seperti daging dan telur dibandingkan ikan.
"Dukungan kebijakan, riset maupun teknologi, blue food nantinya benar-benar menjadi salah satu tulang punggung ekonomi kita," ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Lebih dari 1.000 mahasiswa UII menggelar aksi damai membawa tujuh tuntutan terkait pemerintahan Prabowo-Gibran. Kampus beri dispensasi kuliah.
Penembakan dekat Stadion Bragg Memorial di Florida menyebabkan sejumlah korban. Polisi menyelidiki insiden dan jumlah korban belum dipastikan.
Veda Pratama menghormati pembatalan Moto3 Australia 2026 akibat cuaca buruk meski telah meraih pole position di Phillip Island.
Lomba grafiti dan mural di Cangkringan menjadi wadah kreativitas pemuda Sleman sekaligus meningkatkan kesadaran mitigasi bencana Gunung Merapi.
Ribuan bibit sengon, kopi, kemukus, dan balsa disalurkan kepada kelompok tani di Samigaluh untuk menjaga hutan Menoreh dan ekonomi warga.
OJK mengingatkan risiko pembiayaan digital. Nilai paylater mencapai Rp13,61 triliun dan pinjaman daring Rp106,94 triliun pada Agustus 2026.