Kolam Koi 1,2 Hektare di Bantul Dikeluhkan Warga, Ini Masalahnya
Warga Vila Banguntapan Asri Bantul mengeluhkan kolam koi 1,2 hektare yang disebut membuat sumur kering dan air tercemar.
Diskusi daring yang digelar Harian Jogja dengan tema Pandemi Tak Kunjung Selesai, Kualitas Pendidikan Jangan Sampai Menurun, pada Rabu (11/8).
Harianjogja.com, JOGJA—Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) DIY menyebut pandemi Covid-19 yang tak kunjung terkendali membuat kualitas pendidikan di wilayah setempat menurun, karenanya kualitas pembelajaran harus ditingkatkan.
Penurunan itu tercermin dari perolehan nilai Asesmen Standarisasi Daerah (ASPD) murid SMP di sejumlah Kabupaten/Kota yang disebut menurun dibandingkan tahun lalu. Penurunan ini juga disinyalir akibat dampak dari diterapkannya pembelajaran jarak jauh (PJJ).
"Mutu pembelajaran itu memang harus ditingkatkan dan wajib menjadi fokus yang dibenahi. Kalau kami ukur dari nilai ASPD SMP yang akan mau ke SMA/SMK kemarin itu waktu PPDB disparitas dan penurunannya sangat terlihat. Kami ya harus akui bahwa PJJ ini outputnya memang kurang membanggakan," kata Wakil Kepala Disdikpora DIY, Suhirman dalam diskusi daring yang digelar Harian Jogja dengan tema Pandemi Tak Kunjung Selesai, Kualitas Pendidikan Jangan Sampai Menurun, pada Rabu (11/8).
Menurut Suhirman, kualitas pendidikan murid yang menurun dan kesenjangan yang begitu kentara itu disebabkan oleh minimnya pendampingan belajar di luar jam sekolah. Masih banyak murid yang tidak mendapat akses pembelajaran tambahan di luar jam sekolah. Sehingga menyebabkan nilai ASPD murid antar Kabupaten/Kota begitu timpang.
Nilai ASPD tertinggi pada tahun ini masih diraih oleh Kota Jogja dengan angka rata-rata 50,68 dari empat mata pelajaran yang diujikan. Kemudian disusul Sleman dengan nilai 47,35, Bantul 46,03; 43,04 untuk Kulonprogo, dan Gunungkidul 39,44. Jika dirata-ratakan, nilai ASPD murid seluruh DIY hanya mencapai angka 45.
Disdikpora DIY telah melakukan penyesuaian dan juga adaptasi dalam PJJ agar dapat diikuti secara optimal oleh para murid. Misalnya saja dengan mengoptimalkan aksesibilitas dengan memperhatikan aspek pendidikan yang meluas, merata, dan berkeadilan. Kemudian, pendampingan guru agar materi dan bahan ajar dibuat seoptimal mungkin di masa PJJ ini.
"Baik itu mutu perencanaan pembelajaran, mutu dalam penyampaian, dan evaluasi telah kami susun sedemikian rupa agar PJJ ini juga berdampak optimal bagi murid. Kami juga telah bantu 128 perangkat wifi dengan anggaran Rp5 miliar guna menguatkan aspek teknologi di sekolah demi menyukseskan PJJ ini," ungkapnya.
Anggota DPRD DIY, Sukron Muttaqien menyampaikan kendala PJJ di antaranya selain perangkat pendukung yang belum memadai dan tidak semua murid memiliki gawai, pemerataan jaringan Internet di wilayah DIY disebut dia juga belum terpenuhi secara optimal.
Siswa kelas XII MIPA 2/12 SMA Kolese De Britto Jogja, Fransiscus Bhaskara mengakui bahwa dirinya sempat kesulitan dalam PJJ di masa awal-awal pandemi. "Tak jarang pula terdapat kesalahpahaman antara murid dengan guru, guru dengan orang tua atau dengan sekolah. Namun seiring dengan berjalannya waktu murid mulai beradaptasi dan sekolah juga telah mulai menemukan sistem yang pas dalam penerapan PJJ," katanya. (Yosef Leon Pinsker)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Warga Vila Banguntapan Asri Bantul mengeluhkan kolam koi 1,2 hektare yang disebut membuat sumur kering dan air tercemar.
Ketentuan rujukan dan kontrol BPJS Kesehatan kini terintegrasi dengan layanan digital. Simak cara daftar antrean dan aturan jadwal kontrol.
Produksi kolagen kulit mulai turun sekitar 1% per tahun setelah usia 25 tahun. Dokter menjelaskan mekanisme dan risiko stimulasi kolagen.
Pemain Mataram Utama U-13 Firmansyah Purbo Wicaksono disanksi larangan bermain hingga Soeratin 2026 usai dan denda Rp10 juta.
Prabowo optimistis karhutla Kalimantan segera terkendali setelah pemerintah menambah helikopter, alat pemadam, pompa, dan personel.
Pemda DIY menyambut kepulangan Ahmad Raditya dan Anggita Ayu, Paskibraka Nasional wakil DIY yang bertugas pada HUT ke-81 RI.