Makna Podhang Ngisep Sari, Ikon Gunungkidul yang Berkibar saat HUT RI
Podhang Ngisep Sari ikut berkibar di berbagai ruas jalan Gunungkidul menjelang HUT RI ke-81. Simak sejarah dan makna ikon resmi daerah ini.
Foto ilustrasi pohon tumbang di tengah jalan. /ANTARA FOTO-Budi Candra Setya
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL– BPBD Gunungkidul mengimbau kepada masyarakat untuk mewaspadai potensi pohon tumbang di awal musim hujan. Langkah antisipasi bisa dilakukan dengan memotong dahan dan ranting yang telah rimbun maupun lapuk.
Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul, Edy Basuki mengatakan, di awal November wilayah Gunungkidul sudah mulai memasuki musim hujan. Meski baru awal, masyarakat diminta mewaspadai potensi bencana, salah satunya angin kencang yang dapat mengakibatkan pohon tumbang.
Menurut dia, peristiwa pohon tumbang sudah terjadi di Kalurahan Kenteng, Ponjong pada Senin (1/11/2021) dini hari. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini, namun batang pohon menimpa rumah sehingga mengakibatkan kerusakan.
“Total kerugian masih dihitung petugas di lapangan. Warga di sekitar lokasi juga sudah kerja bakti untuk memperbaiki kerusakan akibat tertimpa pohon tumbang,” kata Edy, Senin.
BACA JUGA: Terungkap! Pria Joker yang Menikam Belasan Orang di Kereta Tokyo Terinspirasi Hal Ini...
Dia mengungkapkan, potensi pohon tumbang akibat embusan angin kencang masih mungki terjadi. Untuk potensi ancaman tersebar merata di seluruh wilayah. Guna mengurangi risiko ini, masyarakat bisa melakukan antisipasi dengan membersihkan lingkungan sekitar rumah. Salah satunya dengan memotong atau memangkas dahan pohon yang telah lapuk atau rimbun.
“Kunci antisipasi adalah dengan mengenali bahayanya dan kurangi risikonya dengan melakukan tindakan nyata,” katanya.
EWS Longsor Rusak
Potensi bencana di musim hujan tidak hanya angin kencang, namun berdasarkan kajian dari BPBD Gunungkidul, longsor juga menjadi ancaman bagi warga yang tinggal di wilayah perbukitan. Potensi ini paling tinggi berada di sisi utara Gunungkidul seperti di Kapanewon Patuk, Gedangsari, Nglipar, Ngawen, Semin hingga Ponjong.
Edy mengungkapkan, untuk antisipasi longsor sudah terpasang 30 early warning sistem (EWS) atau alat peringatan dini bahaya longsor. Meski demikian, tak semua berfungsi dengan baik karena ada 20 EWS yang dinyatakan rusak.
“Ada sepuluh yang berfungsi dan lokasinya terpasang di wilayah perbukitan di sisi utara Gunungkidul,” katanya.
Menurut Edy, keberadan EWS hanya menjadi salah satu upaya penanggulangan. Pasalnya, untuk antisipasi masyarakat bisa mengenali kondisi di lingkungan sekitar. “Misalnya kalau hujan turun lebat dan dengan intensitas lama, warga yang tinggal di daerah rawan bisa mengungsi ke tempat yang lebih aman,” katanya.
Kepala Stasiun Klimatologi (Staklim) BMKG Yogyakarta, Reni Kraningtyas mengatakan, berdasarkan prakiraan cuaca, cuarah hujan yang turun diprediksi di atas normal. Oleh karenanya, masyarakat diminta mewaspadai potensi bencana sejak awal musim hujan ini.
“Potensi curah hujan lebih tinggi dibandingkan yang turun di tahun lalu,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Podhang Ngisep Sari ikut berkibar di berbagai ruas jalan Gunungkidul menjelang HUT RI ke-81. Simak sejarah dan makna ikon resmi daerah ini.
Jadwal DAMRI Bandara YIA lengkap dengan rute ke Sleman, Kota Jogja, Gamping, Condongcatur, dan tarif Rp80.000.
Jadwal KA Bandara YIA Jogja hari ini lengkap reguler dan Xpress. Cek jam berangkat agar tak ketinggalan pesawat.
Jadwal lengkap KA Prameks Jogja–Kutoarjo dan berdasarkan data resmi KAI Access.
Jadwal KRL Solo-Jogja tersedia 12 perjalanan dengan tarif Rp8.000. Cek jadwal lengkap tiap stasiun.
Jadwal KRL Jogja-Solo Senin 10 Agustus 2026 tersedia 15 perjalanan. Simak jam keberangkatan, stasiun tujuan, dan tarif Rp8.000.