Carik Bohol Resmi Dipecat usai Divonis Korupsi Dana Kalurahan
Carik Bohol Rongkop, Kelik Istanto, resmi dipecat usai divonis bersalah dalam kasus korupsi dana kalurahan 2022-2024.
Lokakarya Sistem Informasi Daerah tentang Pengembangan Sumber Daya Lokal Mendukung Gunungkidul sebagai Gudang Ternak yang diselenggarakan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) di aula Dinas Pertanian dan Pangan, Selasa (16/11). /Harian Jogja-David Kurniawan.
Harianjogja.com, WONOSARI – Dosen Fakultas Peternakan, UGM Tri Satya Mastuti Widi berharap sapi lokal harus terus dilestarikan sehingga keberadaannya tidak punah karena tergusur sapi impor. Hal ini disampaikan dalam lokakarya Sistem Informasi Daerah tentang Pengembangan Sumber Daya Lokal Mendukung Gunungkidul sebagai Gudang Ternak yang diselenggarakan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) di aula Dinas Pertanian dan Pangan, Selasa (16/11).
Menurut dia, pemahaman orang Jawa, ternak merupaka Raja Kaya. Selain sebagai tabungan, kepemilikian juga sebagai bentuk kebanggaan karena semakin banyak ternak maka tingkat kedudukan di masyarakat semakin tinggi.
Meski demikian, sambung dia, pada saat sekarang ada pergeseran jenis ternak yang dipelihara dari jenis lokal berganti dengan impor. Sebagai contoh, pemilik sapi jenis impor seperti simetal dan limosin dianggap memiliki derajat yang lebih tinggi.
“Kalau dulu ternak yang dipelihara [khususnya sapi] tidak begitu memperhatikan jenis, tapi dalam penelitian saya di 2009 lalu ada pergeseran karena yang ditonjolkan sapi jenis impor. Sedangkan yang lokal terkesan disembunyikan,” katanya dalam lokakarya, Rabu (16/11/2021).
Menurut dia, keberadaan sapi lokal harus dipertahankan sehingga tidak mengalami kepunahan. Pasalnya, saat jenis lokal sudah habis maka tidak bisa dikembalikan lagi.
“Di Negara-negara maju berlomba-lomba untuk mempertahankan jenis lokal, tapi kita malah lebih memilih jenis impor,” katanya.
Vitri, sapaan akrabnya mengungkapkan, sapi-sapi lokal memiliki keunggulan. Selain tidak rumit dalam pemeliharaan, sapi ini memiliki daya tahan tubuh yang lebih baik dan tingkat adaptasi lingkungan juga bagus. “Beda dengan sapi silangan impor yang harus mendapat perawatan lebih dan biaya operasional tinggi,” katanya.
Menurut dia, cara terbaik untuk melestarikan sapi lokal dengan memanfaatkannya dengan baik. Pasalnya, jika terbukti sapi lokal memiliki nilai manfaat yang tinggi, maka semangat untuk melestarikan juga tinggi.
“Untuk pasar juga besar karena kondisi impor sapi di Australia terganggung karena jumlah populasi yang berkurang karena bencana alam. Sedangkan untuk mendatangkan dari Amerika Latin biaya operasionalnya tinggi, sehingga ini menjadi peluang di dalam negeri untuk memenuhi kebutuhan daging nasioal,” katanya.
Kepala Bidang Peternakan, Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Suseno Budi mengatakan, potensi ternak sangat tinggi karena Gunungkidul menjadi gudang ternak di DIY. Untuk sapi terdata populasinya mencapai 153.000 ekor.
Dia menjelaskan, sejak 2015 lalu mengembangkan sapi peranakan ongole (PO) lokal Gunungkidul yang dikembangkan di Kapanewon Wonosari dan Playen. Pada awalnya ada 20 kelompok yang dibina dan sekarang berkembang menjadi 25 kelompok.
“Untuk sapi yang mendapatkan Surat Keterangan Layak Bibit ada sekitar 700 ekor untuk jenis PO lokal Gunungkidul,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Carik Bohol Rongkop, Kelik Istanto, resmi dipecat usai divonis bersalah dalam kasus korupsi dana kalurahan 2022-2024.
Pakar Forensika Digital UII menilai markas judi online internasional di Jakarta menjadi ancaman serius cybercrime bagi Indonesia.
Long weekend 14–17 Mei 2026 di Jogja dipenuhi agenda wisata, budaya, dan event menarik. Simak rekomendasi lengkapnya di sini.
Pemkab Bantul turunkan tarif pantai barat jadi Rp5.000 per destinasi mulai Juli 2026. Skema baru dinilai lebih adil bagi wisatawan.
Nadiem Makarim dituntut 18 tahun penjara dalam kasus korupsi Chromebook Rp2,18 triliun. Jaksa juga minta denda dan uang pengganti.
KID DIY fokus pada penguatan informasi kebencanaan hingga tingkat kelurahan. Sistem terpadu disiapkan untuk cegah simpang siur saat darurat.