Top 7 News Harianjogja.com Rabu 13 September 2023
Selamat pagi, semangat menjalani hari. Izin kirim kabar dari Bumi Mataram Ngayogyakarta Hadiningrat, heritage-nya Indonesia, rumahnya start up.
Suasana di Jalan Malioboro, Kota Jogja, Minggu (5/9/2021). /Harian Jogja-Gigih M. Hanafi
Harianjogja.com, JOGJA-Malioboro tengah menjadi bahasan hangat di kalangan masyarakat Jogja. Bagaimana tidak? Rencana pemindahan pedagang kaki lima (PKL) Malioboro yang sudah ketok palu, menuai pro dan kontra dari masyarakat Jogja itu sendiri.
Di satu sisi ada yang setuju karena demi citra Jalan Malioboro yang lebih teratur dan bersih. Namun di sisi lain ada yang menyebut identitas Malioboro menjadi hilang karena wajah-wajah para PKL yang selama ini menyapa hangat wisatawan sirna dari pandangan.
Pada hari ini, Rabu, 26 Januari 2022, Pemda DIY berencana memulai pemindahan ribuan PKL tersebut ke dua tempat yang telah disiapkan, yakni di eks Bioskop Indra dan di gedung bekas Dinas Pariwisata DIY.
Terlepas dari pro dan kontra pemindahan PKL itu, yuk kita mengulik beragam kenangan di Malioboro selama ini. Apa saja yang sudah kita temui selama ini?
Saat menyusuri Jalan Malioboro dari ujung Utara, deretan PKL penjual batik sudah mulai terlihat. Mereka menyusun barang dagangannya dengan rapi. Ada yang dihanger dan dihadapkan ke timur menghadap Jalan Malioboro, ada pula yang dilipat dan didisplay di atas meja.
Daster batik adalah salah satu jenis pakaian yang paling banyak dijual. Emak-emak pasti suka melihat modelnya, karena tidak hanya motif klasik, PKL Malioboro juga menjual daster modern. Dengan harga Rp25.000, Anda sudah bisa mendapatkan satu daster yang bagus kainnya dan adem di badan. Dipakai silir, begitu kata orang Jawa bilang.
Baca juga: PKL Malioboro Pindah 26 Januari, Ini Respons Pedagang
Pernahkah Anda menikmati jajanan pecel yang ada di depan pintu masuk Pasar Beringharjo bagian Barat? Nikmat bukan? Kembang turinya yang dikrawu sambal kacang dan sayur rebusan hijau bayam hingga kacang panjang, sangat menggugah seleran dan menambah kesegaran di siang hari.
Kenikmatannya semakin bertambah saat makan berhimpitan sembari duduk mendengarkan langkah kuda andong yang melintasi Jalan Malioboro. Wah, Jogja banget ya rasanya.
Selain batik, PKL di sepanjang Jalan Malioboro juga banyak yang menjual kaus. Harganya murah, bisa Rp100.000 dapat tiga atau bahkan empat jika pintar menawar. Kaus-kaus ini sangat cocok dijadikan oleh-oleh untuk keluarga. Meski murah, sangat layak dipakai. Adem di badan dan tentunya adem di dompet kan ya?
Uniknya, kaus ini punya tulisan-tulisan yang lucu dan menggelitik seputar Jogja yang bikin pembelinya baper dan ingin kembali ke Jogja. Misalnya "Jogja Never Ending Asiknya", "Hiii...Hiii...Hiii...Jelek ya? Biar Jelek yang Penting Udah ke Djogja gitu loh".
Nah, siapa yang pernah belanja sandal model pendekar di PKL Malioboro? Ada pula yang menyebutnya dengan sandal Wiro Sableng karena mirip sandal yang dipakai tokoh fiksi tersebut.
Modelnya bertali dan dililitkan mulai mata kaki hingga betis. Cocok dipakai jalan-jalan meski harganya murah.
Nah itulah yang bisa kita temui di sepanjang Jalan Malioboro. Masih banyak kenangan di tempat itu. Setiap sudutnya punya kisah manis tersendiri.
Semoga dengan pemindahan PKL di lokasi yang baru, tidak menyurutkan minat wisatawan untuk berkunjung ke Jogja ya...
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Selamat pagi, semangat menjalani hari. Izin kirim kabar dari Bumi Mataram Ngayogyakarta Hadiningrat, heritage-nya Indonesia, rumahnya start up.
Menkeu Purbaya memastikan pembiayaan MBG dan pengadaan alutsista tetap aman dengan defisit APBN dijaga di bawah 3 persen.
Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta kembali menggelar EduCareer Connect 2026 bertajuk “From Campus to Career: Connecting Education, Opportunities
Penataan sempadan Sungai Lowanu Jogja dipercepat untuk mencegah longsor sekaligus mendukung wisata kuliner yang aman.
Gempa Sukabumi Magnitudo 4,5 mengguncang Jawa Barat akibat aktivitas sesar aktif bawah laut, BMKG pastikan belum ada gempa susulan.
DPAD DIY mengakuisisi untuk mengelola arsip termasuk arsip pribadi, seniman, budayawan dan arsip-arsip yang menyimpan memori kolektif.