Lumbung Mataram Kalurahan Purwosari di Kulonprogo Mengoptimalkan Pertanian dan Peternakan Warga
Salah satu implementasi program Lumbung Mataram di Kulonprogo dilakukan Kalurahan Purwosari, Kapanewon Girimulyo
Dwi Ratna Nurhajarini (paling kiri) dalam acara Internalisasi dan Kompetisi Sejarah dan Budaya di Jogja, Rabu (22/6/2022).
Harianjogja.com, JOGJA—Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) DIY mengajak 55 peserta didik untuk menyelami sejarah dan budaya. Seluruh peserta didik berasal dari perwakilan DIY, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.
Para peserta didik berkunjung di empat objek berbeda, yaitu Kampung Batik di Bangkalan, Kampung Kemasan di Gresik, serta Kampung Pecinan dan Kampung Ampel di Surabaya. Bagi peserta dari DIY dan Jawa Tengah, kunjungan berlangsung secara virtual. Empat objek tersebut menjadi pilihan lantaran memiliki kekayaan nilai sejarah dan keragaman budaya dalam kehidupan masyarakat.
Sebelum melakukan kunjungan, peserta didik terlebih dahulu mengikuti kompetisi karya ilmiah berkaitan dengan nilai-nilai sejarah dan budaya yang ada di daerahnya. Dengan tema Merajut Akulturasi Lintas Etnis, Menelusuri Jalur Maritim, Pesisiran Jawa Timur, harapannya kegiatan ini bisa meningkatkan rasa menghargai pada keragaman dan pelestarian nilai-nilai sejarah budaya daerah.
BACA JUGA: Kelenteng Poncowinatan Berusia 141 Tahun, Ini Harapan Wagub DIY
Seluruh peserta yang terdiri dari peserta didik jenjang SMA/SMK berkunjung ke tempat-tempat tersebut pada 22-23 Juni 2022. Mereka merupakan utusan dari Dinas Kebudayaan daerah masing-masing.
Kepala BPNB DIY, Dwi Ratna Nurhajarini, menjelaskan apabila kunjungan ini berupaya membantu peserta didik untuk melihat dan memahami peninggalan sejarah serta warisan budaya tak benda. “Warisan sejarah dan budaya tak benda ini juga merupakan simpul-simpul perekat bangsa, jadi harus dipahami dan dimiliki mereka juga,” katanya, Rabu (22/6/2022).
Program ini juga memberikan ruang bagi peserta didik untuk berperan dalam memajukan kebudayaan melalui karya tulis ilmiah. “Supaya mereka juga memiliki pengalaman serta dapat pemikiran kritis dalam mengangkat isu pemajuan kebudayaan,” ujarnya.
BACA JUGA: Kenalkan Anak dan Remaja pada Wayang, Ini Cara Kreatif Pemkot Jogja
Pemahaman sejarah dan budaya yang komprehensif memungkinkan seseorang untuk lebih memahami perkembangan dunia saat ini. “Melalui sejarah dan budaya, tren kehidupan sosial di masa lalu dapat dipahami, sehingga bisa diperoleh prediksi yang masuk akal tentang apa yang akan terjadi di masa yang akan datang,” jelasnya.
Selain itu, sejarah dan budaya merupakan bagian terpenting identitas suatu bangsa. Lewat itu pula efek negatif dari globalisasi yang makin mengaburkan identitas bangsa dapat diantisipasi dengan pemahaman sejarah dan budaya sebagai jati diri. “Sehingga untuk menjaga keutuhan bangsa Indonesia diperlukan pemahaman sejarah dan budaya pada generasi mudanya” tuturnya.
BPNB DIY secara rutin menyelenggarakan kegiatan ini setiap tahunnya. Sebelumnya, kegiatan serupa bertajuk Jejak Tradisi Budaya dan Lawatan Sejarah Daerah. “Kami akan terus kembangkan program ini sebagai bentuk upaya pemajuan kebudayaan dan peningkatan pemahaman sejarah dan budaya generasi muda,” tandas Ratna.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Salah satu implementasi program Lumbung Mataram di Kulonprogo dilakukan Kalurahan Purwosari, Kapanewon Girimulyo
Jadwal terbaru KRL Jogja-Solo Jumat 15 Mei 2026 lengkap dari Yogyakarta hingga Palur. Tarif tetap Rp8.000 sekali perjalanan.
Polres Kudus mengamankan lima pemuda yang membawa senjata tajam saat menggeruduk kompleks perumahan di Kecamatan Bae.
KAI Commuter menambah 4 perjalanan KRL Jogja-Palur selama libur panjang Kenaikan Yesus Kristus 14–17 Mei 2026.
Pertemuan Donald Trump dan Xi Jinping di Beijing membahas Taiwan, AI, tarif dagang, hingga Selat Hormuz.
Semen Padang siap tampil maksimal melawan Persebaya Surabaya meski sudah dipastikan terdegradasi dari BRI Super League 2026.